Sabtu, 29 April 2023

CERPEN "KINASIH"

KINASIH

Oleh: Maulina Fitria

 

            “Lilatlah Sam jejeran rumah itu sekarang hanya menjadi sebuah jejeran rumah, surau setapak itu juga hanya menjadi sebuah surau. Burung yang biasanya berkicau tiap pagi juga telah hilang semangat sejak tuannya pergi.” Ucap nenek Galuh. “Dulu saat kau masih kecil, kakakmu Kinasih sangat dekat dengan kakek dan nenek Sam. Saat papa mama mu sibuk mengurusmu dia pasti ke rumah kakek dan nenek sambil bertanya “kek, nek apakah papa dan mama tidak suka merawatku? Mereka selalu sibuk merawat adik Sam.” Ucap kakakmu. “Terus nenek jawab apa nek?” Tanya Sam. “Nenek jawab, Kinasih dan Sam sama-sama anak papa dan mama, Sam masih kecil, jadi papa mama lebih berfokus pada Sam, dulu waktu Kinasih masih kecil papa mama juga begitu pada Kinasih” begitu Sam. “Sejak saat itu kakakmu lebih sering tidur di rumah kakek dan nenek, kakakmu lebih merasa hidup di sini.” Jelas nenek. “Memangnya dulu rumah papa mama di mana nek?” tanya Sam. “Di depan sana Sam, dulu pohon itu tidak ada, saat kalian memutuskan untuk tinggal di kota akhirnya nenek berinisiatif untuk menanam pohon itu, dan rumah papa mamamu telah lapuk kemudian nenek robohkan sekalian” jelas nenek. Kakakmu dulu merasa terasingkan Sam, nenek merasa sakit hati saat kakakmu berbicara seperti tadi yang nenek ceritakan, jadi kamu jangan ikut-ikutan seperti papa mamamu ya, sayangi kakakmu, buat dia merasa aman Sam.” Iya nek aku pasti akan selalu menjaga kakak. Tapi, sebentar nek, aku mau bertanya satu hal” ucap Sam menyambung cerita nenek. “Kenapa Sam?” Tanya nenek. “Apakah dulu Kak Kinasih juga tidak berbicara dan tidak pernah tertawa seperti sekarang ini nek?” Tanya Sam membuat nenek Galuh tertegun. “Suuutt, jangan terlalu keras, nanti kakakmu dengar. Jadi begini Sam, dulu Kak Kinasih merupakan seseorang yang sangat menyenangkan dan periang, Kak Kinasih selalu membuat semua orang tertawa dan selalu membawa kebahagiaan. Namun semenjak kakekmu meninggal, Kak Kinasih seperti kehilangan energinya untuk berbahagia Sam, dan sejak saat itu juga Kak Kinasih tidak pernah mau berbicara dan tertawa lagi....” Jelas nenek. Sam hanya mengangguk, meskipun masih banyak pertanyaan dikepalanya.

            Sam dan Kinasih merupakan dua orang bersaudara. Ibu mereka bernama Arini dan ayah mereka Bernama Daniel. Sam, merupakan anak bungsu yang tinggal dikota bersama mama papanya sedangkan Kinasih tinggal di desa bersama neneknya. Kinasih merupakan seorang gadis remaja berusia 20 tahun yang memiliki paras cantik dan sifat periang. Namun tidak untuk 3 sekarang, semenjak kehilangan kakek yang sangat dicintainya Kinasih lebih banyak diam, jarang berbicara, dan tidak tampak senyum lagi diwajahnya, bahkan sering sekali tiba-tiba menangis tanpa menjelaskan apa penyebab ia menangis.

             “Ini sudah 10 tahun dari kematian ayah loh mas, semakin hari aku semakin khawatir dengan keadaan Kinasih yang semakin memburuk.” Ucap Arini. “Aku juga sebenarnya sangat berat meninggalkan mereka berdua disini, dikota banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan, apa kita bawa Kinasih saja ya ma ke kota, agar tidak memberatkan ibu” Ucap Daniel. “Apa-apaan iniii, kalian mau membawa Kinasih jauh dariku? Tidak cukup kalian hanya mengunjungiku setahun sekali? Tidak cukup juga kalian membuat ku jauh dengan Sam cucuku? Sekarang kalian malah ingin membuatku tambah kesepian dengan membawa Kinasih?...” Ucap nenek marah dari dalam bilik kamar. “Bukan begitu bu.., kami hanya ingin ibu istirahat di masa tuanya, bukan malah merawat Kinasih, Kinasih biar kami saja yang merawat, ibu istirahat saja disini.” Jelas Arini lagi. "Tidak perlu, kemana saja kalian selama 10 tahun ini, meninggalkan aku dan Kinasih tanpa kalian berbicara seperti sekarang ini, kalian lupa bahwa kalian masih mempunyai anak dan ibu di desa? Kalian hanya fokus dengan pekerjaan kalian saja, kalian hanya mengunjungi kami satu tahun sekali, itupun jika hari raya kalian tidak bekerja, jika hari raya kalian bekerja bisa saja kalian dua tahun atau tiga tahun sekali mengunjungi kami kan?" Ucap nenek Galuh sambil keluar dari bilik kamarnya. "Betul itu ma, pa setiap liburan aku pasti minta diantar ke rumah nenek, tapi kalian selalu sibuk dengan pekerjaan kalian dan tidak menggubrisku. Kalau kalian ingin pulang ya sudah pulang saja. Aku, nenek dan Kak Kinasih akan tetap tinggal di sini, kalian urusi saja pekerjaan kalian itu" timpal Sam. "Tapi Sam, kamu harus sekolah, bagaimana dengan sekolahmu kalau kamu tinggal disini?" tanya Daniel. "Dan ibu, kami tidak pernah melupakan Kinasih, kami selalu khawatir, kami selalu memikirkan keadaan Kinasih bagaimana disini, kami juga selalu memikirkan bagaimana lelahnya menjadi ibu harus merawat Kinasih di usia senja ibu. Kami selalu memikirkan itu Bu tapi bagaimana lagi, pekerjaan kami di kota dan penghasilan pun akan lebih banyak jika kami bekerja di kota. Tolonglah Ibu mengerti kami jika Ibu tidak keberatan kami ingin mengajak Ibu dan Kinasih ikut ke kota agar kita berkumpul di sana dan aku tidak harus kepikiran terus-terusan terhadap kalian. " Jelas Daniel melanjutkan. " TIDAK, AKU TIDAK MAU PERGI KE KOTA, AKU TIDAK MAU MENINGGAL KAN KAKEK DISINI SENDIRI, TIDAKK" ucap Kinasih berteriak setelah mendengar percakapan mereka.

            Seperti biasa, Kinasih kambuh lagi. Jika Kinasih merasa terancam dan terganggu ketenangannya Kinasih akan menangis, berteriak dan mengulang-ulang kalimat 4 pemberontakannya itu. Siang itu Kinasih mengulang-ulang kalimat "Aku tidak mau meninggalkan Kakek di sini aku mau tetap tinggal di sini" berkali-kali Kinasih mengucapkan kalimat itu sampai akhirnya nenek Galuh dengan sigap memberikan obat penenang terhadap Kinasih, sedangkan mama dan papa Kinasih hanya terdiam melihat kejadian itu. " Kinasih sudah tenang, sebaiknya kalian pulang, jika kalian di sini hanya menimbulkan keributan dan mengganggu ketenangan Kinasih. Sudah beberapa bulan ini Kinasih tidak pernah histeris seperti tadi, tapi setelah kalian berbicara seperti itu, Kinasih merasa terancam dan tidak suka terhadap apa yang kalian sampaikan, pulanglah ke kota, aku mengerti, tapi sebisa mungkin kalian tidak hanya setahun sekali mengunjungi kami, toh jarak kota dan desa ini tidak terlalu jauh jika kalian tempuh menggunakan kendaraan pribadi.....dan Sam, ikutlah pulang papa mamamu dulu nak, sekolah lah dengan sungguh-sungguh, cukup Kak Kinasih saja yang tidak melanjutkan sekolahnya, liburan semester nanti kamu boleh tinggal di sini." Jelas nenek Galuh setelah semuanya mereda dan suasana sedikit lebih tenang. " Maafkan kami Bu, kami janji akan sering-sering mengunjungi ibu, besok saat liburan Sam akan tinggal di sini bersama ibu dan Kinasih, Terima kasih sudah mau merawat Kinasih, Terima kasih juga sudah mau mengerti keadaan kami saat ini, kami pamit pulang dulu Bu jaga diri ibu baik-baik, tolong jaga Kinasih saat kami tidak di sampingnya." Jawab Arini sambil menangis.

            Beberapa bulan kemudian pada saat liburan semester Sam kembali mengunjungi nenek dan Kinasih di desa. “Assalamualaikum nek, Sam datang lagi” ucap Sam. “Waalaikumsalam Sam di mana papa mamamu katanya mau berjanji untuk sering-sering mengunjungiku” tanya nenek. “Tidak ada nek mereka tetap saja sibuk bekerja, aku memberanikan diri untuk berangkat sendiri” Jawab Sam. “tidak apa-apa Sam sebagai anak laki-laki memang seharusnya kamu bisa lebih berani dan harus melindungi kakakmu karena dia perempuan” pinta nenek. “ternyata papa mamamu tetap saja ya mereka tetap mementingkan kerjaannya daripada mengunjungiku, ya sudahlah kamu mandi Sam kemudian makanlah makanan di meja” perintah nenek lagi. Setelah makan dan mandi Sam kemudian menghampiri nenek yang sedang menjahit syal di depan televisi. “Nek bolehkah aku bertanya sesuatu?” ucap Sam. “Boleh dong Sam, memangnya kamu ingin bertanya tentang apa Sam?” tanya nenek balik. “tentang Kak Kinasih nek, kemarin waktu terakhir kali aku ke sini saat kakak teriak-teriak kenapa kak Kinasih bilangnya tidak mau meninggalkan kakek sendiri, padahal kan Kakek sudah meninggal, yang sendiri justru nenek Galuh”. tanya Sam. “Iya Sam memang sebenarnya kakak Kinasih lebih dekat dengan kakek daripada nenek, Lihatlah Surau itu, dulu kakekmu merupakan seorang alim ulama yang pandai mengaji, dulu banyak sekali anak-anak di desa ini yang mengaji kepada 5 kakekmu. Tak lupa juga Kak Kinasih pastinya juga belajar mengaji dong, dengan belajar mengaji akhirnya Kak Kinasih tidak merasa kesepian karena banyak sekali anak-anak seumuran Kak Kinasih yang mengaji di Surau tersebut. Dengan itu akhirnya Kak Kinasih berterima kasih kepada kakek karena Kak Kinasih menganggap bahwa kakek telah memberikan banyak teman untuk dia. Tidak hanya itu, kakek juga sering bercerita kepada Kak Kinasih untuk semangat melanjutkan hidup, Kak Kinasih selalu larut dalam cerita-cerita kakek Sam, Kalau ceritanya Sedih Tak jarang Kak Kinasih juga menangis sampai sesenggukan, dan sebaliknya Kalau ceritanya menyenangkan Kak Kinasih selalu tertawa terbahak-bahak, tidak menjadi pendiam seperti sekarang ini Sam.” Jelas nenek. “Ayo ikut nenek ke belakang rumah, dulu di sini merupakan ladang yang ditanami pohon kangkung Sam, kakakmu sangat senang sekali saat musim panen, tak jarang dia juga ikut turun ke bawah meskipun sekedar bermain air. Kaki Kinasih belajar banyak hal bersama kakek. Mangkanya pada saat Kakek meninggal Kak Kinasih merasa sangat kehilangan, karena menurut Kak Kinasih kakek merupakan sahabat terbaiknya, kakek lah orang satu-satunya yang sangat mengerti keadaan Kak Kinasih, apa yang Kak Kinasih mau, dan semua tentang Kak Kinasih.” Jelas nenek melanjutkan. Sam yang dari tadi mendengarkan cerita nenek dan matanya yang tak bisa diam menelusuri sekeliling ladang belakang rumah yang selama ini memang belum pernah Sam kunjungi sama sekali, tiba-tiba bola matanya berhenti pada satu pintu dan akhirnya Sam bertanya pada nenek. “nek pintu itu apa ya isinya?” tanya Sam. “Pintu itu isinya hanya gudang dan sebagian barang-barang kakek yang masih nenek simpan di dalam situ.” Jawab nenek. “Bolehkah aku memasukinya nek, aku penasaran dengan isi di dalamnya” tanya Sam lagi. “Boleh dong, ayo nenek bukakan”.

            Akhirnya Sam dan nenek memasuki gudang itu, Sam sangat terkejut melihat gudang itu, ternyata isinya masih bagus dan masih tertata rapi, nenek Galuh memang sangat memperhatikan kerapian setiap barang-barang yang diletakkan di dalam rumahnya sekalipun itu merupakan sebuah gudang. Tak lama melihat-lihat nenek menemukan sebuah album foto. Di sana terdapat foto Kinasih, kakek, nenek, Arini, dan Daniel. “Lihatlah ini Sam ada foto kakek, nenek, Kak Kinasih, Papa, dan Mama. “terlihat foto Kinasih yang berpangku kepada kakek. “Lihatlah kakakmu Kinasih ya sangat dekat dengan kakekmu bahkan di foto pun kak Kinasih tidak mau dipangku papa dan mamamu. Iya hanya mau dipangku oleh kakekmu. “jelas nenek. “hehe iya Kak Kinasih terlihat sangat dekat dengan kakek” timpal Sam. “kalau ini nek buku apa? “tanya Sam sambil membolak-balik kertas di dalam buku kemudian sampai pada satu halaman di sana tertulis bahwa kakek dan Kinasih ternyata memiliki rahasia bahwa kakek sebenarnya memiliki penyakit yang cukup parah dan hanya Kinasih yang 6 mengetahuinya. Kinasih mengetahui hal tersebut pun secara tidak sengaja saat melihat kakek minum obat yang sangat banyak, akhirnya Kinasih mengetahuinya dan bertanya terhadap kakek tentang penyakitnya. Kemudian kakek menjawab bahwa kakek sebenarnya sakit parah dan umur kakek tidak lama lagi. Di dalam buku harian tersebut tertulis seperti ini:

            Senin, 12 Desember 2010

            “Kinasih, sudah mengetahui penyakitku. Kinasih melihatku minum obat-obatan itu, kasihan sekali dia harus memikirkan keadaanku. Sekarang aku harus memberikan apa yang dia mau, sebelum aku pergi untuk selamanya. Ya Kinasih memintaku untuk menemaninya pergi ke danau, tapi danau jauh sekali, aku takut tidak kuat berjalan, tapi demi cucu kesayanganku, aku akan melakukannya.”

            Dari tulisan kakek tersebut terlihat jelas bahwa Kakek sangat tulus menyayangi Kinasih. “Itu buku harian kakek Sam, nenek tidak pernah membacanya karena takut menangis saat mengenang masa-masa bersama kakekmu” ucap nenek. “Oohh begitu nek” balas Sam.

            Sam yang selama bertahun-tahun sangat takut mengobrol dengan kakaknya akhirnya siang itu sama memutuskan untuk mengobrol dengan kakaknya setelah membaca buku harian kakek. Sam tiba-tiba masuk ke dalam kamar Kinasih, dan menanyakan dengan serta merta. “Kak, Kak Kinasih kan tahu, kakek sakit pada saat itu, namun Kak Kinasih malah memaksa mengajaknya berjalan ke danau.” Ucap Sam. Pada saat itu juga Kinasih berteriak dan histeris kembali, trauma itu ternyata masih sangat melekat di dalam diri Kinasih, Kinasih masih belum bisa melupakan kakek yang sangat dicintainya. Kemudian nenek Galuh masuk dengan obat penenangnya namun ternyata obat tersebut tidak berguna lagi bagi Kinasih, Kinasih yang terus memberontak akhirnya ditinggalkan sendiri dengan keadaan kamar yang terkunci. Masih terdengar dari luar bahwa Kinasih memukul-mukul meja, menangis, berteriak memanggil nama kakek. Sedangkan nenek Galuh dan Sam hanya bisa berdoa dari luar agar Kinasih cepat tenang. “Apa yang kau lakukan Sam sampai kakakmu menjadi seperti ini lagi? “Tanya nenek sedikit geram. “aku hanya bilang nek kenapa Kak Kinasih tetap memaksa kakek untuk mengajaknya ke danau padahal Kakek sedang sakit.” Jawab Sam. “Tahu dari mana kamu tentang cerita Ini Sam?” Tanya nenek. “aku membaca buku harian ini nek di sana tertulis jelas bahwa kakak Kinasih lah yang mengajak kakek dalam keadaan sakit.” Jawab Sam lagi. “Hem, tidak heran Sam kakekmu sangat menyayangi Kak Kinasih sampai ia rela berkorban bahkan untuk keselamatan nyawanya untuk terakhir kalinya. Suara Kinasih di dalam sudah mereda, nenek dan Sam akhirnya membuka pintu dan menemui Kinasih yang sudah sangat lemas 7 terkulai di lantai. Dengan suara yang sangat lirih Kinasih mengatakan “Kinasih yang salah nek, Kinasih yang memaksa kakek untuk tetap mengantarkan Kinasih ke danau padahal Kakek sedang sakit saat itu, Kinasih yang membunuh kakek nek, Kinasih lah pembunuh kakek yang sebenarnya nek” ucap Kinasih sambil menangis hebat. “Tidak Kinasih kematian kakekmu memang sudah waktunya, kakekmu sudah menderita sakit sejak lama dengan kakekmu meninggal kakekmu sudah tidak sakit lagi, Seharusnya kamu sudah mengikhlaskan kepergian kakekmu tidak seharusnya kamu seperti ini, kamu harus mendoakan kakekmu agar lebih tenang di atas sana, dengan kamu seperti ini kakekmu akan terus gelisah dan tidak tenang melihatmu dari jauh” Jelas nenek. “Benar begitu nek?” tanya Kinasih. “Iya sayang, sebaiknya sekarang kita mandi dan ke makam kakek, kamu mau? Kita mendoakan kakek bersama-sama sekarang?” tanya nenek. “Baik nek, ayo” jawab Sam dan Kinasih. Setelah mendengar penjelasan nenek akhirnya Kinasih lebih tenang dan tidak pernah menangis dengan histeris lagi, Kinasih lebih bisa mengikhlaskan kepergian kakeknya dan kembali tertawa dan berbicara layaknya orang pada umumnya.

Tamat

 

 

Bionarasi

            Nama saya Maulina Fitria, lahir di Bangkalan pada tanggal 26 Mei 2003, Sekarang saya sedang menempuh pendidikan di bangku kuliah dengan program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia fakultas ilmu pendidikan Universitas Trunojoyo Madura.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUISI " MENUJU CAHAYA"

  MENUJU CAHAYA Karya ilna lutfiana  Dalam gelap yang pernah datang Aku jatuh,nyaris hilang Namun bara kecil di dada Tak pernah padam,terus ...