Sabtu, 29 Juli 2023

CERPEN "WANITA TANPA GELAR"

 WANITA TANPA GELAR

Oleh: Siti Aisah Kusnul Wahyuni

            Sosok wanita yang hatinya sering tersakiti, yang rahimnya telah melahirkan manusia berarti, meski dia terkadang sudah tak dimaknai lagi. Dia wanita yang memiliki hati yang tulus yang menerima akan segala luka yang dilakukan anaknya, meskipun berulang kali meneteskan air mata. Dia adalah ibu yang selalu ada disetiap suka dan duka kita, tanpa ada rasa lelah dan tak ada keluh kesah. Namun, anakmu selalu menyusahkanmu setiap hari tanpa memikirkan akan rasa lelahmu.

            Pada suatu ketika, hiduplah seorang ibu bernama Sumi dan anaknya yaitu Anggi. Anggi kini telah lulus sekolah SMA dan ingin melanjutkan kuliah. Ibu Sumi terpaksa harus bekerja demi mewujudkan impian anaknya, meskipun ibu Sumi hanya lulusan SD dan tidak memiliki gelar ibu Sumi tetap semangat untuk mencari pekerjaan. Ibu Sumi kini di terima bekerja sebagai asisten rumah tangga, tak ada pilihan lain ibu Sumi harus menerima pekerjaan tersebut meskipun pekerjaan itu sangat berat baginya. Anggi kini telah diterima di universitas impiannya.

            Hari demi hari telah terlewati, dan tiba pada saat dosen memberi tugas dan tugasnya harus dikerjakan di laptop. Namun, Anggi tidak memiliki laptop dan dia meminta kepada ibunya agar dibelikan laptop.

            “Ibu aku ada tugas kuliah hari ini dan pengerjaannya harus menggunakan laptop, aku tidak punya laptop bu tolong belikan aku laptop.” Ujar Anggi kepada ibunya.

            “Anggi kamu tenang saja nak, ibu pasti akan segera membelikan kamu laptop”.

            Ibu Sumi terpaksa harus mencari penghasilan tambahan demi membelikan anaknaya sebuah laptop. Bahkan ibu Sumi rela menjadi kuli panggul di pasar hanya demi mewujudkan keinginan anaknya. Satu minggu kemudian ibu Sumi berhasil mengumpulkan uangnya dan segera membelikan Anggi laptop.

            “Nak...Ini laptop untuk kamu, semoga kamu suka laptopnya.”

            “Waaahh... terimakasih bu.”                                                          

            “Sama – sama nak...”

            Anggi sangat senang, bahkan dia tidak pernah bertanya kondisi ibunya saat ini. Ibu Sumi menyembunyikan rasa lelahnya bahkan saat dia sakit dia tidak pernah menampakkannya dihadapan Anggi. Ibu Sumi hanya bisa menghela nafas dan pergi ke kamarnya untuk istirahat. Beberapa bulan kemudian Anggi telah melewati ujian dan kini melanjutkan semester dua, dan tiba saatnya pembayaran UKT. Anggi meminta kepada ibunya agar segera membayarnya jika ibu Sumi tidak segera membayar maka Anggi akan ditertawakan oleh teman – temannya.

            “Ibu bulan ini telah tiba waktunya untuk membayar UKT, Anggi mohon ibu segera membayarnya, jika ibu tidak segera membayar Anggi akan malu sama teman – teman, ibu mau Anggi ditertawakan.” Ucap Anggi kepada ibunya dengan wajah kusut.

            “Berikan ibu sedikit waktu ya nak, ibu masih belum punya uangnya.” Jawab ibu Sumi dengan sabar.

            “Pokoknya Anggi tidak mau tahu bu, UKT Anggi harus sudah dibayar bulan ini.” Ujar Anggi sambil meninggalkan ibunya.

            Keesokan harinya Anggi kembali menagih uang pembayaran UKT kepada ibunya, dan masih sama ibu Sumi masih belum memiliki uang untuk membayarnya. Anggi kini semakin berubah dan menjadi anak yang mudah marah.

            “Gimana bu uangnya sudah terkumpul apa belum?” Tanya Anggi kepada ibunya.

            “Maaf nak, uangnya masih belum ada ibu mohon kamu bersabar, nanti jika uangnya        sudah ada ibu pasti langsung kasih ke kamu.”

            “Gimana sih bu, Anggi tu malu bu sama teman – teman.”

            “Besok ibu usahakan nak.”

            “Ok bu, kalau besok gak ada Anggi bakalan berhenti kuliah.” Ujar Anggi sambil                    mengancam ibunya.

            Ibu Sumi semakin kebingungan, hingga akhirnya dia menjual cincin kawinnya beserta perhiasan yang ia miliki, meskipun sangat berat untuk ibu Sumi menjualnya. Ibu Sumi adalah seorang perempuan yang hebat. Membesarkan Anggi dengan kasih sayang yang seperti air di laut yang takkan pernah ada habisnya. Waktu sudah pagi ibu Sumi beranjak dari tempat tidur dan bergegas mandi. Setelah sarapan ibu Sumi pergi untuk mencari pekerjaan tambahan lagi untuk mememenuhi keinginan Anggi. Kini ibu Sumi berhasil mengumpulkan uangnya dan langsung memberikannya kepada Anggi. Anggi sangat berterima kasih kepada ibunya dan kini Anggi mulai menyadari semua akan kesalahannnya.

            Hari berganti minggu hingga bulan dan tahun, masa kuliah mulai Anggi lalui. Saat itu Anggi teringat saat dengan sabarnya ibu Sumi mengantar Anggi ke sekolah dan menjemputnya sepulangnya. Namun masa-masa indah dan canda tawa sepanjang perjalanan itu kini telah ternodai oleh sikap Anggi yang kini berubah menjadi anak yang egois dan tidak memikirkan perasaan ibunya. Tidak hanya itu, Anggi masih ingat masa-masa SMA yang harusnya aliran prestasi memenuhi perjalanannya di sana. Namun apa daya, Anggi terlalu pesimis. Hingga akhirnya penyesalan itu datang di penghujung waktu.

            ”Mengapa aku tidak mencobanya terlebih dahulu? aku sedih, saat tidak bisa                       membanggakannya dengan prestasi seperti yang berhasil diraih oleh teman-temanku     yang lain.”

             “Entahlah, anak macam apa aku ini?”

            Anggi sadar, Anggi hanyalah anak dari keluarga yang kurang mampu. Namun bagi Anggi hal itu tidaklah mengapa. Anggi tidak pernah berharap menjadi anak orang yang kaya. Bagi Anggi menjadi anak dari ibu Sumi adalah sebuah kebahagiaan terbesar dalam hidupnya. Karena cinta yang tulus dan doa yang selalu ibu Sumi panjatkan disetiap sujudnya.

            Namun Anggi berpikir, pada saat itulah Anggi harus membalas semua kesalahan masa lalunya. Anggi sadar, ada saatnya Anggi harus berkorban demi melihat ibunya menyunggingkan sebuah senyum kepuasaan, meski hati ini tidak selaras dengan senyum itu, tapi itu sudah cukup untuknya. Anggi sangat bangga memiliki ibu seperti ibu Sumi, karena meskipun ibu Sumi tidak memiliki gelar, dia tetap berusaha dan pantang menyerah demi membantu anaknya mewujudkan cita – citanya.

            Ridho Allah terletak pada Ridho orang tua. Ternyata perkiraan Anggi salah, Anggi bersyukur berada pada titik ini, sebuah keadaan dimana Anggi bisa melebur dalam sebuah lingkungan pendidikan yang sangat luar biasa.

            Sampai saat ini pun, ibu Sumi juga tak berubah. Ibu Sumi tetap menjadi ibu dengan sejuta kasih sayang dan pengorbanan untuk anaknya. Darinya Anggi belajar banyak hal dan Ibunya lah yang akan menjadi inspirasi terbesar untuknya, ketika sosok ibu itu akan Anggi sandang di kemudian hari. Tak peduli apapun keadaan ibu Sumi saat ini, Anggi akan tetap menyayanginya. Anggi mengucapkan terima kasih kepada ibunya untuk segalanya. Dan Anggi mengatakan “Ibuku wanita tanpa gelar.”

            Ibu adalah wanita perkasa yang telah melahirkan, mengasuh dan mendidik kita penuh cinta. Kedudukan seorang ibu amatlah mulia. Tak ada satupun anak di dunia yang tak merindukan hadirnya seorang ibu. Sekalipun sang anak telah beranjak dewasa dan mungkin terbang menjauh darinya, kerinduan padanya akan selalu menjadi denyut di nadinya. Karena cinta, membuat seorang anak selalu terkenang sang ibu sepanjang hidupnya.  

 

Biodata Narasi:        

Saya Siti Aisah Kusnul Wahyuni, Lahir di Bangkalan, 02 Juli 2003. Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura jurusan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Hobi membaca. Cita – cita ingin menjadi Guru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUISI " MENUJU CAHAYA"

  MENUJU CAHAYA Karya ilna lutfiana  Dalam gelap yang pernah datang Aku jatuh,nyaris hilang Namun bara kecil di dada Tak pernah padam,terus ...