Satu Hal
Karya
Dilla Nur Safitri
“Mbah,
lampunya tak matiin ya. Udah pagi”
“Iya,
Nduk. Eh, itu sambalnya masukin ke wakulnya Simbah”.
Pagi
itu seperti biasa, Sedah sudah disibukkan membantu neneknya untuk menyiapkan
dagangan.
Mbah Damni, Nenek Sedah yang merupakan seorang penjual nasi pecel di pasar.
Setiap
jam 03.00 malam, wanita paruh baya tersebut bersama Sedah bangun untuk mulai
memasak.
Mereka berdua hidup di rumah sederhana yang tak begitu besar dan tak begitu
sempit.
Di rumah tersebut, Mbah Damni hanya tinggal bersama Sedah. Anak-anak Mbah
Damni
hanya satu yang masih hidup, yakni pak lek Sedah. Anak Mbah Damni tersebut sudah
berkeluarga
dan keadaannya pun tak jauh berbeda dengan Mbah Damni, ya, pas-pasan.
Dari
kecil, Sedah sudah hidup bersama neneknya. Orang tua Sedah sudah pergi dulu
meninggalkannya
ke dimensi yang berbeda sejak Sedah masih balita. Meskipun hidup tanpa
kedua
orangtua, Sedah tidak pernah kekurangan kasih sayang. Mbah Damni yang sedari
dulu
merawat
Sedah sangat menyayanginya. Dengan kehidupan yang pas-pasan, Mbah Damni bisa
menyekolahkan
Sedah sampai SMA. Ia memiliki keinginan agar Sedah bisa melanjutkan
pendidikannya
ke jenjang yang lebih tinggi.
Sejak
Sedah lulus SMA, barang dagangan yang dijual Mbah Damni lebih banyak dari
biasanya.
Ia
juga selalu pulang lebih siang dari biasanya. Sedah yang saat itu sudah tidak
bersekolah,
juga
turut membantu neneknya berjualan di pasar. Mengingat Usia Mbah Damni yang
sudah
tua,
Sedah pun khawatir dengan keadaan neneknya jika berjualan terlalu lelah.
***
Malam
itu, dingin terasa mencekam. Rintikan air yang jatuh dari langit terdengar
berirama di
atap
rumah Mbah Damni.
“Mbah,
mau minum teh hangat?”.
“Boleh
Nduk, gulanya jangan banyak-banyak ya!”.
Terdengar
suara petikan kompor, pertanda Sedah sedang merebus air. Tak lama kemudian,
Sedah
keluar membawa teh hangat untuk simbahnya. Keduanya pun duduk bersama di ruang
tengah.
“Mbah,
besok Simbah di rumah saja ya, Ndak usah ke pasar”
“Kalau
Simbah nggak ke pasar ya kita ndak punya uang to Nduk” Mbah Damni tersenyum
sambil
menatap Sedah.
“Kita
tetap jualan Mbah tapi yang jualan ke pasar biar Sedah saja. Simbah dirumah
istirahat”
“Loalah,
sampean iku wayahe sekolah Nduk, ora kok Melu Simbah sadean ndek Pasar” (kamu
itu
waktunya sekolah Nduk, bukan ikut nenek jualan di pasar). Senyuman Mbah Damni
semakin
lebar mendengar celetukan Sedah yang tampak khawatir dengannya.
“orang
sudah lulus kok disuruh sekolah lagi to Mbah”. Sedah tersenyum sambil
mengernyitkan
dahinya.
***
“Mbah,
pecelnya 2 dibungkus nggeh”
“Lauknya
apa saja Mbak”
“Kados
biasane mawon (seperti biasanya saja). Sedah, sekarang sering ikut ke pasar ya”
“iya,
Buk”. Sambil tersenyum, Sedah menjawab pelanggan Mbah Damni.
“La
itu lo buk, orang waktunya sekolah kok malah ikut neneknya jualan di pasar.
Anak
sekarang
kalo disuruh sekolah kok susah, beda sama orang dulu”. Celetuk Mbah Damni yang
sengaja
menggoda Sedah.
Mbah
Damni sangat menginginkan Sedah melanjutkan pendidikannya. Ia sebenarnya
melarang
Sedah
ikut berjualan di Pasar, namun Sedah bersikeras untuk membantunya. Ia tahu
biaya
kuliah
tidak sedikit, namun Mbah Damni tetap akan berusaha agar Sedah bisa melanjutkan
pendidikannya.
Di lubuk hati terdalam Sedah sebenarnya ingin melanjutkan pendidikannya.
Namun
melihat keadaan Mbah Damni, ia tak tega jika neneknya harus bekerja keras untuk
membiayainya
kuliah. Setiap kali Mbah Damni merajuknya agar Sedah mau melanjutkan
pendidikannya,
ia selalu menolak. Di saat itulah Mbah Damni juga selalu terlihat sedih
mendengar
jawaban Sedah.
***
“Iya,
Mbah. Aku akan kuliah”.
Setelah
berulang kali Mbah Damni merajuk, akhirnya Sedah pun mengiyakan keinginan Mbah
Damni.
Walaupun sebenarnya ia sendiri khawatir dengan jawabannya, karena ia mengiyakan
keinginan
Mbah Damni semata-mata untuk menyenangkan hati neneknya. Tak lama kemudian
Sedah
akhirnya pergi ke luar kota untuk merantau melanjutkan pendidikannya. Mbah
Damni
dengan
bangga mengantarkan cucunya ke Terminal. Sedangkan Sedah, terlihat menahan
kesedihannya
dengan membalutnya dalam senyuman.
“hati-hati
ya, Nduk. Jangan lupa makan, jaga kesehatannya. Nanti kabari Simbah kalau sudah
sampai”
“Iya,
Mbah. Simbah sehat-sehat dirumah, jangan terlalu capek jualannya.”
“iya,
Nduk. Ndak usah khawatir.”
“Ati-ati
ya dah, dijaga kesehatane”
“Enggeh
pak lek”.
Terdengar
pintu bis ditutup oleh kernet. Dengan melambaikan tangan dari balik jendela,
Sedah
mengisyaratkan
kepergiannya. Semakin roda bis berputar semakin kecil bis terlihat, hingga
bayangan
bis tersebutpun benar-benar hilang dari pandangan Simbah dan pak lek Sedah.
“Sudah
Mbok, Ndan usah sedih”
“ndak
kok, mbok seneng Sedah mau kuliah”
“Mbok,
kuliah itu ndah murah Lo, mahal. Simbok nanti Ndak kuat bagaimana? Kalau Sedah
bantu
Simbok di Pasar kan ya enak, Simbok Ndak kecapekan”. Celetuk pak lek Sedah
mengiringi
perjalanan pulang mereka.
“Oalah
le, Simbok itu cuma ingin Sedah bisa hidup lebih baik dari kita. Simbok kan
nggak tau
sampai
kapan bisa menemani Sedah. Kalau Sedah sukses, Simbok kan tenang meskipun ia
sendiri”.
“lah,
Simbok ngomong apa”.
Mbah
Damni hanya menyimpulkan senyum mendengar celetuk anaknya.
***
Di
sudut kamar kos-kosanya Sedah duduk termenung menatap langit-langit atap
kamarnya. Ia
merasa
tidak bisa jika harus membuat neneknya susah lagi. Akhirnya Sedah pun
memutuskan
untuk
bekerja lebih dahulu daripada melanjutkan pendidikannya. Dari situ, Sedah mulai
mencari
pekerjaan. Di tengah aktivitasnya mencari informasi pekerjaan, tiba-tiba
handphonenya
berbunyi.
“nduk,
bagaimana betah apa tidak disana?”. Terdengar suara Mbah Damni diseberang sana.
“Alhamdulillah
Mbah, enak kok disini”.
“alhamdulillah
kalau begitu, bagaimana pendaftaran kuliahnya lancar?”.
Mendengar
pertanyaan Mbah Damni, Sedah terdiam seketika. Ia tak tahu harus menjawab apa.
Dari
lubuk hatinya ia tak mau berbohong, namun ia juga tak mau membuat neneknya
kecewa.
“pendaftaranya
masih Minggu depan kok Mbah”
***
Setiap
pagi, Sedah pergi bekerja menjaga toko yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Ia
mulai
bekerja
untuk mencari penghasilan. Selain itu, Sedah juga memiliki pekerjaan tambahan
menjadi
pelayan di sebuah restoran. Setelah sehari bekerja di toko, malamnya ia harus
bekerja
di
sebuah restoran. Setiap mbah Damni telepon, ia selalu mengabarkan bahwa dirinya
sedang
menyiapkan
urusan perkuliahannya.
Berbohong
kepada neneknya adalah hal yang menyakitkan bagi Sedah. Namun ia tidak bisa
jika
melihat neneknya harus bekerja keras untuk membiayainya di usia senja.
***
“Mbok,
ini berasnya. Ini juga ada sayur asem. Rubi tadi masak sayur asem.”
“iyo,
Le. Taruh meja situ aja.”
“Sore-sore
kok cuci baju banyak to, Mbok.”
“Iyo
le, bajune tetangga.”
“Kok
Simbok yang nyuci?”
“Oalah,
ya buat tambah-tambah to le. Biar bisa kirim Sedah”
Mendengar
jawaban mbok Damni, pak lek Sedah terkejut. Ia baru tahu jika ibunya juga
bekerja
menjadi
tukang cuci baju. Melihat ibunya yang sudah senja, pak lek Sedah berusaha
menasihatinya
agar ia tidak bekerja terlalu keras. Namun, mbok Damni hanya menyimpulkan
senyum
atas nasihat anaknya. Pak lek Sedah pun khawatir dengan keadaan ibunya jika ia
bekerja
terlalu berat yang bisa menyebabkan ia kecapekan. Menurutnya, berjualan ke
Pasar di
usia
Mboh Damni itu sudah melelahkan. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa selain
menghela
nafas
panjang.
***
Uhuk-uhuk...Terdengar
suara mbok Damni yang sedang batuk di seberang sana.
“Simbah
sakit?”
“Enggak
Ndok, Cuma tenggorokan Simbah gatel aja, biasa sudah tua.”
“Simbah
jangan capek-capek kerjanya”. Suara Sedah menasihati neneknya. Sedah belum tahu
jika
neneknya juga bekerja sampingan menjadi tukang cuci. Seperti biasa, setiap telepon
mbok
Damni
menanyakan perkembangan terkait perkuliahan Sedah. Begitupun Sedah, ia juga
selalu
menjawab
seolah-seolah ia memang benar-benar sedang berkuliah. Tak ada jawaban lain yang
bisa
diucapkan Sedah selain kebohongan tersebut. Ia pun mengerti, jika neneknya tahu
pasti
ia
akan sangat kecewa dengan Sedah. Namun, tak ada yang bisa dilakukannya lagi.
Waktu
pun terus bergulir, dari waktu ke waktu pertanyaan mbok Damni sudah seperti nada
dering
handphone Sedah, begitupun kebohongan Sedah sudah seperti angin yang selalu
dinantikan
Mbah Damni.
***
“Dah,
kamu bisa pulang besok?”
“Emangnya
ada apa Pak lek? Besok masih hari Rabu, Sedah nggak libur.”
“Simbab
sakit, Dah. Sekarang dirawat di rumah sakit”.
Sedah
seketika terkejut mendengar kabar neneknya. Tanpa berpikir panjang ia pun
mengiyakan
permintaan
pak leknya. Keesokan harinya Sedah langsung bergegas pulang. Sesampainya di
sana,
Sedah pun terkejut melihat dari balik jendela kalau infus sudah terlepas dari
tubuh
neneknya,
sedangkan neneknya masih terbaring di ranjang dengan mata tertutup. Di seberang
ranjang
Mbah Damni, terlihat pak lek dan Bu leknya saling mengusap pipi karena basah
air
mata.
“Pak
lek, Buk Lek! “
Melihat
Sedah datang, air mata mereka berdua tambah menghujam deras. Mbah Damni,
sebelum
Sedah datang telah menghembuskan nafas terakhirnya.
“Sedah
yang sabar ya”. Suara buk lek Sedah yang terdengar menguatkan Sedah namun ia
sendiri
pun rapuh.
“Pak
lek, Buk Lek, kenapa Sedah nggak dikabari “. Suara Sedah yang tidak terdengar
jelas
karena
beriringan dengan irama tangis.
“Simbah
terkena serangan jantung Nduk, pagi ini tanpa sepatah katapun Simbah
meninggalkan
kita”.
Suara pak lek Sedah yang terdengar begitu layu.
Mbah
Damni, wanita paruh baya yang tangguh dan sabar telah meninggalkan permatanya
untuk
selama-lamanya. Sudah tiga hari Mbah Damni di bawa ke rumah sakit karena ia
tibatiba pingsan saat di pasar. Pak lek Sedah yang memang sengaja mengabari
Sedah semalam
karena
ia tak ingin Sedah khawatir. Namun, tepat di pagi hari ketiga Mbah Damni di
rumah
sakit,
Dokter membawa kabar buruk bagi keluarga Sedah. Ia mengabarkan bahwa Mbah Damni
terkena
serangan jantung dan telah meninggalkan kita semua. Kabar itu tentu menjadi
kabar
buruk
yang menghujam relung keluarga Sedah. Tanpa diketahui keluarga Sedah, dokter
menyampaikan
bahwa Mbah Damni mengidap penyakit jantung sejak lama. Namun mbah
Damni
tidak memberi tahu siapapun karena ia tak mau keluarganya khawatir. Mendengar
perkataan
dokter, pak lek Sedah langsung teringat dengan perkataan mbah Damni yang mana
ia
menginginkan Sedah melanjutkan pendidikannya agar memiliki kehidupan yang lebih
baik
sehingga
Mbah Damni tenang jika meninggalkannya. Hari itu juga, mbah Damni di bawa
pulang
untuk segera dimakamkan.
***
“Pak
lek, Simbah kok tiba-tiba pergi ninggalin kita ya. Apa Simbah udah nggk sayang
sama
kita?”.
Pertanyaan Sedah di bawah indahnya sinar bulan yang menerangi teras rumahnya.
“Simbah
sayang sama kita, Cuma Simbah mau jaga kita dari sana. Bareng-bareng karo bapa
ibumu
(bersama-sama dengan bapak ibumu).”
Tiba-tiba,
pak lek menanyakan pendidikannya. Tentu Sedah hanya terdiam. Akhirnya,
perlahan-lahan
ia menceritakan bahwa dirinya tidak kuliah, melainkan bekerja.
“kemarin
Sedah nggak kuliah pak lek, Sedah kerja dulu. Aku nggak mau merepotkan Simbah,
Pak
lek. Sedah pengen kerja dulu baru nanti kuliah agar nggak memberatkan Simbah”.
“Simbah
tau kalau kamu nggak kuliah?”.
Seketika
air mata Sedah menetes mendengar pertanyaan pak leknya. Ia teringat dengan
impian
neneknya
yang tak lain juga adalah impiannya. Perlahan ia mengatur nafasnya agar mampu
berucap.
“Pak
lek, selama hidup di dunia ini ada satu hal yang membuat Sedah menyesal”. Ia
terdiam
sejenak,
sambil menghela nafas panjang ia melanjutkan ucapannya. “ya, selama ini aku
tidak
jujur
kepada Simbah. Bukannya Sedah mau membohongi Simbah, namun Sedah belum mampu
rasanya
melihat Simbah kecewa jika mendengar kabar Sedah. Tapi, ternyata ada satu hal
pak
lek
yang membuat Sedah sedih, ya rasa bersalah Sedah kepada Simbah yang entah
bagaimana
aku
bisa menebusnya. Rasanya Sedah tak kuat jika hidup beriringan dengan rasa
bersalah
Sedah
kepada Simbah”. Ucapan perasaan Sedah yang diiringi dengan sesenggukan tangis.
“Sedah,
Pak Lek paham apa yang kamu rasakan. Tapi sekarang semuanya sudah terjadi. Kamu
harus
melanjutkan hidupmu dengan kebahagiaan. Simbah menaruhkan seluruh hidupnya demi
kebahagiaanmu.”
Selanjutnya,
Pak lek Sedah menceritakan segala hal yang dilalui Mbah Damni selama ditinggal
Sedah.
Mulai dari perjuangannya, penyakitnya, dan keinginannya. Mendengar cerita dari
pak
leknya,
air mata Sedah tambah mengalir deras meskipun tanpa suara. Hal itu
mengisyaratkan
betapa
sakitnya perasaan Sedah ditinggal wanita penguatnya. Tak lama kemudian pak lek
Sedah
masuk kerumah dan kembali lagi ke teras menghampiri Sedah. Tiba-tiba ia
mengulurkan
buku
kecil kepada Sedah.
“Ini
rekening yang sudah disiapkan Simbah untuk kamu, Nduk. Selama ini Simbah
bekerja
tanpa
henti untuk menabung demi masa depanmu.”
Sedah
tak mampu berkata apa-apa lagi mendengar pak lek nya. Ia hanya bisa membasahi
pipi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar