Sabtu, 27 Mei 2023

CERPEN "PEREMPUAN DI UJUNG PANTAI"

 Perempuan Di Ujung Pantai

Oleh: Lisa Mazidatur Rofiqoh

 

Jumat sore setelah pulang kerja aku memutuskan untuk berlibur ke pantai karena esok adalah weekend. Aku ingin menghibur diriku karena terlalu lelah menatap layar, mendengar suara bising kendaraan umum dan menghirup udara yang menyakitkan. Sepanjang perjalanan aku membayangkan melihat mentari pagi, cakrawala yang cerah, lautan biru disertai ombak yang bergejolak sambil meneguk sebuah nyiur yang segar. Ah membayangkannya membuatku tak sabar ingin sampai ke tempat yang disebut pantai.

Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam akhirnya Rimba tiba di sebuah pantai, anggap saja tokoh aku bernama Rimba. Aku sangat menyukai pantai karena di pantai aku merasa lebih santai, lebih tenang dan mensyukuri salah satu dari milyaran nikmat Tuhan yaitu melihat pemandangan yang indah dan tidak didapatkan di metropolitan. Karena sudah malam pantai sepi pengunjung, tapi aku suka karena aku bisa merasa tenang menikmati suasana pantai. Ditemani bintang-bintang dan rembulan di cakrawala, aku berdiri di pesisir pantai sambil memejamkan mata menikmati suara ombak yang bergejolak, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang dan aku pun terkejut kemudian menengok ke belakang untuk melihat siapa pelakunya dan ternyata...

“Hai sedang apa kamu disini?” Tanya si gadis cantik.

 

Aku tak menjawab pertanyaannya mataku tak berkedip karena terpesona dengan gadis itu. Bagaimana tidak? Wajahnya cantik bagaikan bidadari, bola matanya berwarna biru bagaikan bintang kejora, kulitnya bersih dan putih seperti susu, rambut hitam panjang yang berkilau seperti sinar. Aku sebut gadis ini lebih cantik dari Kendall Janner.

“Haloo apakah kamu mendengar suaraku?” Dia bertanya sambil menggerakkan telapak tangan ke kiri dan ke kanan untuk menyadarkanku yang sedang terpesona melihat kecantikkannya.

“O..oh hai, maaf aku nggak fokus karena melihat kecantikkanmu.” Kataku yang membuat dia tersipu malu.

“Ah bisa saja kamu, apa yang kamu lakukan di sini? Ini sudah malam, nanti kamu masuk angin.” Dia bertanya kebingungan.


“Aku suka suasana pantai yang sepi, karena memberikan ketenangan buat pikiran dan hatiku.” Aku menjawab dengan senyum tipis.

“Aneh kamu, biasanya orang lebih suka pergi ke pantai siang atau pagi hari bersama teman atau keluarga, kamu malah sebaliknya.”

“Selera setiap orang berbeda. Oh iya kamu sendiri ngapain di sini?” Tanyaku penasaran.

 

“Aku di sini untuk menjaga keamanan dan kebersihan di sekitar pantai ini.” Jawabnya dengan santai.

“Sendiri? Kenapa harus kamu?” Tanyaku lebih mendalam.

 

“Aku nggak sendiri kok, aku mempunyai komunitas yang memiliki anggota tiga puluh orang. Kebetulan malam ini aku dan temanku cowok yang bertugas.” Jawabnya dengan suara teduh.

“Komunitas apa?” Tanyaku penasaran.

 

“Komunitas kami bernama Ringan Tangan yang artinya suka membantu dan berbuat baik. Tugas kami adalah menjaga keamanan dan kebersihan di sekitar pantai ini. Kami memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar tentang bahaya membuang sampah di pantai selain itu kami juga mengajak masyarakat mendaur ulang sampah agar menghasilkan produk yang dapat menambah keuangan mereka. Di sini sering terjadi pencurian ikan dan barang lain ketika malam hari, maka dari itu kami memutuskan untuk mengadakan penjagaan di malam hari sampai pukul 24.00.” Dia menjawab dengan panjang dan lebar.

“Oh iya, kita belum kenalan namaku Rimba kamu siapa?” Tanyaku sambil menjulurkan tangan.

“Namaku Yuna.” Jawabnya sambil menerima uluran tanganku. “Nama yang cantik sama seperti orangnya.” Kataku sambil tersenyum. “Ish apaansih.” Jawabnya dengan tersipu malu.

Hari semakin malam suasana semakin hening hanya terdengar suara ombak rembulan sudah menghilang aku memutuskan untuk ke penginapan.

“Ini sudah malam, aku mau ke penginapan kamu jangan lupa istirahat, jangan capek-capek ya cantikku.” Kataku dengan ekspresi menggoda.


“Ish sanaa, sudah malam masih saja menggombal.” Jawabnya dengan kesal dan berwajah merah merona.

“Iya iya cantik.” Kataku sambil mengedipkan sebelah mata sebelum lari. Yuna semakin kesal dan melempar sandal ke arahku. Aku lari dengan cepat.

“Baru kali ini ada tamu yang berani menggodaku. Dia pikir aku akan termakan rayuan gombalnya. Oh, tentu tidak aku bukan tipe perempuan yang meleleh ketika mendapat pujian. Ah, sudahlah lebih baik aku pergi dari sini daripada pria sok asyik itu. Yuna menggerutu.

Keesokan hari setelah aku menunaikan kewajibanku kepada Yang Maha Kuasa, aku berjalan menuju pantai untuk melihat mentari dan cakrawala yang indah. Ketika aku di pantai aku melihat Yuna dan kawan-kawan membeersihkan sampah di pantai.

“Boleh aku membantu?” Tanyaku.

 

“Memang kamu di sini melihat tulisan larangan membantu membersihkan pantai?” Tanya balik.

“Ok..ok aku bantu.” Jawabku dengan senyum semanis gula. Sungguh gadis ini sulit sekali untuk ditaklukkan. Akhirnya aku memutuskan untuk membersihkan pantai. Selesai membersihkan pantai aku lelah, keringatku bercucuran, namun tiba-tiba ada seseorang yang memberiku air kelapa muda ternyata orang itu adalah Yuna gadis cuek seperti bebek ternyata dia baik juga.

“Baru segitu saja capek, nih minum.” Ujarnya sambil memberikanku sebotol air putih.

 

“Thanks. Ini aku kan baru pertama kali jadi, wajar dong aku capek. Aku salut loh sama kamu dan teman-temanmu masih muda tapi sudah memiliki jiwa kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan. Biasanya anak muda lebih suka menghabiskan waktu di mall atau nonton di bioskop, eh kamu dan orang-orang di sini malah menjaga pantai.” Ujarku.

“Biasa saja jangan terlalu memuji nanti besar kepala loh aku. Aku juga masih belajar. Ini merupakan salah satu cara aku untuk menyayangi dan bersyukur kepada Tuhan. Tuhan itu baik banget sama kita, padahal kita sering berbuat salah, tapi Tuhan masih memberikan ribuan kesempatan untuk kita. Manusia merupakan makhluk yang tidak pandai untuk bersyukur, padahal kita merupakan makhluk yang paling sempurna dari yang lain, kita diberi akal tapi seolah-olah tidak berakal. Kita masih belum bisa menjaga apa yang harusnya kita jaga. Alam diciptakan untuk manusia, terus kalau manusia sendiri yang merusak alam bagaimana? Kalau


bukan manusia yang menjaga, membersihkan dan melestarikan alam, apakah alam bisa menjaga dirinya sendiri? Atau bahkan hewan? Terkadang aku malu terhadap Tuhan, aku malu sebagai manusia, makhluk yang tidak pandai bersyukur.” Jelasnya sambil menatap hamparan ombak.

Aku tertegun, bukan dengan gaya bicaranya atau nada bicaranya, tetapi apa yang dia ucapkan. Yuna mengungkapkan hal yang benar manusia adalah makhluk yang egois.

“Kamu benar kita adalah makhluk yang egois.” Kataku.

 

“Oh iya, kamu kan tadi sudah bertanya kepadaku, sekarang aku mau tanya sama kamu.” Ujarnya.

“Silakan, tanya apa?” Kataku penasaran.

 

“Mengapa kamu menghabiskan waktu liburmu di sini?” Yuna bertanya seraya menatap mataku.

“Seperti yang aku bilang kemarin. Sejak kecil orang tuaku sering mengajak aku ke pantai ketika libur sekolah. Orang tuaku mengajarkan aku untuk tidak merusak alam. Mereka mengatakan kalau tidak bisa menjaga dan merawat setidaknya jangan merusak, Tuhan akan murka apabila sesuatu yang ia ciptakan dirusak dengan sengaja.”

“Orang tuamu mengatakan hal yang benar, andai saja semua manusia sadar akan hal itu pasti alam kita tetap terjaga.” Ucapnya.

“Untuk memulai hal baik harus dimulai dari diri sendiri. Siapa tahu saat kita berbuat baik dapat menjadi inspirasi buat orang lain, contohnya seperti apa yang kamu dan teman-temanmu lakukan semoga memberikan inspirasi untuk banyak orang agar menjaga lingkungan alam.” Kataku dengan yakin.

“Aamiin.” Jawabnya dengan senyuman.

 

Keesokan hari aku harus pulang ke rumah karena besok sudah masuk kerja. Sebelum pulang aku mencari Yuna, akhirnya ketemu dia sedang berada di pesisir pantai.

“Hai, Yuna.” Sapaku.

 

“Hai, kamu mau pulang?” Tanya dia.

 

“Iya. Yuna terima kasih.” Ucapku sambil memegang kedua tangannya.


“Untuk apa?” Dia kebingungan.

 

“Terima kasih sudah mengajariku banyak hal selama dua hari ini. Karena kamu aku belajar untuk lebih mencintai alam dan bersyukur dengan ciptaan Tuhan.” Ucapku dengan tulus.

“Sama-sama semoga kita menjadi manusia yang lebih baik dan bersyukur dengan apa yang Tuhan kasih untuk kita.” Jawabnya dengan tersenyum.

“Aamiin, aku pamit ya.” Ucapku seraya melepas pegangan tangannya.

 

“Hati-hati di jalan semoga selamat sampai tujuan dan sampai jumpa di lain kesempatan.” Ucapnya sambil melambai tangan.

“Ashhiaapp.”

 

 

 

Itulah pertemuan singkatku dengan gadis penjaga pantai bernama Yuna. Walaupun singkat akan selalu aku ingat. Aku percaya selalu ada makna tersirat dalam pertemuan yang singkat.

 

 

 

 

Bionarasi

 

 

Nama       : Lisa Mazidatur Rofiqoh.

 

TTL          : Bojonegoro, 22 Oktober 2001.

 

Status       : Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Institusi   : Universitas Trunojoyo Madura.

Hobi         : Menulis dan Membaca. Email       : lisarofiqoh0@gmail.com

Alamat     : Desa Mulyorejo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUISI " MENUJU CAHAYA"

  MENUJU CAHAYA Karya ilna lutfiana  Dalam gelap yang pernah datang Aku jatuh,nyaris hilang Namun bara kecil di dada Tak pernah padam,terus ...