Rabu, 01 April 2026

PUISI " MENUJU CAHAYA"

 MENUJU CAHAYA

Karya ilna lutfiana 


Dalam gelap yang pernah datang

Aku jatuh,nyaris hilang

Namun bara kecil di dada

Tak pernah padam,terus menyala 


Dari retak,kutumbuh diam

Menggenggam mimpi dalam kelam

Luka tak lagi kubawa lari

Tapi kutata jadi pelangi


PUISI "Kertas Basah"

 Kertas Basah

oleh Komet


Malamku kini berisi sesak

Kertas yang ku adopsi dari tempat keji

Meraung dan menamparku sesekali


Saat hangat mulai memeluk bumi

Ku tanyakan pada kertas

Ingatan mana yang membuatnya menangis keras

Membuat lariknya hanyut terbawa deras


Kertas menjawab sedikit parau

Dia kesal padaku yang memulai tanpa selesai 

Membuatnya menunggu hingga terasa terbelenggu

 

Dia menghinaku kali ini

Tak lagi berlari karna luka tak berarti

Tak berani menggurat sebab sekitar benci bau karat

Tak lagi mau bermimpi takut tersesat sampai mati


Kini dia mohon diriku tuk berjanji

Memulai kembali yang sudah tertulis dalam diri

Agar goresan ditubuhnya tak lagi hilang ditelan hari


PUISI "Bangkit Menuju Sebuah Impian"

Bangkit Menuju Sebuah Impian

Oleh: Syahriyatul Muwafiqoh 


Dalam gelap yang sunyi ada sinar yang menyinari

menuntun langkah yang sempat terjatuh

Setiap tetes air mata yang jatuh

Hanya saksi bahwa jiwa tak pernah lemah


Gagal bukanlah akhir cerita

melainkan jeda untuk belajar makna

Walau rintangan terus menghambat

harapan tetap menyala tak pernah hilang


Aku berdiri lagi setelah jatuh

membawa doa di setiap hembus napas penuh

Langkah kecil menjadi saksi,l

bahwa impian bisa diraih pasti


PUISI "Jejak di Langit"

Jejak di Langit

Karya: Ananda



Aku menanam langit di sepetak harap

Di ladang sunyi mimpi-mimpi lelap

Langkahku kecil, tapi terus menerap 

Menyusun bintang yang belum sempat digarap 


Kupintal angin jadi benang cahaya 

Mengikat mimpi agar tak hilang arah 

Meski semesta kerap lupa bersuara 

Aku tetap bernyanyi di dalam langkah


Pernah ku bertanya pada bayang sendiri 

"Adakah esok tahu jika aku menanti?"

Namun waktu tak menjawab dengan pasti 

Hanya diam yang memeluk hati-hati 


Kini kujalin harap dengan penuh kenyataan 

Meski lambat, ku tautkan dengan iman 

Sebab mimpi bukan sekedar angan

Ia hidup saat tekad tak berkesudahan


PUISI "Matahari Setelah Hujan"

Matahari Setelah Hujan

Oleh: Chintya Nur Hamidah



Sunyinya malam menemani gadis yang sedang bingung 

Bingung akan sebuah masa yang ia impikan

Rasa dalam hatinya ingin mengubah

Masa depan yang harus ia capai itu


Malam seakan paham akan keadaannya 

Sebuah mimpi seolah menjadi harapan

Harapan yang datang selesai hujan menimpa

Harapan yang menjadi tujuannya sekarang


Langkah kecil mulai ia tapaki perlahan

Meski gelap, keyakinan jadi cahaya jalan

Tak lagi takut meski arah tak pasti

Karena hati kini punya arti dan janji


Bintang di langit seakan memberi isyarat

Bahwa mimpi tak akan sia-sia bila semangat

Ia genggam harapan dengan tangan terbuka

Menuju hari esok yang ia ciptakan sendiri tanpa ragu dan luka.



PUISI "Bukan Akhir, Hanya Jeda"

Bukan Akhir, Hanya Jeda

Oleh: Eka Amalia



Debu kelam membungkus mimpi yang layu,

Seolah mentari enggan lagi membiru.

Namun di relung jiwa, bara tak membeku,

Menanti sentuhan pagi, bangkit membatu.

Rintangan menghadang, tembok tinggi menjulang,

Langkah terhenti, bagai sungai kehilangan muara.

Namun bisikan hati, bagai suluh menerawang,

"Ini bukan tamat, hanya sejenak terlara".

Air mata jatuh, bagai hujan di kemarau panjang,

Menyuburkan kembali benih asa yang terpendam.

Setiap perih adalah pahatan, jiwa kian membentang,

Menuju puncak impian, di mana bahagia tersematkan.

Bangkitlah, wahai pejuang, jangan biarkan layuh,

Jeda ini singkat, sebelum badai semangat berlabuh.

Impian kan bersinar, secerah rembulan penuh,

Bukan akhir, percayalah, hanya waktu yang merapuh.


PUISI "Jangaan Menyerah, Mimpi Itu Milikmu"

 Jangaan Menyerah, Mimpi Itu Milikmu

Oleh: F. Agstnn


Hidup itu melangkah bukan diam,

Meraih  mimpi dengan hati yang dalam.

Bukan  mundur  karena pasrah,

Tapi  maju  walaupun  berat.


Jangan biarkan  keterbatasan membelenggu,

Jangan biarkan rasa pasrah  menutup  langkahmu.

Karena  pecundang bukan yang tak  punya  harta,

Tapi  mereka yang tidak mau berusaha.


Satu langkah, dua langkah terus maju,

Tidak peduli meski jalanan penuh debu.

Karena diujung doa,

Tercipta  kisah penuh  makna


PUISI " MENUJU CAHAYA"

  MENUJU CAHAYA Karya ilna lutfiana  Dalam gelap yang pernah datang Aku jatuh,nyaris hilang Namun bara kecil di dada Tak pernah padam,terus ...