Perempuan Di Ujung Pantai
Oleh: Lisa Mazidatur Rofiqoh
Jumat sore setelah pulang kerja aku
memutuskan untuk berlibur ke pantai karena esok adalah weekend. Aku
ingin menghibur diriku karena terlalu lelah menatap layar, mendengar suara bising kendaraan umum dan menghirup
udara yang menyakitkan. Sepanjang perjalanan
aku membayangkan melihat mentari pagi, cakrawala yang cerah, lautan biru
disertai ombak yang bergejolak sambil meneguk sebuah nyiur yang segar. Ah membayangkannya membuatku
tak sabar ingin sampai ke tempat yang disebut pantai.
Setelah menempuh perjalanan selama
2 jam akhirnya Rimba tiba di sebuah
pantai, anggap saja tokoh aku bernama Rimba.
Aku sangat menyukai
pantai karena di pantai aku merasa lebih
santai, lebih tenang dan mensyukuri salah satu dari milyaran nikmat
Tuhan yaitu melihat pemandangan yang indah dan tidak
didapatkan di metropolitan. Karena sudah malam pantai sepi pengunjung, tapi aku suka karena aku bisa merasa tenang
menikmati suasana pantai. Ditemani
bintang-bintang dan rembulan di cakrawala, aku berdiri di pesisir pantai sambil memejamkan mata menikmati suara ombak yang
bergejolak, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku
dari belakang dan aku pun terkejut kemudian menengok ke belakang untuk melihat siapa
pelakunya dan ternyata...
“Hai sedang apa kamu disini?”
Tanya si gadis cantik.
Aku
tak menjawab pertanyaannya mataku tak berkedip
karena terpesona dengan gadis itu.
Bagaimana tidak? Wajahnya cantik bagaikan bidadari, bola matanya
berwarna biru bagaikan bintang
kejora, kulitnya bersih dan putih seperti susu, rambut hitam panjang yang
berkilau seperti sinar. Aku sebut gadis ini lebih cantik
dari Kendall Janner.
“Haloo apakah
kamu mendengar suaraku?” Dia bertanya sambil menggerakkan telapak
tangan ke kiri dan ke kanan untuk menyadarkanku yang sedang terpesona
melihat kecantikkannya.
“O..oh hai, maaf aku nggak fokus karena melihat
kecantikkanmu.” Kataku yang membuat dia tersipu
malu.
“Ah bisa saja kamu, apa yang kamu lakukan
di sini? Ini sudah malam,
nanti kamu masuk
angin.” Dia bertanya
kebingungan.
“Aku suka suasana pantai yang sepi,
karena memberikan ketenangan buat pikiran dan hatiku.” Aku menjawab
dengan senyum tipis.
“Aneh kamu, biasanya orang lebih suka pergi ke pantai siang atau pagi hari bersama
teman atau keluarga, kamu malah sebaliknya.”
“Selera setiap
orang berbeda. Oh iya kamu sendiri ngapain
di sini?” Tanyaku
penasaran.
“Aku
di sini untuk menjaga keamanan dan kebersihan di sekitar pantai ini.” Jawabnya dengan santai.
“Sendiri? Kenapa harus kamu?” Tanyaku
lebih mendalam.
“Aku nggak sendiri kok, aku mempunyai
komunitas yang memiliki
anggota tiga puluh orang. Kebetulan malam ini aku dan temanku cowok yang bertugas.” Jawabnya
dengan suara teduh.
“Komunitas apa?”
Tanyaku penasaran.
“Komunitas kami bernama Ringan Tangan yang artinya suka
membantu dan berbuat baik. Tugas kami adalah menjaga
keamanan dan kebersihan di sekitar pantai
ini. Kami memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar tentang bahaya
membuang sampah di pantai selain
itu kami juga mengajak masyarakat mendaur ulang
sampah agar menghasilkan produk yang dapat menambah
keuangan mereka. Di sini sering terjadi pencurian ikan dan barang lain ketika malam hari, maka dari itu kami memutuskan
untuk mengadakan penjagaan di malam hari sampai pukul 24.00.” Dia menjawab
dengan panjang dan lebar.
“Oh iya, kita belum kenalan namaku Rimba kamu siapa?”
Tanyaku sambil menjulurkan tangan.
“Namaku Yuna.” Jawabnya sambil menerima uluran tanganku. “Nama yang cantik sama seperti
orangnya.” Kataku sambil
tersenyum. “Ish apaansih.” Jawabnya dengan
tersipu malu.
Hari semakin malam suasana semakin
hening hanya terdengar
suara ombak rembulan
sudah menghilang aku
memutuskan untuk ke penginapan.
“Ini sudah malam, aku mau ke penginapan kamu jangan lupa istirahat, jangan
capek-capek ya cantikku.” Kataku dengan ekspresi menggoda.
“Ish sanaa,
sudah malam masih saja menggombal.” Jawabnya dengan kesal dan berwajah
merah merona.
“Iya
iya cantik.” Kataku sambil mengedipkan sebelah mata sebelum lari. Yuna semakin kesal dan melempar
sandal ke arahku. Aku lari dengan cepat.
“Baru kali ini ada tamu yang berani menggodaku. Dia pikir aku akan termakan
rayuan gombalnya. Oh, tentu tidak aku
bukan tipe perempuan yang meleleh ketika mendapat pujian. Ah, sudahlah lebih
baik aku pergi
dari sini daripada
pria sok asyik itu. ” Yuna menggerutu.
Keesokan hari setelah aku menunaikan kewajibanku kepada
Yang Maha Kuasa, aku berjalan menuju
pantai untuk melihat mentari dan cakrawala yang indah. Ketika aku di pantai aku melihat
Yuna dan kawan-kawan membeersihkan sampah di pantai.
“Boleh aku membantu?” Tanyaku.
“Memang kamu di sini melihat tulisan larangan membantu
membersihkan pantai?” Tanya balik.
“Ok..ok aku bantu.” Jawabku dengan senyum semanis gula.
Sungguh gadis ini sulit sekali untuk ditaklukkan. Akhirnya aku memutuskan untuk membersihkan pantai.
Selesai membersihkan pantai
aku lelah, keringatku bercucuran, namun tiba-tiba ada seseorang yang memberiku air kelapa muda ternyata orang
itu adalah Yuna gadis cuek seperti bebek ternyata dia baik juga.
“Baru segitu saja capek, nih minum.” Ujarnya
sambil memberikanku sebotol air putih.
“Thanks. Ini aku kan baru pertama kali jadi, wajar dong aku
capek. Aku salut loh sama kamu dan
teman-temanmu masih muda tapi sudah memiliki jiwa kepedulian yang tinggi
terhadap lingkungan. Biasanya anak
muda lebih suka menghabiskan waktu di mall atau nonton di bioskop,
eh kamu dan orang-orang di sini malah
menjaga pantai.” Ujarku.
“Biasa saja jangan terlalu memuji nanti besar kepala loh
aku. Aku juga masih belajar. Ini merupakan salah
satu cara aku untuk menyayangi dan bersyukur kepada
Tuhan. Tuhan itu baik banget sama kita, padahal kita sering
berbuat salah, tapi Tuhan masih memberikan ribuan kesempatan untuk kita. Manusia merupakan makhluk yang tidak
pandai untuk bersyukur, padahal kita
merupakan makhluk yang paling sempurna dari yang lain, kita diberi akal tapi seolah-olah tidak berakal. Kita masih
belum bisa menjaga apa yang harusnya kita jaga. Alam diciptakan untuk manusia, terus kalau
manusia sendiri yang merusak alam bagaimana? Kalau
bukan manusia yang menjaga, membersihkan dan melestarikan alam, apakah alam bisa menjaga
dirinya sendiri? Atau bahkan hewan? Terkadang aku malu terhadap
Tuhan, aku malu sebagai
manusia, makhluk yang tidak pandai bersyukur.” Jelasnya sambil menatap hamparan ombak.
Aku tertegun, bukan dengan gaya
bicaranya atau nada bicaranya, tetapi apa yang dia ucapkan. Yuna mengungkapkan hal yang benar
manusia adalah makhluk yang egois.
“Kamu benar kita adalah makhluk yang egois.” Kataku.
“Oh iya, kamu kan tadi sudah bertanya kepadaku, sekarang
aku mau tanya sama kamu.” Ujarnya.
“Silakan, tanya apa?” Kataku penasaran.
“Mengapa kamu menghabiskan waktu liburmu di sini?” Yuna bertanya seraya menatap mataku.
“Seperti yang aku bilang kemarin. Sejak kecil orang tuaku sering mengajak
aku ke pantai ketika libur sekolah. Orang tuaku mengajarkan
aku untuk tidak merusak alam. Mereka mengatakan kalau tidak bisa menjaga dan merawat setidaknya jangan merusak,
Tuhan akan murka apabila sesuatu yang ia
ciptakan dirusak dengan
sengaja.”
“Orang tuamu mengatakan hal yang benar, andai saja semua
manusia sadar akan hal itu pasti alam kita tetap
terjaga.” Ucapnya.
“Untuk memulai hal baik harus
dimulai dari diri sendiri. Siapa tahu saat kita berbuat
baik dapat menjadi inspirasi buat orang lain,
contohnya seperti apa yang kamu dan teman-temanmu lakukan semoga memberikan inspirasi untuk banyak orang agar
menjaga lingkungan alam.” Kataku dengan yakin.
“Aamiin.” Jawabnya
dengan senyuman.
Keesokan hari aku harus pulang ke rumah karena besok sudah
masuk kerja. Sebelum pulang aku mencari
Yuna, akhirnya ketemu dia sedang
berada di pesisir pantai.
“Hai, Yuna.” Sapaku.
“Hai, kamu mau pulang?”
Tanya dia.
“Iya. Yuna terima kasih.”
Ucapku sambil memegang
kedua tangannya.
“Untuk apa?” Dia kebingungan.
“Terima kasih sudah mengajariku banyak hal selama dua hari ini. Karena kamu aku belajar untuk
lebih mencintai alam dan bersyukur dengan ciptaan Tuhan.”
Ucapku dengan tulus.
“Sama-sama
semoga kita menjadi manusia yang lebih
baik dan bersyukur dengan apa
yang Tuhan kasih untuk kita.” Jawabnya dengan tersenyum.
“Aamiin, aku pamit ya.” Ucapku
seraya melepas pegangan tangannya.
“Hati-hati di jalan semoga selamat sampai
tujuan dan sampai
jumpa di lain kesempatan.” Ucapnya
sambil melambai tangan.
“Ashhiaapp.”
Itulah pertemuan singkatku
dengan gadis penjaga
pantai bernama Yuna. Walaupun singkat
akan selalu aku ingat. Aku percaya selalu ada makna tersirat dalam pertemuan yang singkat.
Bionarasi
Nama : Lisa Mazidatur Rofiqoh.
TTL : Bojonegoro, 22 Oktober 2001.
Status : Mahasiswa Program
Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Institusi : Universitas Trunojoyo Madura.
Hobi : Menulis dan
Membaca. Email : lisarofiqoh0@gmail.com
Alamat : Desa Mulyorejo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro.