Takdir
Karya: Zahrotus Sakdiyah
Setiap
pertemuan akan berujung pada perpisahan. Mengapa bisa begitu? Itu sudah garis
takdir yang berlaku bagi setiap yang hidup di muka bumi. Tak ada yang mampu
menentang ini dalam sebuah takdir. Menangis darah pun, tak akan mampu menukar
takdir yang telah ditentukan. Keabadian memang ada dalam dunia cinta, tapi
kebersamaan tak selalu bisa dijamin oleh cinta. Memang tidak ada yang abadi di
dunia ini selain cinta. Cinta akan semakin tumbuh seiring dengan mendalamnya
rasa sakit oleh rindu. Tetapi sepasang kekasih yang saling mencintai tidak bisa
egois untuk meminta tidak ada kata pisah untuk pertemuan mereka.
Aku
selalu saja menjadi saksi mata untuk perpisahan antara dua jiwa yang saling
mengasihi, bahkan aku sendiri yang menyiapkan lubang perpisahan itu. Apalagi
yang harus aku lakukan? Bukankah itu sudah menjadi tugasku sebagai penggali
kubur untuk setiap raga yang telah mati?
Setiap
kisah kasih mereka aku tahu betul. Bagaimana kerinduan raga yang hidup kepada
raga yang telah mati. Namun, kisah yang satu ini berbeda. Cinta yang begitu
menyakitkan, bahkan sampai berhasil membuat mataku memanas melihatnya.
Satu
jam lalu, aku sudah menjalankan tugas ku membuat lubang perpisahan lagi, entah
sudah berapa kalinya. Semua orang menangis dengan wajah sedihnya. Akan tetapi,
bukan itu yang membuatku terharu, melainkan satu gadis yang sekarang masih
tetap setia berada di pemakaman itu. Dia menangis, tapi anehnya ada senyum di
sana. Bukan senyum bahagia, tapi banyak nestapa yang disembunyikan dalam senyum
gadis itu.
Saat
semua orang sudah pergi dari sana tapi gadis itu masih setia dengan duduknya
sampai senja hari. Ia masih terisak di sana. Aku berfikir untuk menghampirinya.
Entah mengapa hati ini terketuk untuk menghampirinya. Saat aku menghampirinya,
aku melihat nama yang tertulis di nisan itu, Raskal. Ternyata seseorang yang
ditangisi oleh gadis itu bernama Raskal.
Aku
menyebut nama yang tertulis pada nisan itu, membuat gadis yang membelakangiku
itu menoleh sejenak kemudian kembali pada posisi semula.
“Jangan dihapus, Nak! Dengan kau menghapus air mata
tidak akan bisa menghapus nestapamu,” cegahku saat gadis itu hendak menghapus
air matanya.
Biarlah
air mata itu mengalir dengan derasnya. Seperti awan yang menghujani bumi sebab
ia tak mampu membawa bebannya. Biarlah air matanya yang menjelaskan
kepedihannya. Gadis itu masih diam tanpa suara, bahkan air mata itu semakin
deras membasahinya. Aku pun ikut duduk di sampingnya. Menelusuri nestapa yang
menghantamnya.
“Nama yang bagus, pasti pemuda ini sangat tampan ya?”
pujiku kepada nama yang tertulis pada nisan itu.
Lagi-lagi
gadis ini hanya diam dan mengangguk. Tak lupa senyum sendu itu tak pernah
hilang dari wajah cantiknya.
“Pasti namamu tak kalah indah darinya_sama seperti
wajahmu,” ucapku sambil tersenyum.
“Namaku Naya, Paman,” Terlihat deretan gigi putihnya
karena tersenyum, tapi tetap dengan tatapan sendunya.
Saat
gadis itu menyebutkan namanya, aku hanya mengangguk tersenyum. Berharap ia mau
membagi luka dengan ku. Ya…walaupun aku hanya orang asing untuknya.
“Benar yang dikatakan para penyair, cinta itu abadi
meski raga terpisah. Aku dulu juga seperti mu. Setelah wanita yang paling aku
cintai pergi di hadapan ku, aku mengurung diri dalam lautan nestapa_” gumamku.
Gadis
itu beralih menatapku, lalu aku melanjutkan ceritaku.
“Apa paman sekarang sudah melupakannya?” tanyanya.
Aku
hanya tersenyum mendengarnya. Mana bisa aku melupakan seseorang yang bahkan
sudah menjadi belahan jiwaku, wanita yang sudah menjadi rumah bagiku, pikirku.
“Nak, apakah kau akan berpikir untuk melupakannya?”
tanyaku balik.
“Kenapa Paman malah bebalik nanya padaku? Tentu saja
tidak akan,” sahutnya. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
“Kenapa?” tanyaku lagi.
“Aku sangat mencintainya paman, demi apapun.” Sambil
mengelus nisan di depannya.
“Itulah nak jawabannya, aku juga tidak pernah
melupakannya, bahkan dalam tidurku selalu melihatnya_”
“Lihatlah di ujung sana! Tempat peristirahatan
istriku, sangat cantik bukan? Kau tau, aku selalu mengunjunginya dan
membersihkannya. Karena aku tau dia akan marah jika tempatnya kotor,” sambung
ku.
Gadis
itu terdiam sejenak menatap tempat peristirahatan istriku, lalu kembali menatap
nisan di depannya. Gadis itu tersenyum dan air matanya kembali menetes.
Kemudian ia mengambil nafas dalam, mencoba menceritakan kisahnya.
“Raskal…dia adalah orang yang aku cintai. Kita berdua
memiliki status sebagai sahabat. Sampai dengan berjalannya waktu, kami saling
memiliki rasa cinta bukan sebagai sahabat, tapi sebagai pria dan wanita pada
umumnya. Akan tetapi, saat kami sudah saling mengetahui perasaan satu sama
lain, kami berjanji memendam perasaan itu dan mempertahankan persahabatan
kami.”
“Dalam judul buku apapun, halaman berapun, dia tetap
sesorang yang memiliki tempat terindah dalam hatiku meski tak bisa aku miliki.
Karena Raskal ingin mempertahankan hanya sebatas persahabatan meskipun ia tahu
kami saling cinta. Saat aku bertanya, mengapa ia melakukan itu, ia menjawab
‘aku tak ingin melukai perasaanmu nantinya Nay’. Sampai pada suatu hari aku
mengetahui bahwa dia mengidap penyakit kangker stadium akhir tapi_"
Sesekali ia menghentikan perkatannya dan mengusap air matanya.
Aku
tahu itu sangat menyakitkan baginya. Mungkin sebuah kesalahan karena aku telah
memaksanya bercerita. Karena itu hanya membuatnya semakin terjerat dalam
nestapanya. Ingin sekali aku merengkuhnya layaknya anakku sendiri, tapi aku tak
berdaya melakukannya.
“Jangan diteruskan jika itu sakit, Nak!” tanganku ikut
gemetar saat mengusap pelan punggungnya.
Dalam
hati aku berdoa, Oh tuhan! Bukankah nestapanya juga menjadi dukamu? Maka,
sudahilah nestapanya ini. Dia tidak sekuat itu tuhan. Bahkan saat matanya
menangis, ia masih bisa tersenyum. Bukankah dia sangat lemah? Bagaimana bisa
itu terjadi. Banyak luka dalam senyumnya ini tuhan. Sesekali aku menghapus
butiran bening yang sudah tak bisa terbendung lagi.
“Tak apa paman.”
“Kau tau paman? Aku adalah wanita paling beruntung
karena dimiliki oleh lelaki sepertinya. Kami tumbuh dengan penyakit kami
masing-masing. Awalnya, aku berpikir tuhan itu tidak adil tapi tuhan mengirim
Raskal dalam hidupku. Itu juga salah satu alasan kami tetap memilih menjadi
sahabat daripada menjadi sepasang kekasih. Aku menderita penyakit jantung bocor
dan dia mengidap kangker. Awalnya kami saling menutupi penyakit kami dari satu
sama lain. Sampai pada akhirnya, aku sudah dekat dengan ajalku, aku membutuhkan
donor jantung dengan segera. Kemudian Raskal mengorbankan jantungnya untukku.
Ibuku sudah melarangnnya, ta-tapi dia bilang bahwa hidupnya sudah tidak lama
lagi. Perlahan dia bercerita tentang penyakitnya padaku.”
“Sangat serasi bukan? Kami berdua sama-sama memiliki
penyakit yang bisa merenggut nyawa kapan saja dan berjuang hidup bersama-sama.”
Sambil tertawa sumbang.
Lagi-lagi
sebuah pengorbanan tulus dalam sebuah cinta. Keikhlasan yang begitu besar dalam
cinta mereka. Ini bukan lagi tentang kisah Romeo dengan Juliet atau Layla
dengan Majnun, tapi ini kisah Raskal dengan Naya.
“Nak, begitu dalam nestapamu tapi mengapa kau masih
bisa tersenyum seperti tadi, bahkan saat kau melihatnya sendiri ia masuk dalam
lubang perpisahan itu?”
Lagi-lagi
gadis itu tersenyum sambil mengambil nafas dalam-dalam.
“Kau tau Paman, suatu malam kami menatap bintang.
Tiba-tiba ia bertanya, ‘Nay, jika di dunia ini kita harus memilih aku atau kau
dulu yang pergi, kau pilih yang mana?’ Lalu, aku menjawab lebih baik dia yang
pergi lebih dulu, karena aku tak bisa melihatnya sendirian di dunia tanpa aku.
Dan dia, lebih memilih dirinya pergi lebih dulu karena ia tak ingin aku
sendirian di atas sana_”
“Itu sebabnya aku tidak menyesal ia pergi lebih dulu
karena itu memang pilihanku. Mungkin saat aku mengatakannya malaikat langsung
mencatatnya dan tuhan maha mendengar segalanya.”
“Sebelum ia mendonorkan jantungnya untukku, ia membuat
rekaman suara. Ia mengatakan bahwa aku tidak boleh terlalu larut dalam
kesedihan. aku harus tetap tersenyum di dunia ini agar pengorbannya tidak
sia-sia. Ia mengatakan akan menungguku di atas sana sambil menabung kerinduan.”
Tiba-tiba air matanya menetes kesekian kalinya.
“Itu artinya kau harus bahagia, Nak. Kau harus membuka
lembaran baru bersama orang baru setelah ini.” Nasihatku.
“Membuka lembaran baru tidak harus dengan orang baru,
Paman. Aku akan membuka lembaran baru bersama dengan kenangan kami. Dia sudah
berjanji menungguku, jadi aku juga harus berjanji menjaga hatiku untuknya dan
kami bersama-sama menabung kerinduan ini sampai masanya tiba aku akan
menyusulnya, lalu meluapkan segala rindu ini,” jelasnya.
“Aku tidak mengerti cinta seperti apa ini, Nak?”
“Inilah cinta sejati paman, cinta sejati!”
“Mungkin kau tidak akan mengerti, Paman. Yang tidak
merasakan tidak akan paham dan yang tidak mengalami tidak akan pernah mengerti.
Aku beruntung karena menjadi wanita terakhir yang ia cintai_” berhenti sejenak
sambil mengusap pipinya yang basah.
“Kal…sudah dulu ya. Besok aku kembali lagi dan
bercerita tentang hari-hariku padamu. Aku pamit pulang paman, permisi!” Dengan
gontai, ia melangkah pergi dari pemakaman.
Gadis
itu pulang dengan baju yang sudah lusuh dan kotor sebab tanah merah. Aku terus
menatap punggung gadis itu yang semakin tak terlihat.
“Terima kasih, Nak! Kalian memberi contoh ketulusan
dalam sebuah cinta. Kalian membuktikan bahwa masih ada cinta sejati setelah
kematian Romeo dengan Juliet dan Layla Majnun. Kini sejarah akan mencatatnya.
Aku yakin itu,” gumamku.
Setelah
hari itu, Naya tak pernah lupa menemui Raskal di tempat peristirahannya. Banyak
sekali cerita yang selalu ia bawa setiap harinya. Naya tak pernah membiarkan
tanah itu kering. Setiap pagi aku melihatnya, pasti tanah Raskal selalu bersih,
basah, dan wangi mawar putih seperti makam baru. Aku sedih, saat aku tiada
nanti siapa yang akan meneruskan kisah mereka yang sudah ku tulis ini.
Naya
lebih memilih mengesampingkan egonya dan merelakan kepergian orang yang
dicintainya, karena takdir telah berkehendak demikian. Lagi-lagi soal takdir,
siapa yang mampu menolaknya? Sedangkan mereka semua yang hidup itu diatur oleh
takdir. Takdir adalah raja dalam setiap kisah kehidupan makhluk di muka bumi
ini. Tak ada yang mampu melawan dan mempermainkan takdir.
Inilah
cinta yang sesungguhnya, cinta yang begitu tulus dan ikhlas. Tidak ada kata
rugi dalam ikhlas mencintai. Sungguh mereka berdua telah mencapai puncak
mencintai dengan ikhlas. Takdir membuat mereka merasakan pahitnya perpisahan,
tetapi tanpa disadari takdir juga memberikan mereka manisnya tulusnya dalam
sebuah cinta.
Bionarasi
Penulis
Zahrotus Sakdiyah,
gadis 19 tahun yang sedang menempuh Pendidikan di perguruan tinggi Universitas
Trunojoyo Madura ini memang gemar membaca dan menulis. Baginya, menulis adalah
dunianya. Tak heran, jika gadis sepertiku bersahabat dengan pena dan secarik
kertas. Kalian bisa menemuiku dalam karyaku yang terbit dalam buku antologi cerpen
dan puisi yang berjudul Cinta, Harap dan Harga, Asa dan Prahara Rasa, dan
Ukiran Seuntai Kata. Teruslah berkarya wahai penulis hebat!!! Karya mu adalah
jejak mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar