Sabtu, 13 Mei 2023

CERPEN "TAKDIR"

 Takdir

Karya: Zahrotus Sakdiyah

Setiap pertemuan akan berujung pada perpisahan. Mengapa bisa begitu? Itu sudah garis takdir yang berlaku bagi setiap yang hidup di muka bumi. Tak ada yang mampu menentang ini dalam sebuah takdir. Menangis darah pun, tak akan mampu menukar takdir yang telah ditentukan. Keabadian memang ada dalam dunia cinta, tapi kebersamaan tak selalu bisa dijamin oleh cinta. Memang tidak ada yang abadi di dunia ini selain cinta. Cinta akan semakin tumbuh seiring dengan mendalamnya rasa sakit oleh rindu. Tetapi sepasang kekasih yang saling mencintai tidak bisa egois untuk meminta tidak ada kata pisah untuk pertemuan mereka.

Aku selalu saja menjadi saksi mata untuk perpisahan antara dua jiwa yang saling mengasihi, bahkan aku sendiri yang menyiapkan lubang perpisahan itu. Apalagi yang harus aku lakukan? Bukankah itu sudah menjadi tugasku sebagai penggali kubur untuk setiap raga yang telah mati?

Setiap kisah kasih mereka aku tahu betul. Bagaimana kerinduan raga yang hidup kepada raga yang telah mati. Namun, kisah yang satu ini berbeda. Cinta yang begitu menyakitkan, bahkan sampai berhasil membuat mataku memanas melihatnya.

Satu jam lalu, aku sudah menjalankan tugas ku membuat lubang perpisahan lagi, entah sudah berapa kalinya. Semua orang menangis dengan wajah sedihnya. Akan tetapi, bukan itu yang membuatku terharu, melainkan satu gadis yang sekarang masih tetap setia berada di pemakaman itu. Dia menangis, tapi anehnya ada senyum di sana. Bukan senyum bahagia, tapi banyak nestapa yang disembunyikan dalam senyum gadis itu.

Saat semua orang sudah pergi dari sana tapi gadis itu masih setia dengan duduknya sampai senja hari. Ia masih terisak di sana. Aku berfikir untuk menghampirinya. Entah mengapa hati ini terketuk untuk menghampirinya. Saat aku menghampirinya, aku melihat nama yang tertulis di nisan itu, Raskal. Ternyata seseorang yang ditangisi oleh gadis itu bernama Raskal.

Aku menyebut nama yang tertulis pada nisan itu, membuat gadis yang membelakangiku itu menoleh sejenak kemudian kembali pada posisi semula.

“Jangan dihapus, Nak! Dengan kau menghapus air mata tidak akan bisa menghapus nestapamu,” cegahku saat gadis itu hendak menghapus air matanya.

Biarlah air mata itu mengalir dengan derasnya. Seperti awan yang menghujani bumi sebab ia tak mampu membawa bebannya. Biarlah air matanya yang menjelaskan kepedihannya. Gadis itu masih diam tanpa suara, bahkan air mata itu semakin deras membasahinya. Aku pun ikut duduk di sampingnya. Menelusuri nestapa yang menghantamnya.

“Nama yang bagus, pasti pemuda ini sangat tampan ya?” pujiku kepada nama yang tertulis pada nisan itu.

Lagi-lagi gadis ini hanya diam dan mengangguk. Tak lupa senyum sendu itu tak pernah hilang dari wajah cantiknya.

“Pasti namamu tak kalah indah darinya_sama seperti wajahmu,” ucapku sambil tersenyum.

“Namaku Naya, Paman,” Terlihat deretan gigi putihnya karena tersenyum, tapi tetap dengan tatapan sendunya.

Saat gadis itu menyebutkan namanya, aku hanya mengangguk tersenyum. Berharap ia mau membagi luka dengan ku. Ya…walaupun aku hanya orang asing untuknya.

“Benar yang dikatakan para penyair, cinta itu abadi meski raga terpisah. Aku dulu juga seperti mu. Setelah wanita yang paling aku cintai pergi di hadapan ku, aku mengurung diri dalam lautan nestapa_” gumamku.

Gadis itu beralih menatapku, lalu aku melanjutkan ceritaku.

“Apa paman sekarang sudah melupakannya?” tanyanya.

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Mana bisa aku melupakan seseorang yang bahkan sudah menjadi belahan jiwaku, wanita yang sudah menjadi rumah bagiku, pikirku.

“Nak, apakah kau akan berpikir untuk melupakannya?” tanyaku balik.

“Kenapa Paman malah bebalik nanya padaku? Tentu saja tidak akan,” sahutnya. Aku hanya tersenyum mendengarnya.

“Kenapa?” tanyaku lagi.

“Aku sangat mencintainya paman, demi apapun.” Sambil mengelus nisan di depannya.

“Itulah nak jawabannya, aku juga tidak pernah melupakannya, bahkan dalam tidurku selalu melihatnya_”

“Lihatlah di ujung sana! Tempat peristirahatan istriku, sangat cantik bukan? Kau tau, aku selalu mengunjunginya dan membersihkannya. Karena aku tau dia akan marah jika tempatnya kotor,” sambung ku.

Gadis itu terdiam sejenak menatap tempat peristirahatan istriku, lalu kembali menatap nisan di depannya. Gadis itu tersenyum dan air matanya kembali menetes. Kemudian ia mengambil nafas dalam, mencoba menceritakan kisahnya.

“Raskal…dia adalah orang yang aku cintai. Kita berdua memiliki status sebagai sahabat. Sampai dengan berjalannya waktu, kami saling memiliki rasa cinta bukan sebagai sahabat, tapi sebagai pria dan wanita pada umumnya. Akan tetapi, saat kami sudah saling mengetahui perasaan satu sama lain, kami berjanji memendam perasaan itu dan mempertahankan persahabatan kami.”

“Dalam judul buku apapun, halaman berapun, dia tetap sesorang yang memiliki tempat terindah dalam hatiku meski tak bisa aku miliki. Karena Raskal ingin mempertahankan hanya sebatas persahabatan meskipun ia tahu kami saling cinta. Saat aku bertanya, mengapa ia melakukan itu, ia menjawab ‘aku tak ingin melukai perasaanmu nantinya Nay’. Sampai pada suatu hari aku mengetahui bahwa dia mengidap penyakit kangker stadium akhir tapi_" Sesekali ia menghentikan perkatannya dan mengusap air matanya.

Aku tahu itu sangat menyakitkan baginya. Mungkin sebuah kesalahan karena aku telah memaksanya bercerita. Karena itu hanya membuatnya semakin terjerat dalam nestapanya. Ingin sekali aku merengkuhnya layaknya anakku sendiri, tapi aku tak berdaya melakukannya.

“Jangan diteruskan jika itu sakit, Nak!” tanganku ikut gemetar saat mengusap pelan punggungnya.

Dalam hati aku berdoa, Oh tuhan! Bukankah nestapanya juga menjadi dukamu? Maka, sudahilah nestapanya ini. Dia tidak sekuat itu tuhan. Bahkan saat matanya menangis, ia masih bisa tersenyum. Bukankah dia sangat lemah? Bagaimana bisa itu terjadi. Banyak luka dalam senyumnya ini tuhan. Sesekali aku menghapus butiran bening yang sudah tak bisa terbendung lagi.

“Tak apa paman.”

“Kau tau paman? Aku adalah wanita paling beruntung karena dimiliki oleh lelaki sepertinya. Kami tumbuh dengan penyakit kami masing-masing. Awalnya, aku berpikir tuhan itu tidak adil tapi tuhan mengirim Raskal dalam hidupku. Itu juga salah satu alasan kami tetap memilih menjadi sahabat daripada menjadi sepasang kekasih. Aku menderita penyakit jantung bocor dan dia mengidap kangker. Awalnya kami saling menutupi penyakit kami dari satu sama lain. Sampai pada akhirnya, aku sudah dekat dengan ajalku, aku membutuhkan donor jantung dengan segera. Kemudian Raskal mengorbankan jantungnya untukku. Ibuku sudah melarangnnya, ta-tapi dia bilang bahwa hidupnya sudah tidak lama lagi. Perlahan dia bercerita tentang penyakitnya padaku.”

“Sangat serasi bukan? Kami berdua sama-sama memiliki penyakit yang bisa merenggut nyawa kapan saja dan berjuang hidup bersama-sama.” Sambil tertawa sumbang.

Lagi-lagi sebuah pengorbanan tulus dalam sebuah cinta. Keikhlasan yang begitu besar dalam cinta mereka. Ini bukan lagi tentang kisah Romeo dengan Juliet atau Layla dengan Majnun, tapi ini kisah Raskal dengan Naya.

“Nak, begitu dalam nestapamu tapi mengapa kau masih bisa tersenyum seperti tadi, bahkan saat kau melihatnya sendiri ia masuk dalam lubang perpisahan itu?”

Lagi-lagi gadis itu tersenyum sambil mengambil nafas dalam-dalam.

“Kau tau Paman, suatu malam kami menatap bintang. Tiba-tiba ia bertanya, ‘Nay, jika di dunia ini kita harus memilih aku atau kau dulu yang pergi, kau pilih yang mana?’ Lalu, aku menjawab lebih baik dia yang pergi lebih dulu, karena aku tak bisa melihatnya sendirian di dunia tanpa aku. Dan dia, lebih memilih dirinya pergi lebih dulu karena ia tak ingin aku sendirian di atas sana_”

“Itu sebabnya aku tidak menyesal ia pergi lebih dulu karena itu memang pilihanku. Mungkin saat aku mengatakannya malaikat langsung mencatatnya dan tuhan maha mendengar segalanya.”

“Sebelum ia mendonorkan jantungnya untukku, ia membuat rekaman suara. Ia mengatakan bahwa aku tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. aku harus tetap tersenyum di dunia ini agar pengorbannya tidak sia-sia. Ia mengatakan akan menungguku di atas sana sambil menabung kerinduan.” Tiba-tiba air matanya menetes kesekian kalinya.

“Itu artinya kau harus bahagia, Nak. Kau harus membuka lembaran baru bersama orang baru setelah ini.” Nasihatku.

“Membuka lembaran baru tidak harus dengan orang baru, Paman. Aku akan membuka lembaran baru bersama dengan kenangan kami. Dia sudah berjanji menungguku, jadi aku juga harus berjanji menjaga hatiku untuknya dan kami bersama-sama menabung kerinduan ini sampai masanya tiba aku akan menyusulnya, lalu meluapkan segala rindu ini,” jelasnya.

“Aku tidak mengerti cinta seperti apa ini, Nak?”

“Inilah cinta sejati paman, cinta sejati!”

“Mungkin kau tidak akan mengerti, Paman. Yang tidak merasakan tidak akan paham dan yang tidak mengalami tidak akan pernah mengerti. Aku beruntung karena menjadi wanita terakhir yang ia cintai_” berhenti sejenak sambil mengusap pipinya yang basah.

“Kal…sudah dulu ya. Besok aku kembali lagi dan bercerita tentang hari-hariku padamu. Aku pamit pulang paman, permisi!” Dengan gontai, ia melangkah pergi dari pemakaman.

Gadis itu pulang dengan baju yang sudah lusuh dan kotor sebab tanah merah. Aku terus menatap punggung gadis itu yang semakin tak terlihat.

“Terima kasih, Nak! Kalian memberi contoh ketulusan dalam sebuah cinta. Kalian membuktikan bahwa masih ada cinta sejati setelah kematian Romeo dengan Juliet dan Layla Majnun. Kini sejarah akan mencatatnya. Aku yakin itu,” gumamku.

Setelah hari itu, Naya tak pernah lupa menemui Raskal di tempat peristirahannya. Banyak sekali cerita yang selalu ia bawa setiap harinya. Naya tak pernah membiarkan tanah itu kering. Setiap pagi aku melihatnya, pasti tanah Raskal selalu bersih, basah, dan wangi mawar putih seperti makam baru. Aku sedih, saat aku tiada nanti siapa yang akan meneruskan kisah mereka yang sudah ku tulis ini.

Naya lebih memilih mengesampingkan egonya dan merelakan kepergian orang yang dicintainya, karena takdir telah berkehendak demikian. Lagi-lagi soal takdir, siapa yang mampu menolaknya? Sedangkan mereka semua yang hidup itu diatur oleh takdir. Takdir adalah raja dalam setiap kisah kehidupan makhluk di muka bumi ini. Tak ada yang mampu melawan dan mempermainkan takdir.

Inilah cinta yang sesungguhnya, cinta yang begitu tulus dan ikhlas. Tidak ada kata rugi dalam ikhlas mencintai. Sungguh mereka berdua telah mencapai puncak mencintai dengan ikhlas. Takdir membuat mereka merasakan pahitnya perpisahan, tetapi tanpa disadari takdir juga memberikan mereka manisnya tulusnya dalam sebuah cinta.

 

 

 


 

Bionarasi Penulis

Zahrotus Sakdiyah, gadis 19 tahun yang sedang menempuh Pendidikan di perguruan tinggi Universitas Trunojoyo Madura ini memang gemar membaca dan menulis. Baginya, menulis adalah dunianya. Tak heran, jika gadis sepertiku bersahabat dengan pena dan secarik kertas. Kalian bisa menemuiku dalam karyaku yang terbit dalam buku antologi cerpen dan puisi yang berjudul Cinta, Harap dan Harga, Asa dan Prahara Rasa, dan Ukiran Seuntai Kata. Teruslah berkarya wahai penulis hebat!!! Karya mu adalah jejak mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUISI " MENUJU CAHAYA"

  MENUJU CAHAYA Karya ilna lutfiana  Dalam gelap yang pernah datang Aku jatuh,nyaris hilang Namun bara kecil di dada Tak pernah padam,terus ...