Suara Kecil Untuk Si Kaya
Karya:
Hurin Infi Afdatina
Di terik yang panas ini, aku terus
berjalan mengelilingi setiap sudut kota. Dengan membawa sekarung sampah di
bahuku. Tapi itu tidak mengeluh. Aku terus berjalan dan mencari sampah. Orang
orang menatapku dengan sinis seolah olah aku adalah makhluk yang paling
menjijikkan yang pernah mereka lihat. Tidak hanya itu, mereka bahkan sering
melemparkan sampah ke arahku.
"Hei kau, minggir sana. Mobilku
mau lewat seharusnya kau menyingkir!" Teriak seseorang dari dalam mobil
mewahnya. Kuhela nafasku sambil tersenyum dan sedikit memundurkan diri demi
memberikan mobil itu jalan. Padahal jalanan sangatlah luas. Seharusnya mobil
itu tetap bisa lewat meskipun aku tidak memundurkan langkah.
"Dasar pemulung tidak berguna!
Orang seperti kamu ini yang menjadi sampah masyarakat. Cuihhh! " Anak muda
tersebut meludahiku tanpa harus turun dari mobil mewahnya. Wajah sombongnya
membuatku ingin sekali berkata kasar, tapi aku berhasil menahannya.
"Hei
nak, tidak bisakah kau menghargai orang tua. Setidaknya kalau kamu tidak
menyukai profesiku maka harusnya kamu hormati orang yang lebih tua."
Ucapku pada akhirnya.
Anak muda tersebut hanya mendengus
tidak terima. Dia langsung menancapkan gas mobilnya dan segera pergi.
Aku
tidak menghiraukannya lagi, sudah biasa orang kaya bersifat seperti itu. Sifat
sombong selalu mendominasi mereka. Terlebih pada orang orang kecil sepertiku.
Mereka menghina, menertawakan dan selalu menindas kami. Aku tidak peduli dengan
semua itu, Allah tidak tidur. Biarkan saja mereka menertawakanku. Roda itu akan
selalu berputar. Dan tidak selamanya mereka akan berada di atas.
Aku melanjutkan perjalananku sambil
sesekali memungut botol botol di jalanan dan kumasukkan ke dalam karungku. Saat
aku menunduk mengambil sampah, seseorang menyenggolku dan menjatuhkan sebuah
dompet. Orang itu berlari semakin menjauh. Aku yang tidak mengerti apa apa
langsung mengambil dompet itu. Ku buka dompetnya untuk mencari identitas
pemiliknya karena aku berniat untuk mengembalikannya.
"Mungkin
orang itu sedang terburu-buru sampai harus lari." Gumamku dalam hati.
"ITU
DIA MALINGNYA! CEPAT TANGKAP DIA SEKARANG!"
Aku menolehkan kepalaku saat
mendengar suara teriakan maling. Dengan refleks aku menoleh ke belakang.
Beberapa orang menatapku dengan kemarahan. Ada apa ini? Mengapa mereka
menatapku seperti itu?
Mereka semakin mendekat ke arahku.
Tanpa diduga mereka semua langsung memukulku tanpa memberikan penjelasan
apapun.
"Dasar kotor! Sudah miskin
sekarang menjadi maling juga! Kita bunuh saja dia di sini." celetuk salah
satu dari mereka.
"Setuju, pemulung hina seperti
dia tidak pantas berkeliaran di jalan. Lihat saja, hari ini dia sudah mencuri
dompet. Berpura pura mengambil sampah di rumah kita dan ternyata niatnya busuk!
" Aku menangis tidak berdaya.
Tanganku terus melindungi kepalaku dari amukan mereka. Mereka terus memukulku
membabi buta dan tidak memberiku kesempatan untuk berbicara. "Ya Allah,
mengapa nasib orang kecil selalu seperti ini. Hanya karena aku seorang pemulung
dan miskin mereka selalu menindasku."
Tenagaku semakin lemah, fisikku
sudah mereka lukai. Mereka menendangku, menamparku, dan memukul kepalaku dengan
alat yang mereka pegang. Banyak orang yang lewat dan melihatku dalam keadaan
seperti ini. Tapi tak ada satu pun dari mereka yang berniat menolongku. Mereka
benar benar kejam! Sungguh tidak adil dunia ini.
Bukan aku yang melakukannya tapi aku
yang dihukumnya.
"AYAHHHHHH"
Tangan tangan itu seketika berhenti memukul. Aku mengenal suara itu. Itu adalah
suara putriku, Jannah.
Putriku Jannah langsung menerobos
kerumunan. Ku lihat dia mendorong semua orang itu dengan tangannya. Kulihat dia
menitikkan air mata saat melihat keadaanku yang sudah babak belur.
"Sungguh biadab kalian, ayahku
bukan pencuri. Mengapa kalian memukulnya?" Aku tersenyum tipis saat
melihat putriku mengangkat wajahnya tinggi tinggi dan menunjuk mereka 10 satu
persatu. Raut wajahnya menampakkan kemarahan pada mereka. Aku tidak pernah
melihatnya semarah ini. Ini adalah pertama kali aku melihatnya.
"Oh jadi kamu putrinya. Ayah
kamu ini sudah jelas pencuri jangan kamu membelanya. Kami tau kalian begitu
miskin makanya ayah kamu mencuri dompet milik salah satu dari kami" Jawab
salah satu dari mereka.
Kulihat Jannah mengeluarkan
ponselnya, ponsel bekas yang dibelinya dengan hasil keringat sendiri. Aku
sangat bangga dengan putriku. Dia sudah menjadi Mahasiswi dengan jurusan hukum di
salah satu kampus. Dia kuliah dengan mengandalkan biaya siswa yang
didapatkannya. Kalau tidak, dia mungkin tidak akan kuliah karena nasibku ini.
"Sekarang kalian lihat sendiri,
jalan ini sudah ada CCTV nya. Aku sudah meminta hasil rekaman CCTV pada pak
Satpam. Jika ayahku terbukti tidak bersalah maka aku akan melaporkan kalian
pada pihak yang berwajib." Ancam Jannah pada mereka.
Mereka tiba-tiba langsung terdiam.
Putriku Jannah langsung menunjukkan ponselnya pada mereka. Entah apa yang
mereka lihat sampai pada akhirnya wajah mereka menjadi sedikit terkejut.
"Sekarang lihat kan, ayahku
bukan pencuri! Kalian sudah menuduh dan menganiaya ayahku.
Sekarang kalian minta maaf dengan
ayahku atau aku benar benar akan melaporkan kalian." Bentaknya dengan nada
yang tinggi. Kemudian matanya langsung tertuju padaku, ia berjongkok dan
membantuku berdiri.
"Berdirilah ayah, kita memang
orang miskin. Tapi tidak seharusnya kita berada di bawah kaki kaki kecil
mereka." Ucapnya padaku.
Dengan tertatih tatih aku berdiri
dengan bantuan putriku. Tidak sampai disitu, tiba tiba orang orang itu langsung
mengeluarkan dompet mereka dan menaruhnya di tanganku. Tiga, empat, lima bahkan
sudah sepuluh dompet dalam genggamanku.
"Dompet kami seharusnya cukup
untuk menutup mulut kalian. Jangan kalian bawa kasus ini ke polisi. Kalian
sudah mendapatkan uang kan? Anggap saja itu adalah permintaan maaf kami. Kami
tau orang orang seperti kalian tidak butuh kata maaf tapi butuh uang untuk
biaya hidup kalian."
Jannah merebut kembali dompet itu
dari tanganku. Dia melemparkannya tepat di wajah mereka. "Seharusnya
kalian malu karena sudah menuduh dan menyakiti ayahku. Tapi kalian malah
semakin bersikap sombong. Apa yang sebenarnya membuat kalian begitu sombong?
Jabatan? Harta? Gelar? Atau apa?"
"Diam kau anak ingusan, kau
seharusnya beruntung karena kami memberimu dompet berharga kami. Jumlah uangnya
juga tidak sedikit." Kulihat laki laki berkumis itu membentak putriku.
Aku sudah cukup lama terdiam, ini
saatnya aku angkat bicara. Mereka tidak boleh hanya berkata kata. Ada kalanya
mereka harus mendengar.
"Tidakkah kalian malu dengan
umur kalian? Kalian berumur dewasa tapi pola pikir masih sama seperti anak
remaja. Kalian tidak mau merendah meskipun posisi kalian salah. Hanya karena
status kalian yang nyatanya lebih tinggi dari kami"
"Semua orang itu sama, antara
yang kaya dengan yang miskin. Sebenarnya kita tidak ada bedanya. Kita sama sama
manusia biasa ciptaan Allah. Seharusnya kalian sadar, dengan kalian bersifat
sombong dan angkuh seperti itu kalian hanya akan menghancurkan diri kalian
sendiri."
"Manusia itu makhluk sosial,
jadi kalian harus tau caranya bersosial di lingkungan masyarakat itu seperti
apa. Jangan selalu menganggap diri kalian yang paling benar. Kalian memang kaya
tapi masih ada lagi yang lebih kaya. Siapa lagi kalau bukan Allah. Allah maha
kaya. Janganlah bersikap sombong sebagai manusia dan jadilah pribadi yang
baik."
Mereka semua langsung menunduk
merasa bersalah setelah aku mengatakan kalimat panjang lebar itu. Tidak lama
kemudian salah satu dari mereka memelukku dan menangis meminta maaf. Mereka
semua secara bergantian meminta maaf. Aku memandang ke arah putriku, dia
tersenyum seolah olah bangga padaku.
"Terima kasih ayah." Lirih
putriku yang aku tidak tau apa maksud rasa terima kasih tersebut.
Bionarasi