Sabtu, 26 Agustus 2023

CERPEN "Suara Kecil Untuk Si Kaya"

 Suara Kecil Untuk Si Kaya

Karya: Hurin Infi Afdatina

 

            Di terik yang panas ini, aku terus berjalan mengelilingi setiap sudut kota. Dengan membawa sekarung sampah di bahuku. Tapi itu tidak mengeluh. Aku terus berjalan dan mencari sampah. Orang orang menatapku dengan sinis seolah olah aku adalah makhluk yang paling menjijikkan yang pernah mereka lihat. Tidak hanya itu, mereka bahkan sering melemparkan sampah ke arahku.

            "Hei kau, minggir sana. Mobilku mau lewat seharusnya kau menyingkir!" Teriak seseorang dari dalam mobil mewahnya. Kuhela nafasku sambil tersenyum dan sedikit memundurkan diri demi memberikan mobil itu jalan. Padahal jalanan sangatlah luas. Seharusnya mobil itu tetap bisa lewat meskipun aku tidak memundurkan langkah.

            "Dasar pemulung tidak berguna! Orang seperti kamu ini yang menjadi sampah masyarakat. Cuihhh! " Anak muda tersebut meludahiku tanpa harus turun dari mobil mewahnya. Wajah sombongnya membuatku ingin sekali berkata kasar, tapi aku berhasil menahannya.

"Hei nak, tidak bisakah kau menghargai orang tua. Setidaknya kalau kamu tidak menyukai profesiku maka harusnya kamu hormati orang yang lebih tua." Ucapku pada akhirnya.

            Anak muda tersebut hanya mendengus tidak terima. Dia langsung menancapkan gas mobilnya dan segera pergi.

Aku tidak menghiraukannya lagi, sudah biasa orang kaya bersifat seperti itu. Sifat sombong selalu mendominasi mereka. Terlebih pada orang orang kecil sepertiku. Mereka menghina, menertawakan dan selalu menindas kami. Aku tidak peduli dengan semua itu, Allah tidak tidur. Biarkan saja mereka menertawakanku. Roda itu akan selalu berputar. Dan tidak selamanya mereka akan berada di atas.

            Aku melanjutkan perjalananku sambil sesekali memungut botol botol di jalanan dan kumasukkan ke dalam karungku. Saat aku menunduk mengambil sampah, seseorang menyenggolku dan menjatuhkan sebuah dompet. Orang itu berlari semakin menjauh. Aku yang tidak mengerti apa apa langsung mengambil dompet itu. Ku buka dompetnya untuk mencari identitas pemiliknya karena aku berniat untuk mengembalikannya. 

"Mungkin orang itu sedang terburu-buru sampai harus lari." Gumamku dalam hati.

"ITU DIA MALINGNYA! CEPAT TANGKAP DIA SEKARANG!"

            Aku menolehkan kepalaku saat mendengar suara teriakan maling. Dengan refleks aku menoleh ke belakang. Beberapa orang menatapku dengan kemarahan. Ada apa ini? Mengapa mereka menatapku seperti itu?

            Mereka semakin mendekat ke arahku. Tanpa diduga mereka semua langsung memukulku tanpa memberikan penjelasan apapun.

            "Dasar kotor! Sudah miskin sekarang menjadi maling juga! Kita bunuh saja dia di sini." celetuk salah satu dari mereka.

            "Setuju, pemulung hina seperti dia tidak pantas berkeliaran di jalan. Lihat saja, hari ini dia sudah mencuri dompet. Berpura pura mengambil sampah di rumah kita dan ternyata niatnya busuk!

            " Aku menangis tidak berdaya. Tanganku terus melindungi kepalaku dari amukan mereka. Mereka terus memukulku membabi buta dan tidak memberiku kesempatan untuk berbicara. "Ya Allah, mengapa nasib orang kecil selalu seperti ini. Hanya karena aku seorang pemulung dan miskin mereka selalu menindasku."

            Tenagaku semakin lemah, fisikku sudah mereka lukai. Mereka menendangku, menamparku, dan memukul kepalaku dengan alat yang mereka pegang. Banyak orang yang lewat dan melihatku dalam keadaan seperti ini. Tapi tak ada satu pun dari mereka yang berniat menolongku. Mereka benar benar kejam! Sungguh tidak adil dunia ini.

            Bukan aku yang melakukannya tapi aku yang dihukumnya.

"AYAHHHHHH" Tangan tangan itu seketika berhenti memukul. Aku mengenal suara itu. Itu adalah suara putriku, Jannah.

            Putriku Jannah langsung menerobos kerumunan. Ku lihat dia mendorong semua orang itu dengan tangannya. Kulihat dia menitikkan air mata saat melihat keadaanku yang sudah babak belur.

            "Sungguh biadab kalian, ayahku bukan pencuri. Mengapa kalian memukulnya?" Aku tersenyum tipis saat melihat putriku mengangkat wajahnya tinggi tinggi dan menunjuk mereka 10 satu persatu. Raut wajahnya menampakkan kemarahan pada mereka. Aku tidak pernah melihatnya semarah ini. Ini adalah pertama kali aku melihatnya.

            "Oh jadi kamu putrinya. Ayah kamu ini sudah jelas pencuri jangan kamu membelanya. Kami tau kalian begitu miskin makanya ayah kamu mencuri dompet milik salah satu dari kami" Jawab salah satu dari mereka.

            Kulihat Jannah mengeluarkan ponselnya, ponsel bekas yang dibelinya dengan hasil keringat sendiri. Aku sangat bangga dengan putriku. Dia sudah menjadi Mahasiswi dengan jurusan hukum di salah satu kampus. Dia kuliah dengan mengandalkan biaya siswa yang didapatkannya. Kalau tidak, dia mungkin tidak akan kuliah karena nasibku ini.

            "Sekarang kalian lihat sendiri, jalan ini sudah ada CCTV nya. Aku sudah meminta hasil rekaman CCTV pada pak Satpam. Jika ayahku terbukti tidak bersalah maka aku akan melaporkan kalian pada pihak yang berwajib." Ancam Jannah pada mereka.

            Mereka tiba-tiba langsung terdiam. Putriku Jannah langsung menunjukkan ponselnya pada mereka. Entah apa yang mereka lihat sampai pada akhirnya wajah mereka menjadi sedikit terkejut.

            "Sekarang lihat kan, ayahku bukan pencuri! Kalian sudah menuduh dan menganiaya ayahku.

            Sekarang kalian minta maaf dengan ayahku atau aku benar benar akan melaporkan kalian." Bentaknya dengan nada yang tinggi. Kemudian matanya langsung tertuju padaku, ia berjongkok dan membantuku berdiri.

            "Berdirilah ayah, kita memang orang miskin. Tapi tidak seharusnya kita berada di bawah kaki kaki kecil mereka." Ucapnya padaku.

            Dengan tertatih tatih aku berdiri dengan bantuan putriku. Tidak sampai disitu, tiba tiba orang orang itu langsung mengeluarkan dompet mereka dan menaruhnya di tanganku. Tiga, empat, lima bahkan sudah sepuluh dompet dalam genggamanku.

            "Dompet kami seharusnya cukup untuk menutup mulut kalian. Jangan kalian bawa kasus ini ke polisi. Kalian sudah mendapatkan uang kan? Anggap saja itu adalah permintaan maaf kami. Kami tau orang orang seperti kalian tidak butuh kata maaf tapi butuh uang untuk biaya hidup kalian."

            Jannah merebut kembali dompet itu dari tanganku. Dia melemparkannya tepat di wajah mereka. "Seharusnya kalian malu karena sudah menuduh dan menyakiti ayahku. Tapi kalian malah semakin bersikap sombong. Apa yang sebenarnya membuat kalian begitu sombong? Jabatan? Harta? Gelar? Atau apa?"

            "Diam kau anak ingusan, kau seharusnya beruntung karena kami memberimu dompet berharga kami. Jumlah uangnya juga tidak sedikit." Kulihat laki laki berkumis itu membentak putriku.

            Aku sudah cukup lama terdiam, ini saatnya aku angkat bicara. Mereka tidak boleh hanya berkata kata. Ada kalanya mereka harus mendengar.

            "Tidakkah kalian malu dengan umur kalian? Kalian berumur dewasa tapi pola pikir masih sama seperti anak remaja. Kalian tidak mau merendah meskipun posisi kalian salah. Hanya karena status kalian yang nyatanya lebih tinggi dari kami"

            "Semua orang itu sama, antara yang kaya dengan yang miskin. Sebenarnya kita tidak ada bedanya. Kita sama sama manusia biasa ciptaan Allah. Seharusnya kalian sadar, dengan kalian bersifat sombong dan angkuh seperti itu kalian hanya akan menghancurkan diri kalian sendiri."

            "Manusia itu makhluk sosial, jadi kalian harus tau caranya bersosial di lingkungan masyarakat itu seperti apa. Jangan selalu menganggap diri kalian yang paling benar. Kalian memang kaya tapi masih ada lagi yang lebih kaya. Siapa lagi kalau bukan Allah. Allah maha kaya. Janganlah bersikap sombong sebagai manusia dan jadilah pribadi yang baik."

            Mereka semua langsung menunduk merasa bersalah setelah aku mengatakan kalimat panjang lebar itu. Tidak lama kemudian salah satu dari mereka memelukku dan menangis meminta maaf. Mereka semua secara bergantian meminta maaf. Aku memandang ke arah putriku, dia tersenyum seolah olah bangga padaku.

            "Terima kasih ayah." Lirih putriku yang aku tidak tau apa maksud rasa terima kasih tersebut.

Bionarasi

Nama Hurin infi afdatina, lahir pada tanggal 22 juni 2004 dan menjadi Mahasiswa pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia di kampus Universitas Trunojoyo Madura. Cita cita 12 menjadi seorang penulis dan juga Sastrawan Indonesia Hobi menulis sudah dimulai sejak kecil dan berlanjut sampai sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUISI " MENUJU CAHAYA"

  MENUJU CAHAYA Karya ilna lutfiana  Dalam gelap yang pernah datang Aku jatuh,nyaris hilang Namun bara kecil di dada Tak pernah padam,terus ...