Kamis, 12 Februari 2026

PUISI "Harapan yang Membawa Langkah"

Harapan yang Membawa Langkah

                                                                        Karya: Nafilah

Di balik runtuhnya dinding kegagalan,

Masih ada secercah cahaya menunggu,

Membisikkan bahwa mimpi tak pernah mati,

Hanya tertidur di pelukan waktu.


Aku meraih luka, menjadikannya guru,

Menyulam perih menjadi keberanian,

Dan dari retakan yang pernah menjatuhkan,

Kutemukan alasan untuk berdiri lagi.


Harapan tumbuh di dada yang tak menyesal,

Menjadi Kompas dalam gelap perjalanan,

Mengirim setiap langkah yang ragu,

Hingga yakin berubah menjadi nyata.


Dan pada akhirnya,

Aku tahu impian bukan sekedar bayangan,

Melainkan tujuan yang terus memanggil,

Menuntunku belajar tanpa henti.


PUISI "Langkah yang Terhenti"

Langkah yang Terhenti
Karya: marifalaili


Dunia tengah sibuk memuja layar

Banyak mimpi jatuh tak sempat berkibar

Terbiasa akan waktu yang menggulir

Namun lupa melangkah jauh ke depan


Aku salah satunya

tenggelam akan  kenyamanannya 

Lupa akan cita-cita

Padahal itu cuma sementara


Suatu hari langkahku terhenti

Ku temukan sebuah buku yang tak pernah ku sentuh lagi

Ku baca ulang setiap diksi

Alur dan emosi terasa kembali


Kini aku melangkah lagi

Jadi diriku versi terbaik

Wujudkan kembali mimpi yang sempat ku pendam rapi

Sempat hilang arah diri

Dan sempat ku pasrahkan pada sunyi


30/11/2025


PUISI "Api dalam Sekam"

Api dalam Sekam
karya: Nur Safira F.


Di dalam jiwa, api kecil menyala

Sebuah impian yang tak pernah padam

Walaupun badai menghadang, tak gentar

Karena api dalam sekam, akan membara


Dia bangkit dari abu, seperti fiks nirwana

Membangun diri, dengan setiap langkah

Menyongsong masa depan, dengan hati yang teguh

Impian menjadi kenyataan, seperti matahari yang terbit


Di setiap langkah, kekuatan ditemukan

Untuk terus maju, dan tidak menyerah

Api dalam sekam, menjadi api yang besar

Membakar semangat, untuk mencapai impian yang jauh


Tidak takut dengan rintangan yang ada

Karena impian akan tercapai

Dengan api dalam sekam, terus maju

Dan mencapai puncak, dengan hati yang gembira.


PUISI "DENGANMU"

DENGANMU
Karya:Orlena Dewi Wulansari

 

DiSetiap jantung yang berdetak

Nafas yang berhembus 

Menatap langit-langit biru di atas sana.


Hembusan angin yang datang serasa menyentuh hati ini

Burung- Burung berkicau disertai demgan ombak kencang,

Serasa seperti pertemuanku denganmu.


Mengapa, mengapa aku selalu teringat tentang dirimu 

Dirimu yang tak pernah menganggapku.


Menjalin kebersamaan denganmu….

Hanyalah sebatas mimpi bagiku,

Biarlah keinginan ini ku simpan dalam hatiku,

Karena bersama dirimu adalah hal yang mustahil bagiku.

                                            
                                                                                                                Telang, 28-12-24

PUISI " Harapan"

 Harapan
Karya: Luthfiah Roudhotul Jannah


Aku dukung

Aku disanjung

Aku disayang

Dan aku beruntung


Jika aku berhenti

Pasti banyak yang bersedih

Karena harapan mereka tetap sama

Melihat aku bisa


Meniti jembatan bersama

Mengukir tujuan yang sama

Bergandeng tangan selamanya

Untuk mencapai bahagia


PUISI "Peta Jejak Kehidupan"

 Peta Jejak Kehidupan
Karya: Rani Siswati


Dalam meraih sebuah impian

Ada manusia yang lahir dengan peta di tangannya

Jalannya lurus dan arahnya sudah nyata

Mereka melangkah dengan pasti 

Seakan dunia telah menyiapkan apapun untuknya


Namun tidak semua seberuntung itu

Ada yang hanya diberi alat tulis 

untuk membuat peta jalannya sendiri

Di kertas kosong tanpa garis, tanpa coretan dan tanpa tulisan


Pensil itu sering kali salah

Membuat garis yang tak lurus atau bahkan salah arah

Namun dari coretan itu kita bisa belajar menerima

Bahwa semua tak harus sempurna


Di antara kebingungan dan keraguan

Kita menulis ulang jalan yang akan kita lalui

Menciptakan jejak, menemukan makna kehidupan 

Hingga perlahan peta  kehidupan dapat dipandang


Sebab hidup bukan tentang siapa yang punya peta

Tetapi tentang siapa yang berani berjalan

Melangkahi kerasnya kehidupan

Dan menggambar petanya sendiri


PUISI "Meniti Cahaya Harapan"

 Meniti Cahaya Harapan
Oleh: Azkadina


Langkah boleh goyah,

Namun jiwa tidak boleh menyerah.

Setiap jatuh jadikan pengalaman,

Untuk bangkit menuju sebuah masa depan.


Impian bukan hanya semu,

Ia berdenyut dalam doa yang tulus,

Mengalir setiap perjuangan.

Meski gelap menutupi jalan,

Cahaya harapan memancar,

Menyinari jejak kaki yang tak pernah gentar.


Bangkitlah…..

Jadikan luka sebagai kekuatan

Bangkitlah…..

Sebab disana,diam diam-diam menaata masa depan.


PUISI "Sang impian"

 Sang impian
Karya : RAa


Masa depan yang dinanti

Sebuah harapan yang harus terwujudkan

Berawal dari mimpi yang sederhana

Dari hati yang tak terganti

Dengan sejuta langkah aku menggapai

Melawan derasnya ombak malam

Tak ada kata lelah

Tak ada kata menyerah

Dimalam yang sunyi ku terus menengadah

Kepadamu, ku terus berpasrah

Biarkanlah mereka yang mengusik

Ku akan terus raih semua impianku


PUISI "Mereka yang tak terlihat"

 Mereka yang tak terlihat 
Karya : Nee_chan


Sangkala

melangkah layaknya siput di gurun sahara

Dua mata duduk diantara ribuan kembarannya.

Tubuhnya menciut bak seekor liliput

Mulutnya berteriak tapi tampak senyap

Ia terdiam tapi tenaganya semakin lenyap


Dialah lalat di antara apis cerana

Tak seorang pun menyadarinya

Bahkan suaranya samar dalam dunia yang fana

Dialah karang di depan letupan samudra 

Tubuhnya berdiri tegak walau tau dirinya akan terkikis dan menua


Beribu tapak memanjang dibelakang tubuhnya 

Mengekor bagai saksi bisu perjalanannya 

Beribu luka menggores tubuhnya

Melukis tato tebal bertinta darah

Begitu merah berkobar seperti bara


Ah mata itu kembali bercahaya

Warnanya merah menyala diterpa cahaya asa

Harapannya sudah di depan mata

Melambai dan tersenyum penuh bangga

Lalu teriakannya menghentikan segala teriakan di sekitarnya 


“walau tanpa tepuk tangan, aku berhasil sampai tujuan”


PUISI "Andai Ia Masih Ada"

 Andai Ia Masih Ada
Karya: Srwhyny


Andai ia ada,

Pasti ada tatap lembut yang menenangkan langkahku,

Senyum teduh yang tak pernah lelah menjaga,

Dan doa lirih yang selalu mengiringi di setiap malam.

Tanpa suaranya, aku sering merasa sepi,

Seakan dunia kehilangan cahaya yang dulu menuntunku.


Andai ia ada,

Takkan ia biarkan air mata ku jatuh untuk hal-hal remeh,

Karena peluknya adalah rumah,

Nasihatnya adalah jalan pulang.

Kini yang tersisa hanyalah gema kenangan,

Membisikkan betapa hangatnya kasih yang tak tergantikan.


Andai ia masih ada...

Perjalananku takkan terasa hampa,

Ada tempat untuk mengadu,

Ada bahu untuk bersandar,

Ada jiwa yang memahami tanpa banyak bicara.

Namun kini, kerinduan ini tumbuh diam-diam,

Menjadi doa, semoga disana ia tersenyum bahagia.


PUISI "Langkah Si Pemberani"

 Langkah Si Pemberani
Karya: Uswatun Hasanah


Ku tapaki jalanan terjal nan berliku ini,

penuh duri di berbagai sisi.

Luka-luka itu adalah guru sejati,

sembari berbisik untukku bangkit kembali.


Bangkit bukan sekedar berdiri,

tapi mampu dan mau berlari meski perih.

Karena impian tak akan datang sendiri,

ia terlahir dari jiwa-jiwa pemberani.


Api kecil itu tetap menyala didalam dada,

terkadang redup, bahkan hampir padam cahayanya.

Namun dengan tekad kuukir arah,

menyulam harapan disetiap langkah.


PUISI "Bungkam"

 Bungkam

Karya: WB


Di antara kata yang ingin terucap,

Ada dinding tak kasat yang membungkam setiap harap.

Lidah seakan kelu membeku, 

Sedangkan pikiran bergemuruh riuh tanpa arah sembuh,

Namun bibir seakan terkunci,  sehingga tak ada satu pun kata yang runtuh.


Rasa sesak yang begitu menusuk, dada yang terasa begitu sempit,

Kisah yang harusnya ada, kini tersembunyi rapi.

Takut akan salah, gentar akan tanggapan,

Memilih untuk membisu, walau hati berteriak dalam kegelapan.


Mata bicara pilu, sorotnya menyimpan keluhan,

Tangan mengepal erat, menahan seribu beban.

Andai saja mampu, bersuara tanpa ragu,

Membelah kesunyian, mengurai benang sendu.




PUISI "Diantara Cium dan Muntah"

 Diantara Cium dan Muntah
Karya: YAP


Hari itu, kau melambai padaku —
Heran, namun ada bahagia yang kau sembunyikan di sudut matamu.

Perasaan jalang dalam diriku menggeliat, meronta,
Menagih seperti api yang lapar.


Mencium.


Memeluk.


Meraba.


Bercinta.


Biasanya sampai pagi—
Sampai tubuh dan malam sama-sama letih.

Tapi lain hari, matamu berkata lain,
Tak lagi membisikkan hasrat, tapi menjatuhkan vonis:


Meludahi.


Menjijik.


Membuang.


Muntah.


Dan itu pun,
Biasanya sampai pagi.


PUISI " MENUJU CAHAYA"

  MENUJU CAHAYA Karya ilna lutfiana  Dalam gelap yang pernah datang Aku jatuh,nyaris hilang Namun bara kecil di dada Tak pernah padam,terus ...