PERTEMUAN BERAKHIR IKHLAS
Oleh: Annisa Kusherawati
Halo guyss perkenalkan namaku Jera, akun
memiliki marga di depan namaku yaitu Choi.
Tepatnya hari jum'at di pagi hari aku bersiap-siap berangkat menuju kampus.
Yaa... walaupun pada saat itu masih gempar-gemparnya virus Corona, aku nekat berangkat ke kampus karena
ada Diklat komunitas, dan saat itu aku masih semester
1.
Setelah sampai di kos, aku di ajak teman
kelasku untuk ngopi di cafe tempatnya tak jauh dari kampus,
by the way temanku ini cewek Yaa...
Namanya Jejin, dan dia memiliki
marga yang sama denganku
yaitu Choi. Dia orangnya baik, cantik, putih dan agak tinggi. Bisa di bilang
kami berdua ini best friend forever.
Sebelum berangkat kesana aku dan Jejin
menjemput Raesoo kekampus karena dia masih
ada kegiatan pertemuan Duta se PBSI. Oh
ya… Btw dia cowok ya guys. Tidak lama aku menunggu di sana, aku bertemu
dengan teman kelasku yaitu Soojoon.
Saat itu aku baru pertama kali bertemu
dia karena sebelumnya kita hanya menyapa lewat zoom pada saat kuliah. Aku langsung tercengang dan jantungku berdetak
kencang.
(dag-dig-dug)
“JEJINNN.. itukan
Soojoon temen kelas kita?! Ganteng
bangettt sumpah!” ucapku
ke jejin. “mana
Je? Mana?” tanyanya.
“Itu, dia jalan kaki dengan temannya?! Ganteng banget ya tuhann… putih,
tinggi, berkaca mata,
kayak oppa korea culun
huhuhuuu…” sambil berbisik karena takut di dengar orang.
Singkat saja mataku mengikuti arah dia berjalan,
sehingga aku memutar badan. Saat itulah aku mulai
suka dan jatuh cinta padanya.
Haha… bisa disebut
ini adalah cinta pada pandangan pertama, ya walaupun
kita sering bertemu
melalui zoom tapi setelah melihat
real life, suasananya sangat berbeda.
Karena temanku sudah selesai acaranya, kita berangkat ke caffe dengan menaiki 2 motor. Sesampai
di sana kita mengobrol, sambil
menunggu makanan yang kita pesan.
Saat itu
aku merasa senang karena akhirnya bisa bertemu dengan teman
kelas, yaa… walaupun tidak sebagian, namun setidaknya
kita bisa bercanda
gurau.
Cukup
lama di cafe itu, kita akhirnya pulang.
Sesampai di kos aku langsung
mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke diklat,
tempatnya lumayan jauh dari kampus. Namun seluruh peserta berkumpul di gerbang
kampus.
Karena banyak yang telat, akhirnya aku
menunggu sangat lama disana. Tapi tidak membuatku
merasa bosan, karena banyak teman yang mengajakku ngobrol dan bernyanyi bersama.
Waktu menunjukkan jam 3 sore akhirnya
kita berangkat ke lokasi. Sesampai disana ternyata
ada kakak komdis yang lagi marah-marah kepeserta lain karena tidak mengikuti aturan.
Di sana aku melihat Soojoon
dan ternyata dia mengikuti diklat
juga.
Setelah
itu semua peserta
termasuk aku diarahkan untuk ke aula untuk menaruh
barang- barang yang kita bawa dan beristirahat sejenak.
Hari
mulai malam, sehingga
kita di suruh
untuk berganti pakaian
sesuai dress code hari pertama. Setelah itu kami diarahkan kumpul
di dalam aula untuk
memulai acara pembukaan.
Sepanjang acara upacara pembukaan, aku
selalu melihat kanan kiri untuk mengetahui tempat Soojoon berada. Yaa… alasannya kalian
pasti tahu laah hahahaa…
Yaps?! Supaya
aku bisa melirik
dia kapanpun hahaha…
Setelah upacara, kita bersenang-senang
dan bernyanyi bersama. Kakak mc-nya sangat
baik, dan disana aku satu
kelompok dengan teman kelasku yang kebetulan dia ikut
diklat juga.
Malam
itu terasa menyenangkan, hingga pagi tiba.
Aku bergegas berganti
pakaian yang sesuai dengan dress code hari kedua.
Setalah itu aku kumpul di aula untuk memulai materi pertama. Namun, aku meminta izin kepada penanggung jawab di sana
karena aku, Soojoon, dan teman
ku yang sekelompok itu ada kelas
online yang tidak bisa di tinggalkan.
Setelah itu kamipun
di izinkan untuk keluar
aula dan mengikuti
kelas online.
Saat itu aku mengambil kesempatan yang sangat berharga
yaitu duduk di sebelah Soojoon. Yaa… Soojoon.
Pada saat itu jantungkun berdetak sangat kencang,
karena bisa bersebelahan dengannya.
Apa lagi dia mengobrol denganku.
“Jera, ini kamu kan? Ternyata pendek ya?!” dia bertanya
padaku sambil tersenyum. “hehehe… iya Joon” jawabku
sambil malu-malu.
“Aku pikir kamu tinggi? Soalnya liat di foto profilmu
hehehe…” ujarnya sambil memakan sesuap nasi.
“hahaha… aku emang pendek, tapi banyak juga siih yang bilang aku tinggi karena
melihat foto profilku, gak papa siih itukan pemikiran
orang?!” jawabku karena mulai nyaman mengobrol
dengannya.
Selang beberapa menit, ada kakak komdis
yang menghampiri kita bertiga, dan dia menyuruh
kita untuk masuk ke aula. “dek ayok masuk ke aula. Gak papa kok kalian sambil zoom, kapan lagi dapet dua ilmu
sekaligus”
“Ooiya kak terima
kasih kak” ujarku
sambil bergerutu kesal
dalam hati.
Lalu aku masuk ke dalam aula dan di sana
lagi-lagi aku duduk dekat dia. Waktu sudah
menunjukkan siang kami seluruh peserta istirahat dan makan siang.
Setelah makan kami pun mulai memasuki
materi yang ke-dua.
Setelah beberapa jam akhirnya materi
selesai dan kita lanjut senang-senang sampai
malam hari. Saat di pertengahan acara aku disuruh naik ke atas panggung
untuk bernyanyi, setelah acara selesai kami seluruh
peserta istirahat.
Pagi harinya semua peserta kumpul di
lapangan untuk senam pagi dan bermain game, namun
sebelum memulai game seluruh peserta dan panitia sarapan pagi supaya memiliki sedikit
tenanga untuk hari itu.
Seperti biasa… mulai dari senam dimulai
sampai selasai aku selalu melihat kanan kiri
untuk bisa mengetahui keberadaanya. Yaps?! Ternyata dia berada di barisan
belakang dengan teman cowok lainnya. Sepanjang senam aku selalu meliriknya dan seperti orang sedang mencari
barang yang hilang.
Bisa dibilang perilakuku berlebihan, tapi yaa… mau gimana
lagi. beginilah perjuangan seorang wanita yang mengharapkan
sesosok lelaki yang diidamkan.
Setelah sarapan selesai, panitia yang
bertugas di bagian outbound segera memulai acaranya.
Dengan berjalannya acara,
kelompokku tidak lupa untuk mengabadikan moment seru tersebut, kami berfoto-foto, ngobrol, dan mengikuti game sesuai
urutan.
Hari semakin siang dan kamipun sudah
merasa lelah. Akhirnya permainanpun sudah selesai,
semua peserta bergegas untuk berberes dan berganti pakaian karena acara sedikit
lagi akan selesai.
Semua
peserta berkumpul di dalam aula untuk melakukan
upacara penutupan. Sepanjang upacara aku selalu melirik ke
arah dia. Aku merasa tenang kalau melihat dia, ya walaupun dia rada dingin kayak kulkas tapi aku tetap suka.
Singkat saja kami semua pulang, dan aku
menceritakan kejadian selama tiga hari itu kepada
Jejin. Dia sangat menghargai ceritaku dan dia memberiku semangat untuk mengejar mas kulkas itu. Hahaa… mas kulkas gak tuh?!
Selang beberapa bulan aku memikirkannya,
dan tidak terasa kita sudah semester dua. Saat
itu prodiku sedang mempertimbangkan kuliah online dan offline. Karena dari
beberapa mahasiswa ada yang
setuju dan ada yang tidak.
Jadinya prodi memutuskan untuk mahasiswa
mengisi formulir, siapa saja yang ingin masuk online dan offline.
Setelah semua sudah mengisi dan dengan musyawarah seluruh dosen prodi, akhirnya Dekan memutuskan, siapa
saja yang mengisi formulir dengan memilih online akan mengikuti kelas online. Sama dengan halnya mahasiswa yang
mengisi offline, akan mengikuti kelas offline.
Saat itu aku merasa bahagia sekali,
namun ada rasa takut juga. Rasa bahagia karena
setelah 6 bulan lebih tidak bertemu dengan
teman kelas akhirnya
bisa bertemu dalam satu kelas,
tapi rasa takut juga menghantuiku karena menurut kating dosen lebih
galak saat offline dari pada online.
Namun ternyata hal itu tidak benar.
Dosen-dosenku baik sekali dan bisa untuk diajak kompromi memgenai tugas-tugas yang akan diberkan. namun setelah
kita masuk ke kampus, aku merasa
sedih sekali.
Karena Soojoon ternyata
memilih kuliah online huhuhu… tapi aku tidak putus harapan.
Aku tetap memilih dia sebagai crush aku.
Dua minggu berlalu, dan akhirnya waktu
itu tiba, di mana saat itu ada pengambilan almamater
universitas bagi seluruh mahasiswa angkatan 21. Semua teman kelas akhirnya kumpul walaupun gak lengkap setidaknya
kita bisa berkumpul dengan mereka, dan termasuk Soojoon. Aku sangat senang sekali karena sebelum dia berangkat
ke kampus, tiba-tiba dia video call aku. Tanya kabar,
ngobrol walau sebentar.
setelah
kita mengambil almamater
kita sempat berfoto
bareng dan kebetulan
dia foto di samping
aku. Akhirnya foto itu aku cut dan di simpan rapi di galeri HP, tablet bahkan
laptop. Seusai berfoto kita ketempat
makan yang lumayan murah dan rekomended untuk anak kos yang uang jajannya pas-pasan kayak aku hahaha…
saat itu, aku menjaga image banget
supaya dia gak risih dengan kerandoman aku. Setelah
kita makan lalu kita sambil mengobrol sedikit tentang tugas, namun beberapa
menit kemudian Soojoon keburu ingin
pulang, karena kapal di pelabuhan akan segera berangkat menuju pulau sebrang. Saat itu aku menawarkan diri untuk
mengantarnya, dan untungnya dia tidak menolak.
Saat itulah aku merasa ada kesempatan
supaya ada kenangan di setiap jalan. Aku mengantarnya tidak
sendirian, tentunya ada sahabat aku, Jejin yang selalu menemani
aku. Ada perasaan sedih saat itu. Karena dia akan
pergi walau sebentar. Namun aku bahagia karena aku bisa berboncengan walaupun
sepanjang perjalanan kita berdua jarang berbicara.
Setalah mengantarnya aku menangis sepanjang
perjalanan pulang, merasa ada yang kurang
setelah dia pergi. Sehingga aku di tanya sama teman temanku, kenapa aku nangis. Malampun
tiba, dan dia, Soojoon
menuliskan pesan chat di whatsapp.
“Jera, makasih ya tadi udah mau jauh-jauh nganterin aku ke pelabuhan?!” “e-eh
iya Joon, terima kasih kembali…” Jawabku.
Huaa…
Aku senang banget sampai tak terasa aku
bersalto di kamar kos. Mau nangis, senyum-
senyum sendiri kayak orang gila.
Selang
beberapa bulan
akhirnya kita semester
tiga dan akan segera masuk perkuliahan. Namun, saat itu aku dikejutkan dengan
adanya pesan chat di whatsapp yang dikirim oleh Soojoon.
Rasanya Hancur banget, sampai aku nangis
ke Jejin. Ternyata dia pindah di salah satu
kampus yang ada di pulau sebrang. Saat itu semua teman-temanku yang
mengetahui masalah aku dan Soojoon
mengirim pesan chat ke aku. Mereka baik banget, ngasih aku semangat tapi ada juga yang menyuruhku untuk cari cowok
lain.
Kalau
diinget-inget pas ngantar
dia ke pelabuhan. Ngerasa itu semua adalah pertemuan terakhir dan aku memang harus ikhlas
dengan kejadian semua ini. semakin hari aku mulai membiasakan diri untuk melupakan dia, dan sudah satu bulan aku
lumayan lupa tentang dia, dan kenangan
di pelabuhan itu, walau masih
ada sedikit tapi itu sudah mngurangi bebanku.
⸙
Kisah dari seorang Choi Jera telah selesai. Biarkan
sebuah takdir yang menemui
jodohnya.
BIONARASI
Hai, aku Annisa Kusherawati, biasa disapa Hera. Aku lahir 11 Maret 2003 silam. Sekarang aku menempuh studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia semester 3 menuju semester 4 di salah satu Universitas negeri yang ada di pulau Madura. Pertemuan Berakhir Ikhlas adalah cerpen pertamaku, yang merupakan sebagian cerita adalah kisah nyataku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar