Sabtu, 27 Mei 2023

CERPEN "PEREMPUAN DI UJUNG PANTAI"

 Perempuan Di Ujung Pantai

Oleh: Lisa Mazidatur Rofiqoh

 

Jumat sore setelah pulang kerja aku memutuskan untuk berlibur ke pantai karena esok adalah weekend. Aku ingin menghibur diriku karena terlalu lelah menatap layar, mendengar suara bising kendaraan umum dan menghirup udara yang menyakitkan. Sepanjang perjalanan aku membayangkan melihat mentari pagi, cakrawala yang cerah, lautan biru disertai ombak yang bergejolak sambil meneguk sebuah nyiur yang segar. Ah membayangkannya membuatku tak sabar ingin sampai ke tempat yang disebut pantai.

Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam akhirnya Rimba tiba di sebuah pantai, anggap saja tokoh aku bernama Rimba. Aku sangat menyukai pantai karena di pantai aku merasa lebih santai, lebih tenang dan mensyukuri salah satu dari milyaran nikmat Tuhan yaitu melihat pemandangan yang indah dan tidak didapatkan di metropolitan. Karena sudah malam pantai sepi pengunjung, tapi aku suka karena aku bisa merasa tenang menikmati suasana pantai. Ditemani bintang-bintang dan rembulan di cakrawala, aku berdiri di pesisir pantai sambil memejamkan mata menikmati suara ombak yang bergejolak, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang dan aku pun terkejut kemudian menengok ke belakang untuk melihat siapa pelakunya dan ternyata...

“Hai sedang apa kamu disini?” Tanya si gadis cantik.

 

Aku tak menjawab pertanyaannya mataku tak berkedip karena terpesona dengan gadis itu. Bagaimana tidak? Wajahnya cantik bagaikan bidadari, bola matanya berwarna biru bagaikan bintang kejora, kulitnya bersih dan putih seperti susu, rambut hitam panjang yang berkilau seperti sinar. Aku sebut gadis ini lebih cantik dari Kendall Janner.

“Haloo apakah kamu mendengar suaraku?” Dia bertanya sambil menggerakkan telapak tangan ke kiri dan ke kanan untuk menyadarkanku yang sedang terpesona melihat kecantikkannya.

“O..oh hai, maaf aku nggak fokus karena melihat kecantikkanmu.” Kataku yang membuat dia tersipu malu.

“Ah bisa saja kamu, apa yang kamu lakukan di sini? Ini sudah malam, nanti kamu masuk angin.” Dia bertanya kebingungan.


“Aku suka suasana pantai yang sepi, karena memberikan ketenangan buat pikiran dan hatiku.” Aku menjawab dengan senyum tipis.

“Aneh kamu, biasanya orang lebih suka pergi ke pantai siang atau pagi hari bersama teman atau keluarga, kamu malah sebaliknya.”

“Selera setiap orang berbeda. Oh iya kamu sendiri ngapain di sini?” Tanyaku penasaran.

 

“Aku di sini untuk menjaga keamanan dan kebersihan di sekitar pantai ini.” Jawabnya dengan santai.

“Sendiri? Kenapa harus kamu?” Tanyaku lebih mendalam.

 

“Aku nggak sendiri kok, aku mempunyai komunitas yang memiliki anggota tiga puluh orang. Kebetulan malam ini aku dan temanku cowok yang bertugas.” Jawabnya dengan suara teduh.

“Komunitas apa?” Tanyaku penasaran.

 

“Komunitas kami bernama Ringan Tangan yang artinya suka membantu dan berbuat baik. Tugas kami adalah menjaga keamanan dan kebersihan di sekitar pantai ini. Kami memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar tentang bahaya membuang sampah di pantai selain itu kami juga mengajak masyarakat mendaur ulang sampah agar menghasilkan produk yang dapat menambah keuangan mereka. Di sini sering terjadi pencurian ikan dan barang lain ketika malam hari, maka dari itu kami memutuskan untuk mengadakan penjagaan di malam hari sampai pukul 24.00.” Dia menjawab dengan panjang dan lebar.

“Oh iya, kita belum kenalan namaku Rimba kamu siapa?” Tanyaku sambil menjulurkan tangan.

“Namaku Yuna.” Jawabnya sambil menerima uluran tanganku. “Nama yang cantik sama seperti orangnya.” Kataku sambil tersenyum. “Ish apaansih.” Jawabnya dengan tersipu malu.

Hari semakin malam suasana semakin hening hanya terdengar suara ombak rembulan sudah menghilang aku memutuskan untuk ke penginapan.

“Ini sudah malam, aku mau ke penginapan kamu jangan lupa istirahat, jangan capek-capek ya cantikku.” Kataku dengan ekspresi menggoda.


“Ish sanaa, sudah malam masih saja menggombal.” Jawabnya dengan kesal dan berwajah merah merona.

“Iya iya cantik.” Kataku sambil mengedipkan sebelah mata sebelum lari. Yuna semakin kesal dan melempar sandal ke arahku. Aku lari dengan cepat.

“Baru kali ini ada tamu yang berani menggodaku. Dia pikir aku akan termakan rayuan gombalnya. Oh, tentu tidak aku bukan tipe perempuan yang meleleh ketika mendapat pujian. Ah, sudahlah lebih baik aku pergi dari sini daripada pria sok asyik itu. Yuna menggerutu.

Keesokan hari setelah aku menunaikan kewajibanku kepada Yang Maha Kuasa, aku berjalan menuju pantai untuk melihat mentari dan cakrawala yang indah. Ketika aku di pantai aku melihat Yuna dan kawan-kawan membeersihkan sampah di pantai.

“Boleh aku membantu?” Tanyaku.

 

“Memang kamu di sini melihat tulisan larangan membantu membersihkan pantai?” Tanya balik.

“Ok..ok aku bantu.” Jawabku dengan senyum semanis gula. Sungguh gadis ini sulit sekali untuk ditaklukkan. Akhirnya aku memutuskan untuk membersihkan pantai. Selesai membersihkan pantai aku lelah, keringatku bercucuran, namun tiba-tiba ada seseorang yang memberiku air kelapa muda ternyata orang itu adalah Yuna gadis cuek seperti bebek ternyata dia baik juga.

“Baru segitu saja capek, nih minum.” Ujarnya sambil memberikanku sebotol air putih.

 

“Thanks. Ini aku kan baru pertama kali jadi, wajar dong aku capek. Aku salut loh sama kamu dan teman-temanmu masih muda tapi sudah memiliki jiwa kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan. Biasanya anak muda lebih suka menghabiskan waktu di mall atau nonton di bioskop, eh kamu dan orang-orang di sini malah menjaga pantai.” Ujarku.

“Biasa saja jangan terlalu memuji nanti besar kepala loh aku. Aku juga masih belajar. Ini merupakan salah satu cara aku untuk menyayangi dan bersyukur kepada Tuhan. Tuhan itu baik banget sama kita, padahal kita sering berbuat salah, tapi Tuhan masih memberikan ribuan kesempatan untuk kita. Manusia merupakan makhluk yang tidak pandai untuk bersyukur, padahal kita merupakan makhluk yang paling sempurna dari yang lain, kita diberi akal tapi seolah-olah tidak berakal. Kita masih belum bisa menjaga apa yang harusnya kita jaga. Alam diciptakan untuk manusia, terus kalau manusia sendiri yang merusak alam bagaimana? Kalau


bukan manusia yang menjaga, membersihkan dan melestarikan alam, apakah alam bisa menjaga dirinya sendiri? Atau bahkan hewan? Terkadang aku malu terhadap Tuhan, aku malu sebagai manusia, makhluk yang tidak pandai bersyukur.” Jelasnya sambil menatap hamparan ombak.

Aku tertegun, bukan dengan gaya bicaranya atau nada bicaranya, tetapi apa yang dia ucapkan. Yuna mengungkapkan hal yang benar manusia adalah makhluk yang egois.

“Kamu benar kita adalah makhluk yang egois.” Kataku.

 

“Oh iya, kamu kan tadi sudah bertanya kepadaku, sekarang aku mau tanya sama kamu.” Ujarnya.

“Silakan, tanya apa?” Kataku penasaran.

 

“Mengapa kamu menghabiskan waktu liburmu di sini?” Yuna bertanya seraya menatap mataku.

“Seperti yang aku bilang kemarin. Sejak kecil orang tuaku sering mengajak aku ke pantai ketika libur sekolah. Orang tuaku mengajarkan aku untuk tidak merusak alam. Mereka mengatakan kalau tidak bisa menjaga dan merawat setidaknya jangan merusak, Tuhan akan murka apabila sesuatu yang ia ciptakan dirusak dengan sengaja.”

“Orang tuamu mengatakan hal yang benar, andai saja semua manusia sadar akan hal itu pasti alam kita tetap terjaga.” Ucapnya.

“Untuk memulai hal baik harus dimulai dari diri sendiri. Siapa tahu saat kita berbuat baik dapat menjadi inspirasi buat orang lain, contohnya seperti apa yang kamu dan teman-temanmu lakukan semoga memberikan inspirasi untuk banyak orang agar menjaga lingkungan alam.” Kataku dengan yakin.

“Aamiin.” Jawabnya dengan senyuman.

 

Keesokan hari aku harus pulang ke rumah karena besok sudah masuk kerja. Sebelum pulang aku mencari Yuna, akhirnya ketemu dia sedang berada di pesisir pantai.

“Hai, Yuna.” Sapaku.

 

“Hai, kamu mau pulang?” Tanya dia.

 

“Iya. Yuna terima kasih.” Ucapku sambil memegang kedua tangannya.


“Untuk apa?” Dia kebingungan.

 

“Terima kasih sudah mengajariku banyak hal selama dua hari ini. Karena kamu aku belajar untuk lebih mencintai alam dan bersyukur dengan ciptaan Tuhan.” Ucapku dengan tulus.

“Sama-sama semoga kita menjadi manusia yang lebih baik dan bersyukur dengan apa yang Tuhan kasih untuk kita.” Jawabnya dengan tersenyum.

“Aamiin, aku pamit ya.” Ucapku seraya melepas pegangan tangannya.

 

“Hati-hati di jalan semoga selamat sampai tujuan dan sampai jumpa di lain kesempatan.” Ucapnya sambil melambai tangan.

“Ashhiaapp.”

 

 

 

Itulah pertemuan singkatku dengan gadis penjaga pantai bernama Yuna. Walaupun singkat akan selalu aku ingat. Aku percaya selalu ada makna tersirat dalam pertemuan yang singkat.

 

 

 

 

Bionarasi

 

 

Nama       : Lisa Mazidatur Rofiqoh.

 

TTL          : Bojonegoro, 22 Oktober 2001.

 

Status       : Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Institusi   : Universitas Trunojoyo Madura.

Hobi         : Menulis dan Membaca. Email       : lisarofiqoh0@gmail.com

Alamat     : Desa Mulyorejo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro.

Sabtu, 20 Mei 2023

PUISI "CERITA KEMARIN"

 Cerita Kemarin

Oleh: Faisal

 

Berjalannya waktu yang silih berganti

seakan membuat tak ingin lepas dari ingatan penuh kesan

Ingatan lalu yang masih hangat keberadaannya

Yang kini tinggal kenangan

 

Masa yang tlah cukup lama berlalu

Berubah menjadi ingatan penuh rindu

Ingatan keharmonisan yang berharap terulang kembali

Yang kini tlah menjadi cerita dari kenangan hari kemarin

Resensi Novel Bersama Karsa (RENOSAKA)||3

Judul Buku: Laskar Pelangi

Penulis: Andrea Hirata

Tebal Buku: 529 halaman

Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta

Tahun Terbit: 2005


Sinopsis


Laskar pelangi merupakan novel fiksi yang ditulis oleh Andrea Hirata. Novel tersebut mengisahkan tentang kehidupan 10 anak di Pulau Belitung, Provinsi Bangka Belitung yang saling bersahabat. Orang tua mereka memiliki profesi yang sama, yaitu penambang timah. Meskipun hidup di tengah kemiskinan, namun mereka tetap bersekolah untuk menimba ilmu.


Keadaan sekolah mereka cukup memprihatinkan dan tidak layak huni. Hal ini mendapat teguran dari pemerintah untuk menutup sekolah tersebut karena jumlah muridnya yang sedikit, yaitu hanya 10 orang. Waktu itu, sekolah nyaris ditutup karena pada saat penerimaan peserta didik baru hanya ada 9 orang siswa. Lalu, harun datang sehingga sekolah tidak jadi ditutup.


Ibu Muslimah merupakan sosok guru yang penyabar dalam mendidik para siswa. Meskipun beliau hanyalah lulusan SMP, namun beliau memiliki tekad yang kuat untuk mendedikasikan diri di dunia pendidikan.


Kelebihan


Cerita ini mempunyai gaya bahasa yang bagus sehingga menjadikan alur ceritanya menarik untuk dibaca. Banyak pelajaran hidup yang dapat dicontoh berdasarkan cerita di atas. Salah satunya adalah menumbuhkan rasa syukur kepada Tuhan atas apa yang telah diberi.


Kekurangan


Latar belakang cerita berasal dari daerah terpencil sehingga ada beberapa bahasa yang tidak dimengerti oleh orang awam.

Sabtu, 13 Mei 2023

CERPEN "TAKDIR"

 Takdir

Karya: Zahrotus Sakdiyah

Setiap pertemuan akan berujung pada perpisahan. Mengapa bisa begitu? Itu sudah garis takdir yang berlaku bagi setiap yang hidup di muka bumi. Tak ada yang mampu menentang ini dalam sebuah takdir. Menangis darah pun, tak akan mampu menukar takdir yang telah ditentukan. Keabadian memang ada dalam dunia cinta, tapi kebersamaan tak selalu bisa dijamin oleh cinta. Memang tidak ada yang abadi di dunia ini selain cinta. Cinta akan semakin tumbuh seiring dengan mendalamnya rasa sakit oleh rindu. Tetapi sepasang kekasih yang saling mencintai tidak bisa egois untuk meminta tidak ada kata pisah untuk pertemuan mereka.

Aku selalu saja menjadi saksi mata untuk perpisahan antara dua jiwa yang saling mengasihi, bahkan aku sendiri yang menyiapkan lubang perpisahan itu. Apalagi yang harus aku lakukan? Bukankah itu sudah menjadi tugasku sebagai penggali kubur untuk setiap raga yang telah mati?

Setiap kisah kasih mereka aku tahu betul. Bagaimana kerinduan raga yang hidup kepada raga yang telah mati. Namun, kisah yang satu ini berbeda. Cinta yang begitu menyakitkan, bahkan sampai berhasil membuat mataku memanas melihatnya.

Satu jam lalu, aku sudah menjalankan tugas ku membuat lubang perpisahan lagi, entah sudah berapa kalinya. Semua orang menangis dengan wajah sedihnya. Akan tetapi, bukan itu yang membuatku terharu, melainkan satu gadis yang sekarang masih tetap setia berada di pemakaman itu. Dia menangis, tapi anehnya ada senyum di sana. Bukan senyum bahagia, tapi banyak nestapa yang disembunyikan dalam senyum gadis itu.

Saat semua orang sudah pergi dari sana tapi gadis itu masih setia dengan duduknya sampai senja hari. Ia masih terisak di sana. Aku berfikir untuk menghampirinya. Entah mengapa hati ini terketuk untuk menghampirinya. Saat aku menghampirinya, aku melihat nama yang tertulis di nisan itu, Raskal. Ternyata seseorang yang ditangisi oleh gadis itu bernama Raskal.

Aku menyebut nama yang tertulis pada nisan itu, membuat gadis yang membelakangiku itu menoleh sejenak kemudian kembali pada posisi semula.

“Jangan dihapus, Nak! Dengan kau menghapus air mata tidak akan bisa menghapus nestapamu,” cegahku saat gadis itu hendak menghapus air matanya.

Biarlah air mata itu mengalir dengan derasnya. Seperti awan yang menghujani bumi sebab ia tak mampu membawa bebannya. Biarlah air matanya yang menjelaskan kepedihannya. Gadis itu masih diam tanpa suara, bahkan air mata itu semakin deras membasahinya. Aku pun ikut duduk di sampingnya. Menelusuri nestapa yang menghantamnya.

“Nama yang bagus, pasti pemuda ini sangat tampan ya?” pujiku kepada nama yang tertulis pada nisan itu.

Lagi-lagi gadis ini hanya diam dan mengangguk. Tak lupa senyum sendu itu tak pernah hilang dari wajah cantiknya.

“Pasti namamu tak kalah indah darinya_sama seperti wajahmu,” ucapku sambil tersenyum.

“Namaku Naya, Paman,” Terlihat deretan gigi putihnya karena tersenyum, tapi tetap dengan tatapan sendunya.

Saat gadis itu menyebutkan namanya, aku hanya mengangguk tersenyum. Berharap ia mau membagi luka dengan ku. Ya…walaupun aku hanya orang asing untuknya.

“Benar yang dikatakan para penyair, cinta itu abadi meski raga terpisah. Aku dulu juga seperti mu. Setelah wanita yang paling aku cintai pergi di hadapan ku, aku mengurung diri dalam lautan nestapa_” gumamku.

Gadis itu beralih menatapku, lalu aku melanjutkan ceritaku.

“Apa paman sekarang sudah melupakannya?” tanyanya.

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Mana bisa aku melupakan seseorang yang bahkan sudah menjadi belahan jiwaku, wanita yang sudah menjadi rumah bagiku, pikirku.

“Nak, apakah kau akan berpikir untuk melupakannya?” tanyaku balik.

“Kenapa Paman malah bebalik nanya padaku? Tentu saja tidak akan,” sahutnya. Aku hanya tersenyum mendengarnya.

“Kenapa?” tanyaku lagi.

“Aku sangat mencintainya paman, demi apapun.” Sambil mengelus nisan di depannya.

“Itulah nak jawabannya, aku juga tidak pernah melupakannya, bahkan dalam tidurku selalu melihatnya_”

“Lihatlah di ujung sana! Tempat peristirahatan istriku, sangat cantik bukan? Kau tau, aku selalu mengunjunginya dan membersihkannya. Karena aku tau dia akan marah jika tempatnya kotor,” sambung ku.

Gadis itu terdiam sejenak menatap tempat peristirahatan istriku, lalu kembali menatap nisan di depannya. Gadis itu tersenyum dan air matanya kembali menetes. Kemudian ia mengambil nafas dalam, mencoba menceritakan kisahnya.

“Raskal…dia adalah orang yang aku cintai. Kita berdua memiliki status sebagai sahabat. Sampai dengan berjalannya waktu, kami saling memiliki rasa cinta bukan sebagai sahabat, tapi sebagai pria dan wanita pada umumnya. Akan tetapi, saat kami sudah saling mengetahui perasaan satu sama lain, kami berjanji memendam perasaan itu dan mempertahankan persahabatan kami.”

“Dalam judul buku apapun, halaman berapun, dia tetap sesorang yang memiliki tempat terindah dalam hatiku meski tak bisa aku miliki. Karena Raskal ingin mempertahankan hanya sebatas persahabatan meskipun ia tahu kami saling cinta. Saat aku bertanya, mengapa ia melakukan itu, ia menjawab ‘aku tak ingin melukai perasaanmu nantinya Nay’. Sampai pada suatu hari aku mengetahui bahwa dia mengidap penyakit kangker stadium akhir tapi_" Sesekali ia menghentikan perkatannya dan mengusap air matanya.

Aku tahu itu sangat menyakitkan baginya. Mungkin sebuah kesalahan karena aku telah memaksanya bercerita. Karena itu hanya membuatnya semakin terjerat dalam nestapanya. Ingin sekali aku merengkuhnya layaknya anakku sendiri, tapi aku tak berdaya melakukannya.

“Jangan diteruskan jika itu sakit, Nak!” tanganku ikut gemetar saat mengusap pelan punggungnya.

Dalam hati aku berdoa, Oh tuhan! Bukankah nestapanya juga menjadi dukamu? Maka, sudahilah nestapanya ini. Dia tidak sekuat itu tuhan. Bahkan saat matanya menangis, ia masih bisa tersenyum. Bukankah dia sangat lemah? Bagaimana bisa itu terjadi. Banyak luka dalam senyumnya ini tuhan. Sesekali aku menghapus butiran bening yang sudah tak bisa terbendung lagi.

“Tak apa paman.”

“Kau tau paman? Aku adalah wanita paling beruntung karena dimiliki oleh lelaki sepertinya. Kami tumbuh dengan penyakit kami masing-masing. Awalnya, aku berpikir tuhan itu tidak adil tapi tuhan mengirim Raskal dalam hidupku. Itu juga salah satu alasan kami tetap memilih menjadi sahabat daripada menjadi sepasang kekasih. Aku menderita penyakit jantung bocor dan dia mengidap kangker. Awalnya kami saling menutupi penyakit kami dari satu sama lain. Sampai pada akhirnya, aku sudah dekat dengan ajalku, aku membutuhkan donor jantung dengan segera. Kemudian Raskal mengorbankan jantungnya untukku. Ibuku sudah melarangnnya, ta-tapi dia bilang bahwa hidupnya sudah tidak lama lagi. Perlahan dia bercerita tentang penyakitnya padaku.”

“Sangat serasi bukan? Kami berdua sama-sama memiliki penyakit yang bisa merenggut nyawa kapan saja dan berjuang hidup bersama-sama.” Sambil tertawa sumbang.

Lagi-lagi sebuah pengorbanan tulus dalam sebuah cinta. Keikhlasan yang begitu besar dalam cinta mereka. Ini bukan lagi tentang kisah Romeo dengan Juliet atau Layla dengan Majnun, tapi ini kisah Raskal dengan Naya.

“Nak, begitu dalam nestapamu tapi mengapa kau masih bisa tersenyum seperti tadi, bahkan saat kau melihatnya sendiri ia masuk dalam lubang perpisahan itu?”

Lagi-lagi gadis itu tersenyum sambil mengambil nafas dalam-dalam.

“Kau tau Paman, suatu malam kami menatap bintang. Tiba-tiba ia bertanya, ‘Nay, jika di dunia ini kita harus memilih aku atau kau dulu yang pergi, kau pilih yang mana?’ Lalu, aku menjawab lebih baik dia yang pergi lebih dulu, karena aku tak bisa melihatnya sendirian di dunia tanpa aku. Dan dia, lebih memilih dirinya pergi lebih dulu karena ia tak ingin aku sendirian di atas sana_”

“Itu sebabnya aku tidak menyesal ia pergi lebih dulu karena itu memang pilihanku. Mungkin saat aku mengatakannya malaikat langsung mencatatnya dan tuhan maha mendengar segalanya.”

“Sebelum ia mendonorkan jantungnya untukku, ia membuat rekaman suara. Ia mengatakan bahwa aku tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. aku harus tetap tersenyum di dunia ini agar pengorbannya tidak sia-sia. Ia mengatakan akan menungguku di atas sana sambil menabung kerinduan.” Tiba-tiba air matanya menetes kesekian kalinya.

“Itu artinya kau harus bahagia, Nak. Kau harus membuka lembaran baru bersama orang baru setelah ini.” Nasihatku.

“Membuka lembaran baru tidak harus dengan orang baru, Paman. Aku akan membuka lembaran baru bersama dengan kenangan kami. Dia sudah berjanji menungguku, jadi aku juga harus berjanji menjaga hatiku untuknya dan kami bersama-sama menabung kerinduan ini sampai masanya tiba aku akan menyusulnya, lalu meluapkan segala rindu ini,” jelasnya.

“Aku tidak mengerti cinta seperti apa ini, Nak?”

“Inilah cinta sejati paman, cinta sejati!”

“Mungkin kau tidak akan mengerti, Paman. Yang tidak merasakan tidak akan paham dan yang tidak mengalami tidak akan pernah mengerti. Aku beruntung karena menjadi wanita terakhir yang ia cintai_” berhenti sejenak sambil mengusap pipinya yang basah.

“Kal…sudah dulu ya. Besok aku kembali lagi dan bercerita tentang hari-hariku padamu. Aku pamit pulang paman, permisi!” Dengan gontai, ia melangkah pergi dari pemakaman.

Gadis itu pulang dengan baju yang sudah lusuh dan kotor sebab tanah merah. Aku terus menatap punggung gadis itu yang semakin tak terlihat.

“Terima kasih, Nak! Kalian memberi contoh ketulusan dalam sebuah cinta. Kalian membuktikan bahwa masih ada cinta sejati setelah kematian Romeo dengan Juliet dan Layla Majnun. Kini sejarah akan mencatatnya. Aku yakin itu,” gumamku.

Setelah hari itu, Naya tak pernah lupa menemui Raskal di tempat peristirahannya. Banyak sekali cerita yang selalu ia bawa setiap harinya. Naya tak pernah membiarkan tanah itu kering. Setiap pagi aku melihatnya, pasti tanah Raskal selalu bersih, basah, dan wangi mawar putih seperti makam baru. Aku sedih, saat aku tiada nanti siapa yang akan meneruskan kisah mereka yang sudah ku tulis ini.

Naya lebih memilih mengesampingkan egonya dan merelakan kepergian orang yang dicintainya, karena takdir telah berkehendak demikian. Lagi-lagi soal takdir, siapa yang mampu menolaknya? Sedangkan mereka semua yang hidup itu diatur oleh takdir. Takdir adalah raja dalam setiap kisah kehidupan makhluk di muka bumi ini. Tak ada yang mampu melawan dan mempermainkan takdir.

Inilah cinta yang sesungguhnya, cinta yang begitu tulus dan ikhlas. Tidak ada kata rugi dalam ikhlas mencintai. Sungguh mereka berdua telah mencapai puncak mencintai dengan ikhlas. Takdir membuat mereka merasakan pahitnya perpisahan, tetapi tanpa disadari takdir juga memberikan mereka manisnya tulusnya dalam sebuah cinta.

 

 

 


 

Bionarasi Penulis

Zahrotus Sakdiyah, gadis 19 tahun yang sedang menempuh Pendidikan di perguruan tinggi Universitas Trunojoyo Madura ini memang gemar membaca dan menulis. Baginya, menulis adalah dunianya. Tak heran, jika gadis sepertiku bersahabat dengan pena dan secarik kertas. Kalian bisa menemuiku dalam karyaku yang terbit dalam buku antologi cerpen dan puisi yang berjudul Cinta, Harap dan Harga, Asa dan Prahara Rasa, dan Ukiran Seuntai Kata. Teruslah berkarya wahai penulis hebat!!! Karya mu adalah jejak mu.

Sabtu, 06 Mei 2023

PUSI "PEMILIK HATI"

 Pemilik hati

Oleh: Rani Tania

 

Hati berbisik setiap saat

Seakan-akan bertanya

Sipakah pemilik hati ini sebenarnya

Dia yang ku nanti atau dia yang datang dengan sendirinya

 

Dalam setiap sujudku

Aku selalu berdoa kepada pencipta-Ku

Semoga pemilik hati ini

Ciptaan-Nya yang di Ridhoi-Nya

 

Aku sadar bahwa diri ini hina

Karena aku...

Hanyalah seorang hamba yang lalai akan perbuatan dosa

 

Tapi aku percaya

Pencipta-Ku adalah pemilik hati yang belas kasih

Semoga pencipta-Ku

menciptakan pemilik hatiku sebagai pelengkap dalam agamaku.

PUISI " MENUJU CAHAYA"

  MENUJU CAHAYA Karya ilna lutfiana  Dalam gelap yang pernah datang Aku jatuh,nyaris hilang Namun bara kecil di dada Tak pernah padam,terus ...