Resensi Novel
Identitas Buku
Judul Buku :
Tulisan Sastra
Penulis Buku :
Tenderlova
Tebal Halaman :
345 hlm
Nama Penerbit :
LovRinz Publishing
Tahun Penerbitan :
2020
Sinopsis
“Yang pergi biarlah pergi, yang tinggal sudah seharusnya
dijaga. Kalau nggak ada yang abadi dalam bahagia, berarti nggak ada yang abadi
juga dalam sedih”. Kutipan singkat yang ada pada sampul buku sudah bisa sedikit
tertangkap bagaiamana isi dari cerita didalamnya.
Buku yang berjudul “Tulisan Sastra” menceritakan tentang
lika-liku kehidupan Andhika Sastra Gautama atau yang dipanggil Sastra, mulai
dari keluarga, impian sampai kisah asmaranya. Sastra, merupakan anak tengah
dari keluarga Suyadi. Sosok yang humoris namun tidak begitu suka dengan hujan.
Tinggal bersama mama dan saudara-saudaranya di dalam rumah sederhana yang
dibangun Bapak dan Mamanya, banyak memberikan pelajaran dalam hidup Sastra.
Sastra sangat mencintai keluarganya, namun dia juga begitu
mencintai musik dan Sahara, kekasihnya. Menggelar pertunjukan solo sebagai
seorang pianis dan disaksikan kelurga juga Sahara adalah salah satu impian
terbesarnya. Baginya, impian sama halnya dengan tangga nada. Keluarga adalah
garis paranada sedangkan Sahara melengkapinya dengan jajaran not balok untuk
menjadikannya lebih indah.
Sastra tidak hanya memiliki sifat humoris, dia juga sosok
yang romantis, namun terkadang bisa saja menjadi sosok yang tragis. Pasalnya,
sastra sangat mencintai Sahara dengan sepenuh hatinya dan menjadikan Sahara
sebagai sumber penyemangatnya. Akan tetapi tidak dengan Sahara, ia hanya
menjadikan Sastra sebagai tempat pelarian semata. Namun, seiring berjalannya
waktu, Sahara perlahan mulai mencintai Sastra meski setelah itu keadaan tidak
berpihak padanya.
Sastra mengalami kecelakaan setelah mengantarkan Sahara
pulang, kondisinya sangat parah sampai kritis dan dilarikan ke rumah sakit.
Sampai akhirnya dokter menyatakan nyawanya tidak bisa diselamatkan. Kepergian
Sastra sangat memberikan duka yang mendalam bagi Sahara, keluarga Suyadi dan
teman-temannya. Sahara mengira mungkin ini adalah karma bagi dirinya yang harus
ditanggung karena telah menyia-nyiakan Sastra, orang yang tulus mencintainya
selama hidupnya.
Kelebihan
Bahasa yang digunakan dalam novel ini ringan dan banyak
terdapat jokes-jokes yang menciptakan humor tersendiri ketika membacanya.
Konflik yang disajikan pun terkesan seperti nyata yang terjadi dalam kehidupan.
Kabar baiknya, cerita ini akan dijadikan sebuah film dalam jangan waktu
terdekat.
Kekurangan
Kekurangan dalam buku ini adalah masih ada beberapa
kesalahan penulisan kata dan kurang sesuai dengan KBBI dan PUEBI. Sebenarnya
secara keseluruhan tidak terlalu mengganggu alur cerita sehingga pesan dan
kesan yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca bisa dicerna dengan mudah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar