Sabtu, 26 Agustus 2023

CERPEN "Suara Kecil Untuk Si Kaya"

 Suara Kecil Untuk Si Kaya

Karya: Hurin Infi Afdatina

 

            Di terik yang panas ini, aku terus berjalan mengelilingi setiap sudut kota. Dengan membawa sekarung sampah di bahuku. Tapi itu tidak mengeluh. Aku terus berjalan dan mencari sampah. Orang orang menatapku dengan sinis seolah olah aku adalah makhluk yang paling menjijikkan yang pernah mereka lihat. Tidak hanya itu, mereka bahkan sering melemparkan sampah ke arahku.

            "Hei kau, minggir sana. Mobilku mau lewat seharusnya kau menyingkir!" Teriak seseorang dari dalam mobil mewahnya. Kuhela nafasku sambil tersenyum dan sedikit memundurkan diri demi memberikan mobil itu jalan. Padahal jalanan sangatlah luas. Seharusnya mobil itu tetap bisa lewat meskipun aku tidak memundurkan langkah.

            "Dasar pemulung tidak berguna! Orang seperti kamu ini yang menjadi sampah masyarakat. Cuihhh! " Anak muda tersebut meludahiku tanpa harus turun dari mobil mewahnya. Wajah sombongnya membuatku ingin sekali berkata kasar, tapi aku berhasil menahannya.

"Hei nak, tidak bisakah kau menghargai orang tua. Setidaknya kalau kamu tidak menyukai profesiku maka harusnya kamu hormati orang yang lebih tua." Ucapku pada akhirnya.

            Anak muda tersebut hanya mendengus tidak terima. Dia langsung menancapkan gas mobilnya dan segera pergi.

Aku tidak menghiraukannya lagi, sudah biasa orang kaya bersifat seperti itu. Sifat sombong selalu mendominasi mereka. Terlebih pada orang orang kecil sepertiku. Mereka menghina, menertawakan dan selalu menindas kami. Aku tidak peduli dengan semua itu, Allah tidak tidur. Biarkan saja mereka menertawakanku. Roda itu akan selalu berputar. Dan tidak selamanya mereka akan berada di atas.

            Aku melanjutkan perjalananku sambil sesekali memungut botol botol di jalanan dan kumasukkan ke dalam karungku. Saat aku menunduk mengambil sampah, seseorang menyenggolku dan menjatuhkan sebuah dompet. Orang itu berlari semakin menjauh. Aku yang tidak mengerti apa apa langsung mengambil dompet itu. Ku buka dompetnya untuk mencari identitas pemiliknya karena aku berniat untuk mengembalikannya. 

"Mungkin orang itu sedang terburu-buru sampai harus lari." Gumamku dalam hati.

"ITU DIA MALINGNYA! CEPAT TANGKAP DIA SEKARANG!"

            Aku menolehkan kepalaku saat mendengar suara teriakan maling. Dengan refleks aku menoleh ke belakang. Beberapa orang menatapku dengan kemarahan. Ada apa ini? Mengapa mereka menatapku seperti itu?

            Mereka semakin mendekat ke arahku. Tanpa diduga mereka semua langsung memukulku tanpa memberikan penjelasan apapun.

            "Dasar kotor! Sudah miskin sekarang menjadi maling juga! Kita bunuh saja dia di sini." celetuk salah satu dari mereka.

            "Setuju, pemulung hina seperti dia tidak pantas berkeliaran di jalan. Lihat saja, hari ini dia sudah mencuri dompet. Berpura pura mengambil sampah di rumah kita dan ternyata niatnya busuk!

            " Aku menangis tidak berdaya. Tanganku terus melindungi kepalaku dari amukan mereka. Mereka terus memukulku membabi buta dan tidak memberiku kesempatan untuk berbicara. "Ya Allah, mengapa nasib orang kecil selalu seperti ini. Hanya karena aku seorang pemulung dan miskin mereka selalu menindasku."

            Tenagaku semakin lemah, fisikku sudah mereka lukai. Mereka menendangku, menamparku, dan memukul kepalaku dengan alat yang mereka pegang. Banyak orang yang lewat dan melihatku dalam keadaan seperti ini. Tapi tak ada satu pun dari mereka yang berniat menolongku. Mereka benar benar kejam! Sungguh tidak adil dunia ini.

            Bukan aku yang melakukannya tapi aku yang dihukumnya.

"AYAHHHHHH" Tangan tangan itu seketika berhenti memukul. Aku mengenal suara itu. Itu adalah suara putriku, Jannah.

            Putriku Jannah langsung menerobos kerumunan. Ku lihat dia mendorong semua orang itu dengan tangannya. Kulihat dia menitikkan air mata saat melihat keadaanku yang sudah babak belur.

            "Sungguh biadab kalian, ayahku bukan pencuri. Mengapa kalian memukulnya?" Aku tersenyum tipis saat melihat putriku mengangkat wajahnya tinggi tinggi dan menunjuk mereka 10 satu persatu. Raut wajahnya menampakkan kemarahan pada mereka. Aku tidak pernah melihatnya semarah ini. Ini adalah pertama kali aku melihatnya.

            "Oh jadi kamu putrinya. Ayah kamu ini sudah jelas pencuri jangan kamu membelanya. Kami tau kalian begitu miskin makanya ayah kamu mencuri dompet milik salah satu dari kami" Jawab salah satu dari mereka.

            Kulihat Jannah mengeluarkan ponselnya, ponsel bekas yang dibelinya dengan hasil keringat sendiri. Aku sangat bangga dengan putriku. Dia sudah menjadi Mahasiswi dengan jurusan hukum di salah satu kampus. Dia kuliah dengan mengandalkan biaya siswa yang didapatkannya. Kalau tidak, dia mungkin tidak akan kuliah karena nasibku ini.

            "Sekarang kalian lihat sendiri, jalan ini sudah ada CCTV nya. Aku sudah meminta hasil rekaman CCTV pada pak Satpam. Jika ayahku terbukti tidak bersalah maka aku akan melaporkan kalian pada pihak yang berwajib." Ancam Jannah pada mereka.

            Mereka tiba-tiba langsung terdiam. Putriku Jannah langsung menunjukkan ponselnya pada mereka. Entah apa yang mereka lihat sampai pada akhirnya wajah mereka menjadi sedikit terkejut.

            "Sekarang lihat kan, ayahku bukan pencuri! Kalian sudah menuduh dan menganiaya ayahku.

            Sekarang kalian minta maaf dengan ayahku atau aku benar benar akan melaporkan kalian." Bentaknya dengan nada yang tinggi. Kemudian matanya langsung tertuju padaku, ia berjongkok dan membantuku berdiri.

            "Berdirilah ayah, kita memang orang miskin. Tapi tidak seharusnya kita berada di bawah kaki kaki kecil mereka." Ucapnya padaku.

            Dengan tertatih tatih aku berdiri dengan bantuan putriku. Tidak sampai disitu, tiba tiba orang orang itu langsung mengeluarkan dompet mereka dan menaruhnya di tanganku. Tiga, empat, lima bahkan sudah sepuluh dompet dalam genggamanku.

            "Dompet kami seharusnya cukup untuk menutup mulut kalian. Jangan kalian bawa kasus ini ke polisi. Kalian sudah mendapatkan uang kan? Anggap saja itu adalah permintaan maaf kami. Kami tau orang orang seperti kalian tidak butuh kata maaf tapi butuh uang untuk biaya hidup kalian."

            Jannah merebut kembali dompet itu dari tanganku. Dia melemparkannya tepat di wajah mereka. "Seharusnya kalian malu karena sudah menuduh dan menyakiti ayahku. Tapi kalian malah semakin bersikap sombong. Apa yang sebenarnya membuat kalian begitu sombong? Jabatan? Harta? Gelar? Atau apa?"

            "Diam kau anak ingusan, kau seharusnya beruntung karena kami memberimu dompet berharga kami. Jumlah uangnya juga tidak sedikit." Kulihat laki laki berkumis itu membentak putriku.

            Aku sudah cukup lama terdiam, ini saatnya aku angkat bicara. Mereka tidak boleh hanya berkata kata. Ada kalanya mereka harus mendengar.

            "Tidakkah kalian malu dengan umur kalian? Kalian berumur dewasa tapi pola pikir masih sama seperti anak remaja. Kalian tidak mau merendah meskipun posisi kalian salah. Hanya karena status kalian yang nyatanya lebih tinggi dari kami"

            "Semua orang itu sama, antara yang kaya dengan yang miskin. Sebenarnya kita tidak ada bedanya. Kita sama sama manusia biasa ciptaan Allah. Seharusnya kalian sadar, dengan kalian bersifat sombong dan angkuh seperti itu kalian hanya akan menghancurkan diri kalian sendiri."

            "Manusia itu makhluk sosial, jadi kalian harus tau caranya bersosial di lingkungan masyarakat itu seperti apa. Jangan selalu menganggap diri kalian yang paling benar. Kalian memang kaya tapi masih ada lagi yang lebih kaya. Siapa lagi kalau bukan Allah. Allah maha kaya. Janganlah bersikap sombong sebagai manusia dan jadilah pribadi yang baik."

            Mereka semua langsung menunduk merasa bersalah setelah aku mengatakan kalimat panjang lebar itu. Tidak lama kemudian salah satu dari mereka memelukku dan menangis meminta maaf. Mereka semua secara bergantian meminta maaf. Aku memandang ke arah putriku, dia tersenyum seolah olah bangga padaku.

            "Terima kasih ayah." Lirih putriku yang aku tidak tau apa maksud rasa terima kasih tersebut.

Bionarasi

Nama Hurin infi afdatina, lahir pada tanggal 22 juni 2004 dan menjadi Mahasiswa pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia di kampus Universitas Trunojoyo Madura. Cita cita 12 menjadi seorang penulis dan juga Sastrawan Indonesia Hobi menulis sudah dimulai sejak kecil dan berlanjut sampai sekarang.

Sabtu, 19 Agustus 2023

PUISI " Perihnya keadilan"

 Perihnya keadilan

karya: zulfa ulin nikmah

 

cuaca hari ini penuh dengan hujan dan kilat

seraya dengan tangisan rakyat

dari rakyat yang semakin hari semakin keren oleh para keparat.

mengapa kebijakanmu menjadikan kami melarat

kami adalah rakyat melarat dan semakin sarat

akibat ulah birokrat serta para pejabat yang berkhianat

 

katanya rakyat adil makmur sejahtera

mengapa sampai hari ini masih menderita

kau suruh kami menghargai aturan

mengapa kau malah memperjual belikan keadilan

 

aku bingung dengan hukum dinegeri ini

banyak kasus kejahatan yang belum terungkap

ketika saat hukum terbelit begitu mudah

langit keadilan runtuh menimpa si lemah

sungguh miris bukan hukum di negeri ini?

 

hari demi hari

mereka semuanya lupa

akan sila sila yang terkandung dalam pancasila

"keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia"

bukankah begitu bunyi sila kelima pancasila?

 

pancasila hanya menjadi simbol belaka

dimana keadilan tak dapat berbicara

kami butuh keadilan yang nyata

bukan hanya sekedar wacana

itulah realita kehidupan!!!

 

wahai penguasa negri!

bukan janji-janji yang kami nanti

tapi keadilan yang kami cari

kalau hukum masih tumpul keatas tajam kebawah

ketika itu keadilan sosial belum merata

bagi seluruh rakyat indonesia!

Sabtu, 12 Agustus 2023

CERPEN "PERTEMUAN BERAKHIR IKHLAS"

 PERTEMUAN BERAKHIR IKHLAS

 

Oleh: Annisa Kusherawati

 

Halo guyss perkenalkan namaku Jera, akun memiliki marga di depan namaku yaitu Choi. Tepatnya hari jum'at di pagi hari aku bersiap-siap berangkat menuju kampus. Yaa... walaupun pada saat itu masih gempar-gemparnya virus Corona, aku nekat berangkat ke kampus karena ada Diklat komunitas, dan saat itu aku masih semester 1.

Setelah sampai di kos, aku di ajak teman kelasku untuk ngopi di cafe tempatnya tak jauh dari kampus, by the way temanku ini cewek Yaa... Namanya Jejin, dan dia memiliki marga yang sama denganku yaitu Choi. Dia orangnya baik, cantik, putih dan agak tinggi. Bisa di bilang kami berdua ini best friend forever.

Sebelum berangkat kesana aku dan Jejin menjemput Raesoo kekampus karena dia masih ada kegiatan pertemuan Duta se PBSI. Oh ya… Btw dia cowok ya guys. Tidak lama aku menunggu di sana, aku bertemu dengan teman kelasku yaitu Soojoon.

Saat itu aku baru pertama kali bertemu dia karena sebelumnya kita hanya menyapa lewat zoom pada saat kuliah. Aku langsung tercengang dan jantungku berdetak kencang.

(dag-dig-dug)

 

“JEJINNN.. itukan Soojoon temen kelas kita?! Ganteng bangettt sumpah!” ucapku ke jejin. “mana Je? Mana?” tanyanya.

“Itu, dia jalan kaki dengan temannya?! Ganteng banget ya tuhann… putih, tinggi, berkaca mata, kayak oppa korea culun huhuhuuu…” sambil berbisik karena takut di dengar orang.

Singkat saja mataku mengikuti arah dia berjalan, sehingga aku memutar badan. Saat itulah aku mulai suka dan jatuh cinta padanya.

Haha… bisa disebut ini adalah cinta pada pandangan pertama, ya walaupun kita sering bertemu melalui zoom tapi setelah melihat real life, suasananya sangat berbeda.

Karena temanku sudah selesai acaranya, kita berangkat ke caffe dengan menaiki 2 motor. Sesampai di sana kita mengobrol, sambil menunggu makanan yang kita pesan. Saat itu


aku merasa senang karena akhirnya bisa bertemu dengan teman kelas, yaa… walaupun tidak sebagian, namun setidaknya kita bisa bercanda gurau.

Cukup lama di cafe itu, kita akhirnya pulang. Sesampai di kos aku langsung mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke diklat, tempatnya lumayan jauh dari kampus. Namun seluruh peserta berkumpul di gerbang kampus.

Karena banyak yang telat, akhirnya aku menunggu sangat lama disana. Tapi tidak membuatku merasa bosan, karena banyak teman yang mengajakku ngobrol dan bernyanyi bersama.

Waktu menunjukkan jam 3 sore akhirnya kita berangkat ke lokasi. Sesampai disana ternyata ada kakak komdis yang lagi marah-marah kepeserta lain karena tidak mengikuti aturan. Di sana aku melihat Soojoon dan ternyata dia mengikuti diklat juga.

Setelah itu semua peserta termasuk aku diarahkan untuk ke aula untuk menaruh barang- barang yang kita bawa dan beristirahat sejenak.

Hari mulai malam, sehingga kita di suruh untuk berganti pakaian sesuai dress code hari pertama. Setelah itu kami diarahkan kumpul di dalam aula untuk memulai acara pembukaan.

Sepanjang acara upacara pembukaan, aku selalu melihat kanan kiri untuk mengetahui tempat Soojoon berada. Yaa… alasannya kalian pasti tahu laah hahahaa…

Yaps?! Supaya aku bisa melirik dia kapanpun hahaha…

 

Setelah upacara, kita bersenang-senang dan bernyanyi bersama. Kakak mc-nya sangat baik, dan disana aku satu kelompok dengan teman kelasku yang kebetulan dia ikut diklat juga.

Malam itu terasa menyenangkan, hingga pagi tiba. Aku bergegas berganti pakaian yang sesuai dengan dress code hari kedua. Setalah itu aku kumpul di aula untuk memulai materi pertama. Namun, aku meminta izin kepada penanggung jawab di sana karena aku, Soojoon, dan teman ku yang sekelompok itu ada kelas online yang tidak bisa di tinggalkan.

Setelah itu kamipun di izinkan untuk keluar aula dan mengikuti kelas online.

 

Saat itu aku mengambil kesempatan yang sangat berharga yaitu duduk di sebelah Soojoon. Yaa… Soojoon.


Pada saat itu jantungkun berdetak sangat kencang, karena bisa bersebelahan dengannya.

Apa lagi dia mengobrol denganku.

 

“Jera, ini kamu kan? Ternyata pendek ya?!” dia bertanya padaku sambil tersenyum. “hehehe… iya Joon” jawabku sambil malu-malu.

“Aku pikir kamu tinggi? Soalnya liat di foto profilmu hehehe…” ujarnya sambil memakan sesuap nasi.

“hahaha… aku emang pendek, tapi banyak juga siih yang bilang aku tinggi karena melihat foto profilku, gak papa siih itukan pemikiran orang?!” jawabku karena mulai nyaman mengobrol dengannya.

Selang beberapa menit, ada kakak komdis yang menghampiri kita bertiga, dan dia menyuruh kita untuk masuk ke aula. “dek ayok masuk ke aula. Gak papa kok kalian sambil zoom, kapan lagi dapet dua ilmu sekaligus”

“Ooiya kak terima kasih kak” ujarku sambil bergerutu kesal dalam hati.

 

Lalu aku masuk ke dalam aula dan di sana lagi-lagi aku duduk dekat dia. Waktu sudah menunjukkan siang kami seluruh peserta istirahat dan makan siang. Setelah makan kami pun mulai memasuki materi yang ke-dua.

Setelah beberapa jam akhirnya materi selesai dan kita lanjut senang-senang sampai malam hari. Saat di pertengahan acara aku disuruh naik ke atas panggung untuk bernyanyi, setelah acara selesai kami seluruh peserta istirahat.

Pagi harinya semua peserta kumpul di lapangan untuk senam pagi dan bermain game, namun sebelum memulai game seluruh peserta dan panitia sarapan pagi supaya memiliki sedikit tenanga untuk hari itu.

Seperti biasa… mulai dari senam dimulai sampai selasai aku selalu melihat kanan kiri untuk bisa mengetahui keberadaanya. Yaps?! Ternyata dia berada di barisan belakang dengan teman cowok lainnya. Sepanjang senam aku selalu meliriknya dan seperti orang sedang mencari barang yang hilang.

Bisa dibilang perilakuku berlebihan, tapi yaa… mau gimana lagi. beginilah perjuangan seorang wanita yang mengharapkan sesosok lelaki yang diidamkan.


Setelah sarapan selesai, panitia yang bertugas di bagian outbound segera memulai acaranya. Dengan berjalannya acara, kelompokku tidak lupa untuk mengabadikan moment seru tersebut, kami berfoto-foto, ngobrol, dan mengikuti game sesuai urutan.

Hari semakin siang dan kamipun sudah merasa lelah. Akhirnya permainanpun sudah selesai, semua peserta bergegas untuk berberes dan berganti pakaian karena acara sedikit lagi akan selesai.

Semua peserta berkumpul di dalam aula untuk melakukan upacara penutupan. Sepanjang upacara aku selalu melirik ke arah dia. Aku merasa tenang kalau melihat dia, ya walaupun dia rada dingin kayak kulkas tapi aku tetap suka.

Singkat saja kami semua pulang, dan aku menceritakan kejadian selama tiga hari itu kepada Jejin. Dia sangat menghargai ceritaku dan dia memberiku semangat untuk mengejar mas kulkas itu. Hahaa… mas kulkas gak tuh?!

Selang beberapa bulan aku memikirkannya, dan tidak terasa kita sudah semester dua. Saat itu prodiku sedang mempertimbangkan kuliah online dan offline. Karena dari beberapa mahasiswa ada yang setuju dan ada yang tidak.

Jadinya prodi memutuskan untuk mahasiswa mengisi formulir, siapa saja yang ingin masuk online dan offline. Setelah semua sudah mengisi dan dengan musyawarah seluruh dosen prodi, akhirnya Dekan memutuskan, siapa saja yang mengisi formulir dengan memilih online akan mengikuti kelas online. Sama dengan halnya mahasiswa yang mengisi offline, akan mengikuti kelas offline.

Saat itu aku merasa bahagia sekali, namun ada rasa takut juga. Rasa bahagia karena setelah 6 bulan lebih tidak bertemu dengan teman kelas akhirnya bisa bertemu dalam satu kelas, tapi rasa takut juga menghantuiku karena menurut kating dosen lebih galak saat offline dari pada online.

Namun ternyata hal itu tidak benar. Dosen-dosenku baik sekali dan bisa untuk diajak kompromi memgenai tugas-tugas yang akan diberkan. namun setelah kita masuk ke kampus, aku merasa sedih sekali.

Karena Soojoon ternyata memilih kuliah online huhuhu… tapi aku tidak putus harapan.

Aku tetap memilih dia sebagai crush aku.


Dua minggu berlalu, dan akhirnya waktu itu tiba, di mana saat itu ada pengambilan almamater universitas bagi seluruh mahasiswa angkatan 21. Semua teman kelas akhirnya kumpul walaupun gak lengkap setidaknya kita bisa berkumpul dengan mereka, dan termasuk Soojoon. Aku sangat senang sekali karena sebelum dia berangkat ke kampus, tiba-tiba dia video call aku. Tanya kabar, ngobrol walau sebentar.

setelah kita mengambil almamater kita sempat berfoto bareng dan kebetulan dia foto di samping aku. Akhirnya foto itu aku cut dan di simpan rapi di galeri HP, tablet bahkan laptop. Seusai berfoto kita ketempat makan yang lumayan murah dan rekomended untuk anak kos yang uang jajannya pas-pasan kayak aku hahaha…

saat itu, aku menjaga image banget supaya dia gak risih dengan kerandoman aku. Setelah kita makan lalu kita sambil mengobrol sedikit tentang tugas, namun beberapa menit kemudian Soojoon keburu ingin pulang, karena kapal di pelabuhan akan segera berangkat menuju pulau sebrang. Saat itu aku menawarkan diri untuk mengantarnya, dan untungnya dia tidak menolak.

Saat itulah aku merasa ada kesempatan supaya ada kenangan di setiap jalan. Aku mengantarnya tidak sendirian, tentunya ada sahabat aku, Jejin yang selalu menemani aku. Ada perasaan sedih saat itu. Karena dia akan pergi walau sebentar. Namun aku bahagia karena aku bisa berboncengan walaupun sepanjang perjalanan kita berdua jarang berbicara.

Setalah mengantarnya aku menangis sepanjang perjalanan pulang, merasa ada yang kurang setelah dia pergi. Sehingga aku di tanya sama teman temanku, kenapa aku nangis. Malampun tiba, dan dia, Soojoon menuliskan pesan chat di whatsapp.

“Jera, makasih ya tadi udah mau jauh-jauh nganterin aku ke pelabuhan?!” “e-eh iya Joon, terima kasih kembali…” Jawabku.

Huaa…

 

Aku senang banget sampai tak terasa aku bersalto di kamar kos. Mau nangis, senyum- senyum sendiri kayak orang gila.

Selang beberapa bulan akhirnya kita semester tiga dan akan segera masuk perkuliahan. Namun, saat itu aku dikejutkan dengan adanya pesan chat di whatsapp yang dikirim oleh Soojoon.


Rasanya Hancur banget, sampai aku nangis ke Jejin. Ternyata dia pindah di salah satu kampus yang ada di pulau sebrang. Saat itu semua teman-temanku yang mengetahui masalah aku dan Soojoon mengirim pesan chat ke aku. Mereka baik banget, ngasih aku semangat tapi ada juga yang menyuruhku untuk cari cowok lain.

Kalau diinget-inget pas ngantar dia ke pelabuhan. Ngerasa itu semua adalah pertemuan terakhir dan aku memang harus ikhlas dengan kejadian semua ini. semakin hari aku mulai membiasakan diri untuk melupakan dia, dan sudah satu bulan aku lumayan lupa tentang dia, dan kenangan di pelabuhan itu, walau masih ada sedikit tapi itu sudah mngurangi bebanku.

Kisah dari seorang Choi Jera telah selesai. Biarkan sebuah takdir yang menemui jodohnya.

 

 

 

BIONARASI

 

Hai, aku Annisa Kusherawati, biasa disapa Hera. Aku lahir 11 Maret 2003 silam. Sekarang aku menempuh studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia semester 3 menuju semester 4 di salah satu Universitas negeri yang ada di pulau Madura. Pertemuan Berakhir Ikhlas adalah cerpen pertamaku, yang merupakan sebagian cerita adalah kisah nyataku.

Sabtu, 05 Agustus 2023

PUISI " Kenangan Pahit"

 Kenangan Pahit

Karya: Hurin Infi Afdatina

 

Waktu demi waktu telah dijalani

Semua nya  berubah secara perlahan

Tak Ada lagi senyuman manis

Yang selalu diberikan nya untuk ku

 

Dia pergi bak hilang ditelan ombak

Tak Ada jejak untuk mencarinya.

pergi dengan meninggalkan luka

Dan pergi mengukir kenangan pahit

 

Kupejamkan mataku dengan kuat

Mencoba untuk terbiasa

Tapi nyatanya tak bisa

Hanya tetesan air mata yang aku dapat.

 

Dia yang dulu kupuja puja

Sekarang hilang ditelan angin

Langit bergemuruh seakan menjadi saksi

Atas kepergiannya.

PUISI " MENUJU CAHAYA"

  MENUJU CAHAYA Karya ilna lutfiana  Dalam gelap yang pernah datang Aku jatuh,nyaris hilang Namun bara kecil di dada Tak pernah padam,terus ...