Sabtu, 23 September 2023

CERPEN "Perempuan Penikmat Lara"

Perempuan Penikmat Lara

 

Oleh Vina Amelia Rosida

 

 

 

Malam itu, di tengah hujan mengguyur setiap sudut kota, seorang perempuan kepala dua terbaring di atas tanah yang basah. Warna tanah yang cokelat pekat dan lebih tampak seperti lumpur. Baju putih yang dipakainya tidak lagi berwarna putih. Seluruh badannya berlumur tanah, tak terkecuali wajahnya. Meskipun minim cahaya dan di bawah hujan lebat yang lebih seperti badai, akan tetapi masih banyak orang berlalu lalang.

Di dekat tempat gadis itu terbaring, terdapat sebuah halte bus yang ramai oleh mereka yang pulang kerja, kuliah atau kebetulan selesai bepergian, akan tetapi mereka terjebak oleh hujan. Tepat garis lurus dari halte bus, perempuan tersebut dapat terlihat dengan jelas. Namun tak seorang pun berani mendekat. Bisa saja mereka segan mendekat karena mengira sebuah mayat atau memang minim empati.

Tiba saat pemberhentian bus terakhir, hujan turut berangsur reda. Semua orang pergi meninggalkan halte. Ada yang tersenyum merekah karena hujan berkesudah dengan lekas. Ada yang pergi tanpa ekspresi atau tertawa tanpa empati pada perempuan yang terbaring lunglai di seberang mereka. Terkecuali seorang perempuan paruh baya yang baru saja turun dari bus berani berjalan mendekat.

“Nak,” panggilnya pada seorang perempuan yang terbaring di depannya. “Kamu masih hidup kan?” tanyanya ragu.

Perempuan yang semula terbaring dengan mata tertutup itu kini membuka matanya. Situasi tersebut mampu membuat perempuan paruh baya tersebut terkejut. Bagaimana tidak, perempuan yang sempat dikira mayat ternyata masih sempat membuka mata.

“Alhamdulillah, masih hidup. Kenapa di sini, Nak? Tidak pulang? Di mana rumahmu cantik? Biar Ibu antar pulang.” Perempuan paruh baya tersebut melontarkan pertanyaan beruntun, dan hal tersebut membuat perempuan muda di depannya bingung menjawab pertanyaan yang mana. Ia hanya menjawab, “Nanti saya pulang sendiri saja.”

“Nama kamu siapa gadis cantik?” tanyanya sambil tersenyum getir.


“Aldra, Aldraneva Sastra.” Jawab perempuan muda tersebut. Perempuan tersebut berusaha untuk bangkit namun ia hampir terpeleset jika saja perempuan paruh baya di depannya tidak menarik tangannya. “Ibu pulang saja, sepertinya badai akan berlanjut. Saya tidak mau Ibu terjebak hujan lagi karena saya.”

“Saya suka hujan, badai sekalipun, saya menikmatinya.” Perempuan paruh baya tersebut memberikan kotak tisu dari tasnya kepada Aldra. Aldra menggeleng, ia menolak tisu pemberian perempuan paruh baya tersebut. “Tidak usah, Buuu?..”

“Panggil saja Bu Saura!”

 

“Bu Saura pulang saja! Ini sudah malam.”

 

Aldra tidak bermaksud mengusir perempuan paruh baya bernama Saura tersebut. Hanya saja ia merasa sungkan karena membuat Bu Saura berhenti dan meladeni kegilaannya. Ia lebih senang jika orang lain segan dan tidak peduli dengan kegilaannya. Namun perempuan tersebut menolak pulang jika Aldra juga tidak segera pulang.

“Mau duduk di halte?” Tanya Aldra pada Bu Saura. Ia tidak enak membiarkan perempuan paruh baya itu terkena rintikan hujan. Meskipun hanya tetesan kecil, tetap saja bisa membuat pakaian Bu Saura basah. Bu Saura menyetujui tawaran Aldra. Kedua perempuan tersebut berjalan menyebrangi jalan raya yang lengang. Tidak satupun kendaraan melintas di jalan raya tersebut. Keduanya duduk terdiam memandang pepohonan seram di seberang jalan, tempat Aldra terbaring sebelumnya. Kesunyian terpecahkan dengan pertanyaan sedu Bu Saura. “Nak Aldra, suka hujan juga?”

Aldra menggeleng. “Saya suka berenang di tanah basah saat hujan.”

 

“Boleh Ibu tahu kenapa Nak Aldra menyukainya?” Bu Saura beralih menatap kedua mata Aldra yang juga menatapnya.

“Karena ingin. Sekarang, kenapa Bu Saura suka hujan?” Aldra balik bertanya pada Bu

Saura.

 

“Karena itu juga keinginan saya.”

 

“Bu, kenapa keinginan kita tidak bisa berubah? Kenapa setiap hujan Bu Saura selalu ingin melihat hujan, menyentuhnya bahkan bermain di tengah derasnya hujan? Dan kenapa saya tidak berhenti bertingkah bodoh dengan berenang di tanah saat hujan tiba? Saya ingin


berhenti, tapi tidak bisa. Saya selalu ingin mengulang kebodohan itu seperti dahulu saya melakukannya dengan almarhum orang tua saya.”

Perempuan paruh baya tersebut menghembuskan napasnya panjang. Kali ini ia mengubah posisinya Sembilan puluh derajat menatap Aldra dengan tenang dan nyaman. Ia dapat menatap kedua mata lelah Aldra dan kepasrahannya pada hidup. Kedua mata cokelat itu tampak kosong. Meskipun begitu semua orang bisa langsung mengetahui jika ia usai menangis di sepanjang hujan malam ini.

“Nak Aldra, banyak orang yang mengeluh dengan apa yang terjadi dalam kehidupan mereka, akan tetapi mereka lebih memilih hal paling aman dengan tetap mejalani kehidupan mereka dengan apa adanya. Mereka khawatir jika sesaat mereka mengubah cara pandang mereka tentang kehidupan, justru itu akan menyulitkan mereka nantinya. Entah itu karena ketidaknyamanan atau mereka khawatir tentang pandangan orang lain kepada mereka. Tapi, apakah Nak Aldra akan nyaman dengan berhenti melakukan hal yang Nak Aldra sukai?” Aldra menggeleng.

“Jika tidak, tidak masalah jika Nak Aldra tetap melakukan hal yang disukai meskipun bagi orang lain itu adalah sebuah kebodohan. Kebahagiaan itu ada di tangan setiap orang. Tinggal mereka memilih ingin bahagia atau tidak. Ketika porsi kebahagiaan Nak Aldra adalah berenang di tanah yang basah saat hujan, karena merasa lebih dekat dengan orang tua Nak Aldra itu juga tidak masalah. Selama itu mebuat Nak Aldra bahagia, lakukanlah! Namun jika ternyata Nak Aldra merasakan ketidakbahagiaan karena orang tua Nak Aldra pergi lebih dahulu, itu juga pilihan Nak Aldra. Ingin tetap dalam kebahagiaan yang bodoh menurut orang lain atau berlarut dengan rasa sakit dalam ketidakbahagiaan yang bodoh menurut orang lain. Hidup Nak Aldra saat ini menentukan hidup Nak Aldra di hari esok. Jika saat ini Nak Aldra tetap berharap ayah dan Ibu bisa hidup lagi dan mengeluh dengan apa yang telah terjadi sehingga membuat Nak Aldra tetap tidak bahagia, maka hari ini esok dan seterusnya akan tetap dalam ketidakbahagiaan. Berbeda jika hari ini mau ikhlas dan terus menjalani kehidupan yang ada, maka ketidakbahagiaan itu akan lepas dengan sendirinya. Hari ini esok dan seterusnya, bahagia akan dalam pelukan Nak Aldra.”

Aldra menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia baru menyadari cara pandangnya terhadap kehidupan bodoh yang ia jalani. Setiap berenang di tanah yang basah, itu bukanlah sebuah kebahagiaan. Ia sama sekali tidak pernah merasa bahagia. Justru dengan melakukan hal


yang sama selayaknya masa ketika kedua orang tuanya masih hadir dalam hidupnya. Mungkin ia nyaman melakukannya, akan tetapi ia sama sekali tidak bahagia.

Ketika hujan tiba, ia selalu tertarik untuk berenang di tanah basah dan selalu berharap ia dapat melakukannya bersama kedua orang tuanya. Ia selalu berharap orang tuanya tidak pernah meninggal dan selalu hadir di setiap sesi kehidupannya. Padahal dengan melakukan hal tersebut tidak akan merubah realita bahwa kedua orang tuanya tidak akan hidup lagi di kehidupan Aldra saat ini.

Perempuan muda itu memeluk kaki Bu Saura erat. Dalam hatinya ia menyesal sempat menolak pertemuannya dengan Bu Saura. Singkat, hangat dan penuh hormat ia sampaikan, “Terima kasih, Bu Saura.”

 

 

Bionarasi

 

Vina Amelia Rosida yang sering disapa Vina ialah mahasiswi prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Trunojoyo Madura. Ia kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur. Ia menggemari bidang menulis, untuk itulah ia memutuskan untuk bergabung dengan komunitas Karsa di kampus.

Sabtu, 16 September 2023

PUISI "PERMAINAN TAKDIR"

PERMAINAN TAKDIR 
Karya: Fadil 
 
Manusia bagaikan boneka 
Berjalan ke sana kemari bagaikan cerita 
Bercerita dengan berbagai cara permainan 
Keinginan dan takdir seolah bertentangan 
 
Kini hanya bisa menghitung hari 
Terbesit dalam ruang pikiran hampa 
Berjuta tetesan air mata mengandung bara 
Di mata takdir semuanya sama tanpa rasa iri 
 
Akan tiba waktunya  
Akan tiba masanya 
Saat hidup bagaikan permainan catur 
Hidup yang selalu diatur 
 
Angin selalu menerpa roda kehidupan 
Kehidupan mana yang selalu kalian banggakan  
Hidup yang bergelimang harta di bawah rasa derita 
Hidup yang miskin dilingkupi derita  
 
Permainan takdir memang membingungkan  
Baik buruk cerita itu adalah milik kita 
Tanpa bisa diubah 
Tanpa bisa dihindari

Sabtu, 09 September 2023

CERPEN " Satu Hal"

 Satu Hal

Karya Dilla Nur Safitri

 

“Mbah, lampunya tak matiin ya. Udah pagi”

“Iya, Nduk. Eh, itu sambalnya masukin ke wakulnya Simbah”.

Pagi itu seperti biasa, Sedah sudah disibukkan membantu neneknya untuk menyiapkan

dagangan. Mbah Damni, Nenek Sedah yang merupakan seorang penjual nasi pecel di pasar.

Setiap jam 03.00 malam, wanita paruh baya tersebut bersama Sedah bangun untuk mulai

memasak. Mereka berdua hidup di rumah sederhana yang tak begitu besar dan tak begitu

sempit. Di rumah tersebut, Mbah Damni hanya tinggal bersama Sedah. Anak-anak Mbah

Damni hanya satu yang masih hidup, yakni pak lek Sedah. Anak Mbah Damni tersebut sudah

berkeluarga dan keadaannya pun tak jauh berbeda dengan Mbah Damni, ya, pas-pasan.

 

Dari kecil, Sedah sudah hidup bersama neneknya. Orang tua Sedah sudah pergi dulu

meninggalkannya ke dimensi yang berbeda sejak Sedah masih balita. Meskipun hidup tanpa

kedua orangtua, Sedah tidak pernah kekurangan kasih sayang. Mbah Damni yang sedari dulu

merawat Sedah sangat menyayanginya. Dengan kehidupan yang pas-pasan, Mbah Damni bisa

menyekolahkan Sedah sampai SMA. Ia memiliki keinginan agar Sedah bisa melanjutkan

pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

Sejak Sedah lulus SMA, barang dagangan yang dijual Mbah Damni lebih banyak dari biasanya.

Ia juga selalu pulang lebih siang dari biasanya. Sedah yang saat itu sudah tidak bersekolah,

juga turut membantu neneknya berjualan di pasar. Mengingat Usia Mbah Damni yang sudah

tua, Sedah pun khawatir dengan keadaan neneknya jika berjualan terlalu lelah.

***

Malam itu, dingin terasa mencekam. Rintikan air yang jatuh dari langit terdengar berirama di

atap rumah Mbah Damni.

“Mbah, mau minum teh hangat?”.

“Boleh Nduk, gulanya jangan banyak-banyak ya!”.

Terdengar suara petikan kompor, pertanda Sedah sedang merebus air. Tak lama kemudian,

Sedah keluar membawa teh hangat untuk simbahnya. Keduanya pun duduk bersama di ruang

tengah.

“Mbah, besok Simbah di rumah saja ya, Ndak usah ke pasar”

“Kalau Simbah nggak ke pasar ya kita ndak punya uang to Nduk” Mbah Damni tersenyum

sambil menatap Sedah.

“Kita tetap jualan Mbah tapi yang jualan ke pasar biar Sedah saja. Simbah dirumah istirahat”

“Loalah, sampean iku wayahe sekolah Nduk, ora kok Melu Simbah sadean ndek Pasar” (kamu

itu waktunya sekolah Nduk, bukan ikut nenek jualan di pasar). Senyuman Mbah Damni

semakin lebar mendengar celetukan Sedah yang tampak khawatir dengannya.

“orang sudah lulus kok disuruh sekolah lagi to Mbah”. Sedah tersenyum sambil mengernyitkan

dahinya.

***

“Mbah, pecelnya 2 dibungkus nggeh”

“Lauknya apa saja Mbak”

“Kados biasane mawon (seperti biasanya saja). Sedah, sekarang sering ikut ke pasar ya”

“iya, Buk”. Sambil tersenyum, Sedah menjawab pelanggan Mbah Damni.

“La itu lo buk, orang waktunya sekolah kok malah ikut neneknya jualan di pasar. Anak

sekarang kalo disuruh sekolah kok susah, beda sama orang dulu”. Celetuk Mbah Damni yang

sengaja menggoda Sedah.

Mbah Damni sangat menginginkan Sedah melanjutkan pendidikannya. Ia sebenarnya melarang

Sedah ikut berjualan di Pasar, namun Sedah bersikeras untuk membantunya. Ia tahu biaya

kuliah tidak sedikit, namun Mbah Damni tetap akan berusaha agar Sedah bisa melanjutkan

pendidikannya. Di lubuk hati terdalam Sedah sebenarnya ingin melanjutkan pendidikannya.

Namun melihat keadaan Mbah Damni, ia tak tega jika neneknya harus bekerja keras untuk

membiayainya kuliah. Setiap kali Mbah Damni merajuknya agar Sedah mau melanjutkan

pendidikannya, ia selalu menolak. Di saat itulah Mbah Damni juga selalu terlihat sedih

mendengar jawaban Sedah.

***

“Iya, Mbah. Aku akan kuliah”.

Setelah berulang kali Mbah Damni merajuk, akhirnya Sedah pun mengiyakan keinginan Mbah

Damni. Walaupun sebenarnya ia sendiri khawatir dengan jawabannya, karena ia mengiyakan

keinginan Mbah Damni semata-mata untuk menyenangkan hati neneknya. Tak lama kemudian

Sedah akhirnya pergi ke luar kota untuk merantau melanjutkan pendidikannya. Mbah Damni

dengan bangga mengantarkan cucunya ke Terminal. Sedangkan Sedah, terlihat menahan

kesedihannya dengan membalutnya dalam senyuman.

“hati-hati ya, Nduk. Jangan lupa makan, jaga kesehatannya. Nanti kabari Simbah kalau sudah

sampai”

“Iya, Mbah. Simbah sehat-sehat dirumah, jangan terlalu capek jualannya.”

“iya, Nduk. Ndak usah khawatir.”

“Ati-ati ya dah, dijaga kesehatane”

“Enggeh pak lek”.

Terdengar pintu bis ditutup oleh kernet. Dengan melambaikan tangan dari balik jendela, Sedah

mengisyaratkan kepergiannya. Semakin roda bis berputar semakin kecil bis terlihat, hingga

bayangan bis tersebutpun benar-benar hilang dari pandangan Simbah dan pak lek Sedah.

“Sudah Mbok, Ndan usah sedih”

“ndak kok, mbok seneng Sedah mau kuliah”

“Mbok, kuliah itu ndah murah Lo, mahal. Simbok nanti Ndak kuat bagaimana? Kalau Sedah

bantu Simbok di Pasar kan ya enak, Simbok Ndak kecapekan”. Celetuk pak lek Sedah

mengiringi perjalanan pulang mereka.

“Oalah le, Simbok itu cuma ingin Sedah bisa hidup lebih baik dari kita. Simbok kan nggak tau

sampai kapan bisa menemani Sedah. Kalau Sedah sukses, Simbok kan tenang meskipun ia

sendiri”.

“lah, Simbok ngomong apa”.

Mbah Damni hanya menyimpulkan senyum mendengar celetuk anaknya.

***

Di sudut kamar kos-kosanya Sedah duduk termenung menatap langit-langit atap kamarnya. Ia

merasa tidak bisa jika harus membuat neneknya susah lagi. Akhirnya Sedah pun memutuskan

untuk bekerja lebih dahulu daripada melanjutkan pendidikannya. Dari situ, Sedah mulai

mencari pekerjaan. Di tengah aktivitasnya mencari informasi pekerjaan, tiba-tiba

handphonenya berbunyi.

“nduk, bagaimana betah apa tidak disana?”. Terdengar suara Mbah Damni diseberang sana.

“Alhamdulillah Mbah, enak kok disini”.

“alhamdulillah kalau begitu, bagaimana pendaftaran kuliahnya lancar?”.

Mendengar pertanyaan Mbah Damni, Sedah terdiam seketika. Ia tak tahu harus menjawab apa.

Dari lubuk hatinya ia tak mau berbohong, namun ia juga tak mau membuat neneknya kecewa.

“pendaftaranya masih Minggu depan kok Mbah”

***

Setiap pagi, Sedah pergi bekerja menjaga toko yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Ia mulai

bekerja untuk mencari penghasilan. Selain itu, Sedah juga memiliki pekerjaan tambahan

menjadi pelayan di sebuah restoran. Setelah sehari bekerja di toko, malamnya ia harus bekerja

di sebuah restoran. Setiap mbah Damni telepon, ia selalu mengabarkan bahwa dirinya sedang

menyiapkan urusan perkuliahannya.

Berbohong kepada neneknya adalah hal yang menyakitkan bagi Sedah. Namun ia tidak bisa

jika melihat neneknya harus bekerja keras untuk membiayainya di usia senja.

***

“Mbok, ini berasnya. Ini juga ada sayur asem. Rubi tadi masak sayur asem.”

“iyo, Le. Taruh meja situ aja.”

“Sore-sore kok cuci baju banyak to, Mbok.”

“Iyo le, bajune tetangga.”

“Kok Simbok yang nyuci?”

“Oalah, ya buat tambah-tambah to le. Biar bisa kirim Sedah”

Mendengar jawaban mbok Damni, pak lek Sedah terkejut. Ia baru tahu jika ibunya juga bekerja

menjadi tukang cuci baju. Melihat ibunya yang sudah senja, pak lek Sedah berusaha

menasihatinya agar ia tidak bekerja terlalu keras. Namun, mbok Damni hanya menyimpulkan

senyum atas nasihat anaknya. Pak lek Sedah pun khawatir dengan keadaan ibunya jika ia

bekerja terlalu berat yang bisa menyebabkan ia kecapekan. Menurutnya, berjualan ke Pasar di

usia Mboh Damni itu sudah melelahkan. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa selain menghela

nafas panjang.

***

Uhuk-uhuk...Terdengar suara mbok Damni yang sedang batuk di seberang sana.

“Simbah sakit?”

“Enggak Ndok, Cuma tenggorokan Simbah gatel aja, biasa sudah tua.”

“Simbah jangan capek-capek kerjanya”. Suara Sedah menasihati neneknya. Sedah belum tahu

jika neneknya juga bekerja sampingan menjadi tukang cuci. Seperti biasa, setiap telepon mbok

Damni menanyakan perkembangan terkait perkuliahan Sedah. Begitupun Sedah, ia juga selalu

menjawab seolah-seolah ia memang benar-benar sedang berkuliah. Tak ada jawaban lain yang

bisa diucapkan Sedah selain kebohongan tersebut. Ia pun mengerti, jika neneknya tahu pasti

ia akan sangat kecewa dengan Sedah. Namun, tak ada yang bisa dilakukannya lagi.

Waktu pun terus bergulir, dari waktu ke waktu pertanyaan mbok Damni sudah seperti nada

dering handphone Sedah, begitupun kebohongan Sedah sudah seperti angin yang selalu

dinantikan Mbah Damni.

***

“Dah, kamu bisa pulang besok?”

“Emangnya ada apa Pak lek? Besok masih hari Rabu, Sedah nggak libur.”

“Simbab sakit, Dah. Sekarang dirawat di rumah sakit”.

Sedah seketika terkejut mendengar kabar neneknya. Tanpa berpikir panjang ia pun mengiyakan

permintaan pak leknya. Keesokan harinya Sedah langsung bergegas pulang. Sesampainya di

sana, Sedah pun terkejut melihat dari balik jendela kalau infus sudah terlepas dari tubuh

neneknya, sedangkan neneknya masih terbaring di ranjang dengan mata tertutup. Di seberang

ranjang Mbah Damni, terlihat pak lek dan Bu leknya saling mengusap pipi karena basah air

mata.

“Pak lek, Buk Lek! “

Melihat Sedah datang, air mata mereka berdua tambah menghujam deras. Mbah Damni,

sebelum Sedah datang telah menghembuskan nafas terakhirnya.

“Sedah yang sabar ya”. Suara buk lek Sedah yang terdengar menguatkan Sedah namun ia

sendiri pun rapuh.

“Pak lek, Buk Lek, kenapa Sedah nggak dikabari “. Suara Sedah yang tidak terdengar jelas

karena beriringan dengan irama tangis.

“Simbah terkena serangan jantung Nduk, pagi ini tanpa sepatah katapun Simbah meninggalkan

kita”. Suara pak lek Sedah yang terdengar begitu layu.

Mbah Damni, wanita paruh baya yang tangguh dan sabar telah meninggalkan permatanya

untuk selama-lamanya. Sudah tiga hari Mbah Damni di bawa ke rumah sakit karena ia tibatiba pingsan saat di pasar. Pak lek Sedah yang memang sengaja mengabari Sedah semalam

karena ia tak ingin Sedah khawatir. Namun, tepat di pagi hari ketiga Mbah Damni di rumah

sakit, Dokter membawa kabar buruk bagi keluarga Sedah. Ia mengabarkan bahwa Mbah Damni

terkena serangan jantung dan telah meninggalkan kita semua. Kabar itu tentu menjadi kabar

buruk yang menghujam relung keluarga Sedah. Tanpa diketahui keluarga Sedah, dokter

menyampaikan bahwa Mbah Damni mengidap penyakit jantung sejak lama. Namun mbah

Damni tidak memberi tahu siapapun karena ia tak mau keluarganya khawatir. Mendengar

perkataan dokter, pak lek Sedah langsung teringat dengan perkataan mbah Damni yang mana

ia menginginkan Sedah melanjutkan pendidikannya agar memiliki kehidupan yang lebih baik

sehingga Mbah Damni tenang jika meninggalkannya. Hari itu juga, mbah Damni di bawa

pulang untuk segera dimakamkan.

***

“Pak lek, Simbah kok tiba-tiba pergi ninggalin kita ya. Apa Simbah udah nggk sayang sama

kita?”. Pertanyaan Sedah di bawah indahnya sinar bulan yang menerangi teras rumahnya.

“Simbah sayang sama kita, Cuma Simbah mau jaga kita dari sana. Bareng-bareng karo bapa

ibumu (bersama-sama dengan bapak ibumu).”

Tiba-tiba, pak lek menanyakan pendidikannya. Tentu Sedah hanya terdiam. Akhirnya,

perlahan-lahan ia menceritakan bahwa dirinya tidak kuliah, melainkan bekerja.

“kemarin Sedah nggak kuliah pak lek, Sedah kerja dulu. Aku nggak mau merepotkan Simbah,

Pak lek. Sedah pengen kerja dulu baru nanti kuliah agar nggak memberatkan Simbah”.

“Simbah tau kalau kamu nggak kuliah?”.

Seketika air mata Sedah menetes mendengar pertanyaan pak leknya. Ia teringat dengan impian

neneknya yang tak lain juga adalah impiannya. Perlahan ia mengatur nafasnya agar mampu

berucap.

“Pak lek, selama hidup di dunia ini ada satu hal yang membuat Sedah menyesal”. Ia terdiam

sejenak, sambil menghela nafas panjang ia melanjutkan ucapannya. “ya, selama ini aku tidak

jujur kepada Simbah. Bukannya Sedah mau membohongi Simbah, namun Sedah belum mampu

rasanya melihat Simbah kecewa jika mendengar kabar Sedah. Tapi, ternyata ada satu hal pak

lek yang membuat Sedah sedih, ya rasa bersalah Sedah kepada Simbah yang entah bagaimana

aku bisa menebusnya. Rasanya Sedah tak kuat jika hidup beriringan dengan rasa bersalah

Sedah kepada Simbah”. Ucapan perasaan Sedah yang diiringi dengan sesenggukan tangis.

“Sedah, Pak Lek paham apa yang kamu rasakan. Tapi sekarang semuanya sudah terjadi. Kamu

harus melanjutkan hidupmu dengan kebahagiaan. Simbah menaruhkan seluruh hidupnya demi

kebahagiaanmu.”

Selanjutnya, Pak lek Sedah menceritakan segala hal yang dilalui Mbah Damni selama ditinggal

Sedah. Mulai dari perjuangannya, penyakitnya, dan keinginannya. Mendengar cerita dari pak

leknya, air mata Sedah tambah mengalir deras meskipun tanpa suara. Hal itu mengisyaratkan

betapa sakitnya perasaan Sedah ditinggal wanita penguatnya. Tak lama kemudian pak lek

Sedah masuk kerumah dan kembali lagi ke teras menghampiri Sedah. Tiba-tiba ia mengulurkan

buku kecil kepada Sedah.

“Ini rekening yang sudah disiapkan Simbah untuk kamu, Nduk. Selama ini Simbah bekerja

tanpa henti untuk menabung demi masa depanmu.”

Sedah tak mampu berkata apa-apa lagi mendengar pak lek nya. Ia hanya bisa membasahi pipi

yang sudah mulai surut. Ia hanya teringat dengan satu hal yang membuatnya menyesal.

Sabtu, 02 September 2023

PUISI "SASTRA"

 SASTRA

Karya : Siti Aisah Kusnul Wahyuni


 

Sastra....

Kau bukan hanya tentang sebuah karya

Bukan pula untuk pandai berkata – kata

Tapi engkau adalah kebenaran yang indah

Tentang sebuah kehidupan

Walaupun hanya sebuah khayalan

 

Sastra....

Dirimu bagaikan sandiwara

Yang setia menghibur

Dengan kecantikan sajakmu

Dan rayuan manismu

Dalam bahasamu

 

Sastra....

Begitu elok dirimu

Dengan nilai – nilai kebaikanmu

Dan senandung bahasamu

Yang membuatku

Selalu cinta akan dirimu.

PUISI " MENUJU CAHAYA"

  MENUJU CAHAYA Karya ilna lutfiana  Dalam gelap yang pernah datang Aku jatuh,nyaris hilang Namun bara kecil di dada Tak pernah padam,terus ...