Samudra Harapan, Gelombang Perjuangan
Karimatul Millah
Air pasang telah surut, air telah surut,
Meninggalkan jejak pedih di pantai jiwaku.
Bagai kapal karam diterjang badai,
Mimpiku telah tenggelam, sunyi dan tak terkendali.
Namun, di bawah langit utara yang gelap,
Kulihat mercusuar lagi,
memanggil tanpa ragam.
Tak lagi kebohongan menyelimuti langkahku yang sepi,
Melainkan keadilan yang dijalin dari puing-puing yang samar.
Laut itu memanggil, meski ombak masih menderu,
Kuatkan jangkar hati, teguh memandang biru.
Kuhentikan ratapan, hentikan cinta yang membelenggu,
Sebab bangkit adalah janji, bukan sekadar menunggu.
Layarku robek, tetapi arahku takkan hilang,
Menirukan semangat seorang perempuan yang tak pernah goyah.
Mimpi adalah dermaga yang harus kuhampiri,
Melawan arus samudra yang pernah membuatku mati.
Kini aku berlayar, tak hanya mencari kedamaian,
Melainkan mewujudkan cita-cita yang terukir di tepi senja abadi.
Ia bangkit dari pasang surut yang tak berujung,
Menuju mimpi sejati, dengan jiwa yang telah pulih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar