Diantara Cium dan MuntahKarya: YAP
Hari itu, kau melambai padaku —
Heran, namun ada bahagia yang kau sembunyikan di sudut matamu.
Perasaan jalang dalam diriku menggeliat, meronta,
Menagih seperti api yang lapar.
Mencium.
Memeluk.
Meraba.
Bercinta.
Biasanya sampai pagi—
Sampai tubuh dan malam sama-sama letih.
Tapi lain hari, matamu berkata lain,
Tak lagi membisikkan hasrat, tapi menjatuhkan vonis:
Meludahi.
Menjijik.
Membuang.
Muntah.
Dan itu pun,
Biasanya sampai pagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar