KINASIH
Oleh:
Maulina Fitria
“Lilatlah Sam jejeran rumah itu
sekarang hanya menjadi sebuah jejeran rumah, surau setapak itu juga hanya
menjadi sebuah surau. Burung yang biasanya berkicau tiap pagi juga telah hilang
semangat sejak tuannya pergi.” Ucap nenek Galuh. “Dulu saat kau masih kecil,
kakakmu Kinasih sangat dekat dengan kakek dan nenek Sam. Saat papa mama mu
sibuk mengurusmu dia pasti ke rumah kakek dan nenek sambil bertanya “kek, nek
apakah papa dan mama tidak suka merawatku? Mereka selalu sibuk merawat adik
Sam.” Ucap kakakmu. “Terus nenek jawab apa nek?” Tanya Sam. “Nenek jawab,
Kinasih dan Sam sama-sama anak papa dan mama, Sam masih kecil, jadi papa mama
lebih berfokus pada Sam, dulu waktu Kinasih masih kecil papa mama juga begitu
pada Kinasih” begitu Sam. “Sejak saat itu kakakmu lebih sering tidur di rumah
kakek dan nenek, kakakmu lebih merasa hidup di sini.” Jelas nenek. “Memangnya
dulu rumah papa mama di mana nek?” tanya Sam. “Di depan sana Sam, dulu pohon
itu tidak ada, saat kalian memutuskan untuk tinggal di kota akhirnya nenek
berinisiatif untuk menanam pohon itu, dan rumah papa mamamu telah lapuk
kemudian nenek robohkan sekalian” jelas nenek. Kakakmu dulu merasa terasingkan
Sam, nenek merasa sakit hati saat kakakmu berbicara seperti tadi yang nenek
ceritakan, jadi kamu jangan ikut-ikutan seperti papa mamamu ya, sayangi
kakakmu, buat dia merasa aman Sam.” Iya nek aku pasti akan selalu menjaga
kakak. Tapi, sebentar nek, aku mau bertanya satu hal” ucap Sam menyambung
cerita nenek. “Kenapa Sam?” Tanya nenek. “Apakah dulu Kak Kinasih juga tidak
berbicara dan tidak pernah tertawa seperti sekarang ini nek?” Tanya Sam membuat
nenek Galuh tertegun. “Suuutt, jangan terlalu keras, nanti kakakmu dengar. Jadi
begini Sam, dulu Kak Kinasih merupakan seseorang yang sangat menyenangkan dan
periang, Kak Kinasih selalu membuat semua orang tertawa dan selalu membawa
kebahagiaan. Namun semenjak kakekmu meninggal, Kak Kinasih seperti kehilangan
energinya untuk berbahagia Sam, dan sejak saat itu juga Kak Kinasih tidak
pernah mau berbicara dan tertawa lagi....” Jelas nenek. Sam hanya mengangguk,
meskipun masih banyak pertanyaan dikepalanya.
Sam dan Kinasih merupakan dua orang
bersaudara. Ibu mereka bernama Arini dan ayah mereka Bernama Daniel. Sam,
merupakan anak bungsu yang tinggal dikota bersama mama papanya sedangkan
Kinasih tinggal di desa bersama neneknya. Kinasih merupakan seorang gadis
remaja berusia 20 tahun yang memiliki paras cantik dan sifat periang. Namun
tidak untuk 3 sekarang, semenjak kehilangan kakek yang sangat dicintainya Kinasih
lebih banyak diam, jarang berbicara, dan tidak tampak senyum lagi diwajahnya,
bahkan sering sekali tiba-tiba menangis tanpa menjelaskan apa penyebab ia
menangis.
“Ini sudah 10 tahun dari kematian ayah loh
mas, semakin hari aku semakin khawatir dengan keadaan Kinasih yang semakin
memburuk.” Ucap Arini. “Aku juga sebenarnya sangat berat meninggalkan mereka
berdua disini, dikota banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan, apa kita
bawa Kinasih saja ya ma ke kota, agar tidak memberatkan ibu” Ucap Daniel.
“Apa-apaan iniii, kalian mau membawa Kinasih jauh dariku? Tidak cukup kalian
hanya mengunjungiku setahun sekali? Tidak cukup juga kalian membuat ku jauh
dengan Sam cucuku? Sekarang kalian malah ingin membuatku tambah kesepian dengan
membawa Kinasih?...” Ucap nenek marah dari dalam bilik kamar. “Bukan begitu
bu.., kami hanya ingin ibu istirahat di masa tuanya, bukan malah merawat
Kinasih, Kinasih biar kami saja yang merawat, ibu istirahat saja disini.” Jelas
Arini lagi. "Tidak perlu, kemana saja kalian selama 10 tahun ini,
meninggalkan aku dan Kinasih tanpa kalian berbicara seperti sekarang ini,
kalian lupa bahwa kalian masih mempunyai anak dan ibu di desa? Kalian hanya
fokus dengan pekerjaan kalian saja, kalian hanya mengunjungi kami satu tahun
sekali, itupun jika hari raya kalian tidak bekerja, jika hari raya kalian
bekerja bisa saja kalian dua tahun atau tiga tahun sekali mengunjungi kami
kan?" Ucap nenek Galuh sambil keluar dari bilik kamarnya. "Betul itu
ma, pa setiap liburan aku pasti minta diantar ke rumah nenek, tapi kalian
selalu sibuk dengan pekerjaan kalian dan tidak menggubrisku. Kalau kalian ingin
pulang ya sudah pulang saja. Aku, nenek dan Kak Kinasih akan tetap tinggal di
sini, kalian urusi saja pekerjaan kalian itu" timpal Sam. "Tapi Sam,
kamu harus sekolah, bagaimana dengan sekolahmu kalau kamu tinggal disini?"
tanya Daniel. "Dan ibu, kami tidak pernah melupakan Kinasih, kami selalu
khawatir, kami selalu memikirkan keadaan Kinasih bagaimana disini, kami juga
selalu memikirkan bagaimana lelahnya menjadi ibu harus merawat Kinasih di usia
senja ibu. Kami selalu memikirkan itu Bu tapi bagaimana lagi, pekerjaan kami di
kota dan penghasilan pun akan lebih banyak jika kami bekerja di kota. Tolonglah
Ibu mengerti kami jika Ibu tidak keberatan kami ingin mengajak Ibu dan Kinasih
ikut ke kota agar kita berkumpul di sana dan aku tidak harus kepikiran
terus-terusan terhadap kalian. " Jelas Daniel melanjutkan. " TIDAK,
AKU TIDAK MAU PERGI KE KOTA, AKU TIDAK MAU MENINGGAL KAN KAKEK DISINI SENDIRI,
TIDAKK" ucap Kinasih berteriak setelah mendengar percakapan mereka.
Seperti biasa, Kinasih kambuh lagi.
Jika Kinasih merasa terancam dan terganggu ketenangannya Kinasih akan menangis,
berteriak dan mengulang-ulang kalimat 4 pemberontakannya itu. Siang itu Kinasih
mengulang-ulang kalimat "Aku tidak mau meninggalkan Kakek di sini aku mau
tetap tinggal di sini" berkali-kali Kinasih mengucapkan kalimat itu sampai
akhirnya nenek Galuh dengan sigap memberikan obat penenang terhadap Kinasih,
sedangkan mama dan papa Kinasih hanya terdiam melihat kejadian itu. "
Kinasih sudah tenang, sebaiknya kalian pulang, jika kalian di sini hanya
menimbulkan keributan dan mengganggu ketenangan Kinasih. Sudah beberapa bulan
ini Kinasih tidak pernah histeris seperti tadi, tapi setelah kalian berbicara
seperti itu, Kinasih merasa terancam dan tidak suka terhadap apa yang kalian
sampaikan, pulanglah ke kota, aku mengerti, tapi sebisa mungkin kalian tidak
hanya setahun sekali mengunjungi kami, toh jarak kota dan desa ini tidak
terlalu jauh jika kalian tempuh menggunakan kendaraan pribadi.....dan Sam,
ikutlah pulang papa mamamu dulu nak, sekolah lah dengan sungguh-sungguh, cukup
Kak Kinasih saja yang tidak melanjutkan sekolahnya, liburan semester nanti kamu
boleh tinggal di sini." Jelas nenek Galuh setelah semuanya mereda dan
suasana sedikit lebih tenang. " Maafkan kami Bu, kami janji akan
sering-sering mengunjungi ibu, besok saat liburan Sam akan tinggal di sini
bersama ibu dan Kinasih, Terima kasih sudah mau merawat Kinasih, Terima kasih
juga sudah mau mengerti keadaan kami saat ini, kami pamit pulang dulu Bu jaga
diri ibu baik-baik, tolong jaga Kinasih saat kami tidak di sampingnya."
Jawab Arini sambil menangis.
Beberapa bulan kemudian pada saat
liburan semester Sam kembali mengunjungi nenek dan Kinasih di desa. “Assalamualaikum
nek, Sam datang lagi” ucap Sam. “Waalaikumsalam Sam di mana papa mamamu katanya
mau berjanji untuk sering-sering mengunjungiku” tanya nenek. “Tidak ada nek
mereka tetap saja sibuk bekerja, aku memberanikan diri untuk berangkat sendiri”
Jawab Sam. “tidak apa-apa Sam sebagai anak laki-laki memang seharusnya kamu
bisa lebih berani dan harus melindungi kakakmu karena dia perempuan” pinta nenek.
“ternyata papa mamamu tetap saja ya mereka tetap mementingkan kerjaannya
daripada mengunjungiku, ya sudahlah kamu mandi Sam kemudian makanlah makanan di
meja” perintah nenek lagi. Setelah makan dan mandi Sam kemudian menghampiri
nenek yang sedang menjahit syal di depan televisi. “Nek bolehkah aku bertanya
sesuatu?” ucap Sam. “Boleh dong Sam, memangnya kamu ingin bertanya tentang apa
Sam?” tanya nenek balik. “tentang Kak Kinasih nek, kemarin waktu terakhir kali
aku ke sini saat kakak teriak-teriak kenapa kak Kinasih bilangnya tidak mau
meninggalkan kakek sendiri, padahal kan Kakek sudah meninggal, yang sendiri
justru nenek Galuh”. tanya Sam. “Iya Sam memang sebenarnya kakak Kinasih lebih
dekat dengan kakek daripada nenek, Lihatlah Surau itu, dulu kakekmu merupakan
seorang alim ulama yang pandai mengaji, dulu banyak sekali anak-anak di desa
ini yang mengaji kepada 5 kakekmu. Tak lupa juga Kak Kinasih pastinya juga
belajar mengaji dong, dengan belajar mengaji akhirnya Kak Kinasih tidak merasa
kesepian karena banyak sekali anak-anak seumuran Kak Kinasih yang mengaji di
Surau tersebut. Dengan itu akhirnya Kak Kinasih berterima kasih kepada kakek
karena Kak Kinasih menganggap bahwa kakek telah memberikan banyak teman untuk
dia. Tidak hanya itu, kakek juga sering bercerita kepada Kak Kinasih untuk
semangat melanjutkan hidup, Kak Kinasih selalu larut dalam cerita-cerita kakek
Sam, Kalau ceritanya Sedih Tak jarang Kak Kinasih juga menangis sampai
sesenggukan, dan sebaliknya Kalau ceritanya menyenangkan Kak Kinasih selalu
tertawa terbahak-bahak, tidak menjadi pendiam seperti sekarang ini Sam.” Jelas
nenek. “Ayo ikut nenek ke belakang rumah, dulu di sini merupakan ladang yang
ditanami pohon kangkung Sam, kakakmu sangat senang sekali saat musim panen, tak
jarang dia juga ikut turun ke bawah meskipun sekedar bermain air. Kaki Kinasih
belajar banyak hal bersama kakek. Mangkanya pada saat Kakek meninggal Kak
Kinasih merasa sangat kehilangan, karena menurut Kak Kinasih kakek merupakan
sahabat terbaiknya, kakek lah orang satu-satunya yang sangat mengerti keadaan
Kak Kinasih, apa yang Kak Kinasih mau, dan semua tentang Kak Kinasih.” Jelas
nenek melanjutkan. Sam yang dari tadi mendengarkan cerita nenek dan matanya
yang tak bisa diam menelusuri sekeliling ladang belakang rumah yang selama ini
memang belum pernah Sam kunjungi sama sekali, tiba-tiba bola matanya berhenti
pada satu pintu dan akhirnya Sam bertanya pada nenek. “nek pintu itu apa ya
isinya?” tanya Sam. “Pintu itu isinya hanya gudang dan sebagian barang-barang
kakek yang masih nenek simpan di dalam situ.” Jawab nenek. “Bolehkah aku
memasukinya nek, aku penasaran dengan isi di dalamnya” tanya Sam lagi. “Boleh
dong, ayo nenek bukakan”.
Akhirnya Sam dan nenek memasuki
gudang itu, Sam sangat terkejut melihat gudang itu, ternyata isinya masih bagus
dan masih tertata rapi, nenek Galuh memang sangat memperhatikan kerapian setiap
barang-barang yang diletakkan di dalam rumahnya sekalipun itu merupakan sebuah
gudang. Tak lama melihat-lihat nenek menemukan sebuah album foto. Di sana
terdapat foto Kinasih, kakek, nenek, Arini, dan Daniel. “Lihatlah ini Sam ada
foto kakek, nenek, Kak Kinasih, Papa, dan Mama. “terlihat foto Kinasih yang
berpangku kepada kakek. “Lihatlah kakakmu Kinasih ya sangat dekat dengan
kakekmu bahkan di foto pun kak Kinasih tidak mau dipangku papa dan mamamu. Iya
hanya mau dipangku oleh kakekmu. “jelas nenek. “hehe iya Kak Kinasih terlihat
sangat dekat dengan kakek” timpal Sam. “kalau ini nek buku apa? “tanya Sam
sambil membolak-balik kertas di dalam buku kemudian sampai pada satu halaman di
sana tertulis bahwa kakek dan Kinasih ternyata memiliki rahasia bahwa kakek
sebenarnya memiliki penyakit yang cukup parah dan hanya Kinasih yang 6
mengetahuinya. Kinasih mengetahui hal tersebut pun secara tidak sengaja saat
melihat kakek minum obat yang sangat banyak, akhirnya Kinasih mengetahuinya dan
bertanya terhadap kakek tentang penyakitnya. Kemudian kakek menjawab bahwa
kakek sebenarnya sakit parah dan umur kakek tidak lama lagi. Di dalam buku
harian tersebut tertulis seperti ini:
Senin, 12 Desember 2010
“Kinasih, sudah mengetahui
penyakitku. Kinasih melihatku minum obat-obatan itu, kasihan sekali dia harus
memikirkan keadaanku. Sekarang aku harus memberikan apa yang dia mau, sebelum
aku pergi untuk selamanya. Ya Kinasih memintaku untuk menemaninya pergi ke
danau, tapi danau jauh sekali, aku takut tidak kuat berjalan, tapi demi cucu
kesayanganku, aku akan melakukannya.”
Dari tulisan kakek tersebut terlihat
jelas bahwa Kakek sangat tulus menyayangi Kinasih. “Itu buku harian kakek Sam,
nenek tidak pernah membacanya karena takut menangis saat mengenang masa-masa
bersama kakekmu” ucap nenek. “Oohh begitu nek” balas Sam.
Sam yang selama bertahun-tahun
sangat takut mengobrol dengan kakaknya akhirnya siang itu sama memutuskan untuk
mengobrol dengan kakaknya setelah membaca buku harian kakek. Sam tiba-tiba
masuk ke dalam kamar Kinasih, dan menanyakan dengan serta merta. “Kak, Kak
Kinasih kan tahu, kakek sakit pada saat itu, namun Kak Kinasih malah memaksa
mengajaknya berjalan ke danau.” Ucap Sam. Pada saat itu juga Kinasih berteriak
dan histeris kembali, trauma itu ternyata masih sangat melekat di dalam diri
Kinasih, Kinasih masih belum bisa melupakan kakek yang sangat dicintainya.
Kemudian nenek Galuh masuk dengan obat penenangnya namun ternyata obat tersebut
tidak berguna lagi bagi Kinasih, Kinasih yang terus memberontak akhirnya
ditinggalkan sendiri dengan keadaan kamar yang terkunci. Masih terdengar dari
luar bahwa Kinasih memukul-mukul meja, menangis, berteriak memanggil nama
kakek. Sedangkan nenek Galuh dan Sam hanya bisa berdoa dari luar agar Kinasih
cepat tenang. “Apa yang kau lakukan Sam sampai kakakmu menjadi seperti ini
lagi? “Tanya nenek sedikit geram. “aku hanya bilang nek kenapa Kak Kinasih
tetap memaksa kakek untuk mengajaknya ke danau padahal Kakek sedang sakit.”
Jawab Sam. “Tahu dari mana kamu tentang cerita Ini Sam?” Tanya nenek. “aku
membaca buku harian ini nek di sana tertulis jelas bahwa kakak Kinasih lah yang
mengajak kakek dalam keadaan sakit.” Jawab Sam lagi. “Hem, tidak heran Sam
kakekmu sangat menyayangi Kak Kinasih sampai ia rela berkorban bahkan untuk
keselamatan nyawanya untuk terakhir kalinya. Suara Kinasih di dalam sudah
mereda, nenek dan Sam akhirnya membuka pintu dan menemui Kinasih yang sudah
sangat lemas 7 terkulai di lantai. Dengan suara yang sangat lirih Kinasih
mengatakan “Kinasih yang salah nek, Kinasih yang memaksa kakek untuk tetap
mengantarkan Kinasih ke danau padahal Kakek sedang sakit saat itu, Kinasih yang
membunuh kakek nek, Kinasih lah pembunuh kakek yang sebenarnya nek” ucap Kinasih
sambil menangis hebat. “Tidak Kinasih kematian kakekmu memang sudah waktunya,
kakekmu sudah menderita sakit sejak lama dengan kakekmu meninggal kakekmu sudah
tidak sakit lagi, Seharusnya kamu sudah mengikhlaskan kepergian kakekmu tidak
seharusnya kamu seperti ini, kamu harus mendoakan kakekmu agar lebih tenang di
atas sana, dengan kamu seperti ini kakekmu akan terus gelisah dan tidak tenang
melihatmu dari jauh” Jelas nenek. “Benar begitu nek?” tanya Kinasih. “Iya
sayang, sebaiknya sekarang kita mandi dan ke makam kakek, kamu mau? Kita
mendoakan kakek bersama-sama sekarang?” tanya nenek. “Baik nek, ayo” jawab Sam
dan Kinasih. Setelah mendengar penjelasan nenek akhirnya Kinasih lebih tenang dan
tidak pernah menangis dengan histeris lagi, Kinasih lebih bisa mengikhlaskan
kepergian kakeknya dan kembali tertawa dan berbicara layaknya orang pada
umumnya.
Tamat
Bionarasi
Nama saya Maulina Fitria, lahir di
Bangkalan pada tanggal 26 Mei 2003, Sekarang saya sedang menempuh pendidikan di
bangku kuliah dengan program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia
fakultas ilmu pendidikan Universitas Trunojoyo Madura.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar