Perempuan Penikmat
Lara
Oleh Vina Amelia
Rosida
Malam itu, di tengah hujan mengguyur
setiap sudut kota, seorang perempuan kepala dua
terbaring di atas tanah yang basah. Warna tanah yang cokelat pekat dan lebih
tampak seperti lumpur. Baju putih yang dipakainya tidak lagi
berwarna putih. Seluruh badannya berlumur
tanah, tak terkecuali wajahnya. Meskipun minim cahaya dan di bawah hujan lebat yang lebih
seperti badai, akan tetapi
masih banyak orang berlalu lalang.
Di dekat tempat gadis itu terbaring,
terdapat sebuah halte bus yang ramai oleh mereka yang pulang kerja, kuliah atau kebetulan selesai bepergian,
akan tetapi mereka terjebak oleh hujan.
Tepat garis lurus dari halte bus, perempuan tersebut dapat terlihat dengan
jelas. Namun tak seorang pun berani
mendekat. Bisa saja mereka segan mendekat karena mengira sebuah mayat atau memang minim empati.
Tiba saat pemberhentian bus terakhir,
hujan turut berangsur reda. Semua orang pergi
meninggalkan halte. Ada yang tersenyum merekah karena hujan berkesudah dengan
lekas. Ada yang pergi tanpa ekspresi atau tertawa tanpa empati pada perempuan yang terbaring lunglai
di seberang mereka.
Terkecuali seorang perempuan paruh baya yang baru saja turun dari bus berani
berjalan mendekat.
“Nak,”
panggilnya pada seorang
perempuan yang terbaring di depannya. “Kamu
masih hidup kan?” tanyanya ragu.
Perempuan yang semula terbaring dengan
mata tertutup itu kini membuka matanya. Situasi
tersebut mampu membuat perempuan paruh baya tersebut terkejut. Bagaimana tidak, perempuan
yang sempat dikira mayat ternyata
masih sempat membuka
mata.
“Alhamdulillah, masih hidup. Kenapa di
sini, Nak? Tidak pulang? Di mana rumahmu cantik? Biar Ibu antar pulang.” Perempuan
paruh baya tersebut
melontarkan pertanyaan beruntun, dan hal tersebut
membuat perempuan muda di depannya
bingung menjawab pertanyaan yang mana. Ia hanya menjawab, “Nanti saya pulang sendiri saja.”
“Nama kamu siapa gadis cantik?”
tanyanya sambil tersenyum
getir.
“Aldra,
Aldraneva Sastra.” Jawab perempuan muda tersebut. Perempuan
tersebut berusaha untuk bangkit namun ia hampir terpeleset jika saja perempuan
paruh baya di depannya
tidak menarik tangannya. “Ibu pulang saja, sepertinya badai akan berlanjut.
Saya tidak mau Ibu terjebak hujan lagi karena saya.”
“Saya
suka hujan, badai sekalipun, saya menikmatinya.” Perempuan
paruh baya tersebut memberikan kotak tisu dari tasnya
kepada Aldra. Aldra menggeleng, ia menolak tisu pemberian perempuan
paruh baya tersebut. “Tidak usah, Buuu?..”
“Panggil saja Bu Saura!”
“Bu Saura pulang saja! Ini sudah malam.”
Aldra
tidak bermaksud mengusir
perempuan paruh baya bernama Saura tersebut. Hanya saja ia merasa sungkan karena
membuat Bu Saura berhenti dan meladeni kegilaannya. Ia lebih senang jika orang lain segan dan tidak peduli
dengan kegilaannya. Namun perempuan tersebut menolak pulang jika Aldra juga tidak
segera pulang.
“Mau duduk di halte?” Tanya Aldra pada Bu Saura. Ia tidak enak membiarkan perempuan paruh baya itu terkena
rintikan hujan. Meskipun
hanya tetesan kecil,
tetap saja bisa
membuat pakaian Bu Saura basah. Bu Saura menyetujui tawaran Aldra. Kedua
perempuan tersebut berjalan
menyebrangi jalan raya yang lengang. Tidak satupun kendaraan melintas di jalan raya tersebut. Keduanya duduk terdiam
memandang pepohonan seram di seberang
jalan, tempat Aldra
terbaring sebelumnya. Kesunyian
terpecahkan dengan pertanyaan sedu Bu Saura.
“Nak Aldra, suka hujan juga?”
Aldra menggeleng. “Saya
suka berenang di tanah basah saat hujan.”
“Boleh Ibu tahu kenapa Nak Aldra
menyukainya?” Bu Saura beralih menatap kedua
mata Aldra yang juga
menatapnya.
“Karena ingin.
Sekarang, kenapa Bu Saura suka hujan?” Aldra
balik bertanya pada Bu
Saura.
“Karena itu juga keinginan
saya.”
“Bu, kenapa keinginan kita tidak bisa
berubah? Kenapa setiap hujan Bu Saura selalu
ingin melihat hujan, menyentuhnya bahkan bermain di tengah derasnya
hujan? Dan kenapa saya tidak berhenti bertingkah bodoh dengan berenang
di tanah saat hujan tiba? Saya ingin
berhenti, tapi tidak bisa. Saya selalu ingin mengulang
kebodohan itu seperti dahulu saya melakukannya dengan almarhum orang tua saya.”
Perempuan paruh baya tersebut
menghembuskan napasnya panjang.
Kali ini ia mengubah
posisinya Sembilan puluh derajat menatap Aldra dengan tenang dan nyaman. Ia dapat menatap kedua mata lelah Aldra dan kepasrahannya pada hidup. Kedua mata cokelat
itu tampak kosong.
Meskipun begitu semua orang bisa langsung mengetahui jika ia usai menangis di sepanjang
hujan malam ini.
“Nak Aldra, banyak orang yang mengeluh
dengan apa yang terjadi dalam kehidupan mereka,
akan tetapi mereka lebih memilih hal paling aman dengan tetap mejalani
kehidupan mereka dengan apa adanya.
Mereka khawatir jika sesaat mereka mengubah cara pandang mereka tentang kehidupan, justru itu akan menyulitkan mereka
nantinya. Entah itu karena ketidaknyamanan
atau mereka khawatir tentang pandangan orang lain kepada mereka. Tapi, apakah
Nak Aldra akan nyaman dengan
berhenti melakukan hal yang Nak Aldra sukai?”
Aldra menggeleng.
“Jika tidak, tidak masalah jika Nak
Aldra tetap melakukan hal yang disukai meskipun bagi orang lain itu adalah sebuah kebodohan. Kebahagiaan itu ada
di tangan setiap orang. Tinggal mereka
memilih ingin bahagia
atau tidak. Ketika
porsi kebahagiaan Nak Aldra adalah
berenang di tanah yang basah saat hujan, karena merasa lebih dekat
dengan orang tua Nak Aldra itu juga
tidak masalah. Selama itu mebuat Nak Aldra bahagia, lakukanlah! Namun jika ternyata Nak Aldra merasakan
ketidakbahagiaan karena orang tua Nak Aldra pergi lebih dahulu, itu juga pilihan Nak Aldra. Ingin tetap dalam
kebahagiaan yang bodoh menurut orang lain
atau berlarut dengan rasa sakit dalam ketidakbahagiaan yang bodoh menurut orang
lain. Hidup Nak Aldra saat ini
menentukan hidup Nak Aldra di hari esok. Jika saat ini Nak Aldra tetap berharap ayah dan Ibu bisa hidup
lagi dan mengeluh dengan apa yang telah terjadi sehingga membuat Nak Aldra tetap
tidak bahagia, maka hari ini esok dan seterusnya akan tetap dalam
ketidakbahagiaan. Berbeda jika hari
ini mau ikhlas dan terus menjalani kehidupan
yang ada, maka
ketidakbahagiaan itu akan lepas dengan sendirinya. Hari ini esok dan seterusnya, bahagia akan
dalam pelukan Nak Aldra.”
Aldra
menutup wajahnya dengan
kedua tangannya. Ia baru menyadari cara pandangnya terhadap kehidupan bodoh yang ia jalani.
Setiap berenang di tanah yang basah, itu bukanlah sebuah kebahagiaan. Ia sama sekali
tidak pernah merasa bahagia. Justru
dengan melakukan hal
yang sama selayaknya masa ketika kedua
orang tuanya masih hadir dalam hidupnya. Mungkin
ia nyaman melakukannya, akan tetapi ia sama sekali tidak
bahagia.
Ketika hujan tiba, ia selalu tertarik
untuk berenang di tanah basah dan selalu berharap ia dapat melakukannya bersama kedua orang tuanya. Ia selalu
berharap orang tuanya tidak pernah meninggal dan selalu hadir di setiap
sesi kehidupannya. Padahal
dengan melakukan hal tersebut
tidak akan merubah realita bahwa kedua orang tuanya tidak akan hidup lagi di kehidupan
Aldra saat ini.
Perempuan muda itu memeluk kaki Bu Saura
erat. Dalam hatinya ia menyesal sempat menolak
pertemuannya dengan Bu Saura. Singkat, hangat dan penuh hormat ia sampaikan, “Terima
kasih, Bu Saura.”
Bionarasi
Vina Amelia Rosida yang sering disapa Vina ialah mahasiswi prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Trunojoyo Madura. Ia kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur. Ia menggemari bidang menulis, untuk itulah ia memutuskan untuk bergabung dengan komunitas Karsa di kampus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar