Sabtu, 23 September 2023

CERPEN "Perempuan Penikmat Lara"

Perempuan Penikmat Lara

 

Oleh Vina Amelia Rosida

 

 

 

Malam itu, di tengah hujan mengguyur setiap sudut kota, seorang perempuan kepala dua terbaring di atas tanah yang basah. Warna tanah yang cokelat pekat dan lebih tampak seperti lumpur. Baju putih yang dipakainya tidak lagi berwarna putih. Seluruh badannya berlumur tanah, tak terkecuali wajahnya. Meskipun minim cahaya dan di bawah hujan lebat yang lebih seperti badai, akan tetapi masih banyak orang berlalu lalang.

Di dekat tempat gadis itu terbaring, terdapat sebuah halte bus yang ramai oleh mereka yang pulang kerja, kuliah atau kebetulan selesai bepergian, akan tetapi mereka terjebak oleh hujan. Tepat garis lurus dari halte bus, perempuan tersebut dapat terlihat dengan jelas. Namun tak seorang pun berani mendekat. Bisa saja mereka segan mendekat karena mengira sebuah mayat atau memang minim empati.

Tiba saat pemberhentian bus terakhir, hujan turut berangsur reda. Semua orang pergi meninggalkan halte. Ada yang tersenyum merekah karena hujan berkesudah dengan lekas. Ada yang pergi tanpa ekspresi atau tertawa tanpa empati pada perempuan yang terbaring lunglai di seberang mereka. Terkecuali seorang perempuan paruh baya yang baru saja turun dari bus berani berjalan mendekat.

“Nak,” panggilnya pada seorang perempuan yang terbaring di depannya. “Kamu masih hidup kan?” tanyanya ragu.

Perempuan yang semula terbaring dengan mata tertutup itu kini membuka matanya. Situasi tersebut mampu membuat perempuan paruh baya tersebut terkejut. Bagaimana tidak, perempuan yang sempat dikira mayat ternyata masih sempat membuka mata.

“Alhamdulillah, masih hidup. Kenapa di sini, Nak? Tidak pulang? Di mana rumahmu cantik? Biar Ibu antar pulang.” Perempuan paruh baya tersebut melontarkan pertanyaan beruntun, dan hal tersebut membuat perempuan muda di depannya bingung menjawab pertanyaan yang mana. Ia hanya menjawab, “Nanti saya pulang sendiri saja.”

“Nama kamu siapa gadis cantik?” tanyanya sambil tersenyum getir.


“Aldra, Aldraneva Sastra.” Jawab perempuan muda tersebut. Perempuan tersebut berusaha untuk bangkit namun ia hampir terpeleset jika saja perempuan paruh baya di depannya tidak menarik tangannya. “Ibu pulang saja, sepertinya badai akan berlanjut. Saya tidak mau Ibu terjebak hujan lagi karena saya.”

“Saya suka hujan, badai sekalipun, saya menikmatinya.” Perempuan paruh baya tersebut memberikan kotak tisu dari tasnya kepada Aldra. Aldra menggeleng, ia menolak tisu pemberian perempuan paruh baya tersebut. “Tidak usah, Buuu?..”

“Panggil saja Bu Saura!”

 

“Bu Saura pulang saja! Ini sudah malam.”

 

Aldra tidak bermaksud mengusir perempuan paruh baya bernama Saura tersebut. Hanya saja ia merasa sungkan karena membuat Bu Saura berhenti dan meladeni kegilaannya. Ia lebih senang jika orang lain segan dan tidak peduli dengan kegilaannya. Namun perempuan tersebut menolak pulang jika Aldra juga tidak segera pulang.

“Mau duduk di halte?” Tanya Aldra pada Bu Saura. Ia tidak enak membiarkan perempuan paruh baya itu terkena rintikan hujan. Meskipun hanya tetesan kecil, tetap saja bisa membuat pakaian Bu Saura basah. Bu Saura menyetujui tawaran Aldra. Kedua perempuan tersebut berjalan menyebrangi jalan raya yang lengang. Tidak satupun kendaraan melintas di jalan raya tersebut. Keduanya duduk terdiam memandang pepohonan seram di seberang jalan, tempat Aldra terbaring sebelumnya. Kesunyian terpecahkan dengan pertanyaan sedu Bu Saura. “Nak Aldra, suka hujan juga?”

Aldra menggeleng. “Saya suka berenang di tanah basah saat hujan.”

 

“Boleh Ibu tahu kenapa Nak Aldra menyukainya?” Bu Saura beralih menatap kedua mata Aldra yang juga menatapnya.

“Karena ingin. Sekarang, kenapa Bu Saura suka hujan?” Aldra balik bertanya pada Bu

Saura.

 

“Karena itu juga keinginan saya.”

 

“Bu, kenapa keinginan kita tidak bisa berubah? Kenapa setiap hujan Bu Saura selalu ingin melihat hujan, menyentuhnya bahkan bermain di tengah derasnya hujan? Dan kenapa saya tidak berhenti bertingkah bodoh dengan berenang di tanah saat hujan tiba? Saya ingin


berhenti, tapi tidak bisa. Saya selalu ingin mengulang kebodohan itu seperti dahulu saya melakukannya dengan almarhum orang tua saya.”

Perempuan paruh baya tersebut menghembuskan napasnya panjang. Kali ini ia mengubah posisinya Sembilan puluh derajat menatap Aldra dengan tenang dan nyaman. Ia dapat menatap kedua mata lelah Aldra dan kepasrahannya pada hidup. Kedua mata cokelat itu tampak kosong. Meskipun begitu semua orang bisa langsung mengetahui jika ia usai menangis di sepanjang hujan malam ini.

“Nak Aldra, banyak orang yang mengeluh dengan apa yang terjadi dalam kehidupan mereka, akan tetapi mereka lebih memilih hal paling aman dengan tetap mejalani kehidupan mereka dengan apa adanya. Mereka khawatir jika sesaat mereka mengubah cara pandang mereka tentang kehidupan, justru itu akan menyulitkan mereka nantinya. Entah itu karena ketidaknyamanan atau mereka khawatir tentang pandangan orang lain kepada mereka. Tapi, apakah Nak Aldra akan nyaman dengan berhenti melakukan hal yang Nak Aldra sukai?” Aldra menggeleng.

“Jika tidak, tidak masalah jika Nak Aldra tetap melakukan hal yang disukai meskipun bagi orang lain itu adalah sebuah kebodohan. Kebahagiaan itu ada di tangan setiap orang. Tinggal mereka memilih ingin bahagia atau tidak. Ketika porsi kebahagiaan Nak Aldra adalah berenang di tanah yang basah saat hujan, karena merasa lebih dekat dengan orang tua Nak Aldra itu juga tidak masalah. Selama itu mebuat Nak Aldra bahagia, lakukanlah! Namun jika ternyata Nak Aldra merasakan ketidakbahagiaan karena orang tua Nak Aldra pergi lebih dahulu, itu juga pilihan Nak Aldra. Ingin tetap dalam kebahagiaan yang bodoh menurut orang lain atau berlarut dengan rasa sakit dalam ketidakbahagiaan yang bodoh menurut orang lain. Hidup Nak Aldra saat ini menentukan hidup Nak Aldra di hari esok. Jika saat ini Nak Aldra tetap berharap ayah dan Ibu bisa hidup lagi dan mengeluh dengan apa yang telah terjadi sehingga membuat Nak Aldra tetap tidak bahagia, maka hari ini esok dan seterusnya akan tetap dalam ketidakbahagiaan. Berbeda jika hari ini mau ikhlas dan terus menjalani kehidupan yang ada, maka ketidakbahagiaan itu akan lepas dengan sendirinya. Hari ini esok dan seterusnya, bahagia akan dalam pelukan Nak Aldra.”

Aldra menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia baru menyadari cara pandangnya terhadap kehidupan bodoh yang ia jalani. Setiap berenang di tanah yang basah, itu bukanlah sebuah kebahagiaan. Ia sama sekali tidak pernah merasa bahagia. Justru dengan melakukan hal


yang sama selayaknya masa ketika kedua orang tuanya masih hadir dalam hidupnya. Mungkin ia nyaman melakukannya, akan tetapi ia sama sekali tidak bahagia.

Ketika hujan tiba, ia selalu tertarik untuk berenang di tanah basah dan selalu berharap ia dapat melakukannya bersama kedua orang tuanya. Ia selalu berharap orang tuanya tidak pernah meninggal dan selalu hadir di setiap sesi kehidupannya. Padahal dengan melakukan hal tersebut tidak akan merubah realita bahwa kedua orang tuanya tidak akan hidup lagi di kehidupan Aldra saat ini.

Perempuan muda itu memeluk kaki Bu Saura erat. Dalam hatinya ia menyesal sempat menolak pertemuannya dengan Bu Saura. Singkat, hangat dan penuh hormat ia sampaikan, “Terima kasih, Bu Saura.”

 

 

Bionarasi

 

Vina Amelia Rosida yang sering disapa Vina ialah mahasiswi prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Trunojoyo Madura. Ia kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur. Ia menggemari bidang menulis, untuk itulah ia memutuskan untuk bergabung dengan komunitas Karsa di kampus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUISI " MENUJU CAHAYA"

  MENUJU CAHAYA Karya ilna lutfiana  Dalam gelap yang pernah datang Aku jatuh,nyaris hilang Namun bara kecil di dada Tak pernah padam,terus ...