Bukan Akhir, Hanya Jeda
Oleh: Eka Amalia
Debu kelam membungkus mimpi yang layu,
Seolah mentari enggan lagi membiru.
Namun di relung jiwa, bara tak membeku,
Menanti sentuhan pagi, bangkit membatu.
Rintangan menghadang, tembok tinggi menjulang,
Langkah terhenti, bagai sungai kehilangan muara.
Namun bisikan hati, bagai suluh menerawang,
"Ini bukan tamat, hanya sejenak terlara".
Air mata jatuh, bagai hujan di kemarau panjang,
Menyuburkan kembali benih asa yang terpendam.
Setiap perih adalah pahatan, jiwa kian membentang,
Menuju puncak impian, di mana bahagia tersematkan.
Bangkitlah, wahai pejuang, jangan biarkan layuh,
Jeda ini singkat, sebelum badai semangat berlabuh.
Impian kan bersinar, secerah rembulan penuh,
Bukan akhir, percayalah, hanya waktu yang merapuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar