WANITA TANPA GELAR
Oleh:
Siti Aisah Kusnul Wahyuni
Sosok wanita yang hatinya sering
tersakiti, yang rahimnya telah melahirkan manusia berarti, meski dia terkadang
sudah tak dimaknai lagi. Dia wanita yang memiliki hati yang tulus yang menerima
akan segala luka yang dilakukan anaknya, meskipun berulang kali meneteskan air
mata. Dia adalah ibu yang selalu ada disetiap suka dan duka kita, tanpa ada
rasa lelah dan tak ada keluh kesah. Namun, anakmu selalu menyusahkanmu setiap
hari tanpa memikirkan akan rasa lelahmu.
Pada suatu ketika, hiduplah seorang
ibu bernama Sumi dan anaknya yaitu Anggi. Anggi kini telah lulus sekolah SMA
dan ingin melanjutkan kuliah. Ibu Sumi terpaksa harus bekerja demi mewujudkan
impian anaknya, meskipun ibu Sumi hanya lulusan SD dan tidak memiliki gelar ibu
Sumi tetap semangat untuk mencari pekerjaan. Ibu Sumi kini di terima bekerja
sebagai asisten rumah tangga, tak ada pilihan lain ibu Sumi harus menerima
pekerjaan tersebut meskipun pekerjaan itu sangat berat baginya. Anggi kini
telah diterima di universitas impiannya.
Hari demi hari telah terlewati, dan
tiba pada saat dosen memberi tugas dan tugasnya harus dikerjakan di laptop.
Namun, Anggi tidak memiliki laptop dan dia meminta kepada ibunya agar dibelikan
laptop.
“Ibu aku ada tugas kuliah hari ini
dan pengerjaannya harus menggunakan laptop, aku tidak punya laptop bu tolong
belikan aku laptop.” Ujar Anggi kepada ibunya.
“Anggi kamu tenang saja nak, ibu
pasti akan segera membelikan kamu laptop”.
Ibu Sumi terpaksa harus mencari
penghasilan tambahan demi membelikan anaknaya sebuah laptop. Bahkan ibu Sumi
rela menjadi kuli panggul di pasar hanya demi mewujudkan keinginan anaknya.
Satu minggu kemudian ibu Sumi berhasil mengumpulkan uangnya dan segera
membelikan Anggi laptop.
“Nak...Ini laptop untuk kamu, semoga
kamu suka laptopnya.”
“Waaahh... terimakasih bu.”
“Sama – sama nak...”
Anggi sangat senang, bahkan dia
tidak pernah bertanya kondisi ibunya saat ini. Ibu Sumi menyembunyikan rasa
lelahnya bahkan saat dia sakit dia tidak pernah menampakkannya dihadapan Anggi.
Ibu Sumi hanya bisa menghela nafas dan pergi ke kamarnya untuk istirahat.
Beberapa bulan kemudian Anggi telah melewati ujian dan kini melanjutkan
semester dua, dan tiba saatnya pembayaran UKT. Anggi meminta kepada ibunya agar
segera membayarnya jika ibu Sumi tidak segera membayar maka Anggi akan
ditertawakan oleh teman – temannya.
“Ibu bulan ini telah tiba waktunya
untuk membayar UKT, Anggi mohon ibu segera membayarnya, jika ibu tidak segera membayar
Anggi akan malu sama teman – teman, ibu mau Anggi ditertawakan.” Ucap Anggi
kepada ibunya dengan wajah kusut.
“Berikan ibu sedikit waktu ya nak,
ibu masih belum punya uangnya.” Jawab ibu Sumi dengan sabar.
“Pokoknya Anggi tidak mau tahu bu,
UKT Anggi harus sudah dibayar bulan ini.” Ujar Anggi sambil meninggalkan ibunya.
Keesokan harinya Anggi kembali
menagih uang pembayaran UKT kepada ibunya, dan masih sama ibu Sumi masih belum
memiliki uang untuk membayarnya. Anggi kini semakin berubah dan menjadi anak
yang mudah marah.
“Gimana bu uangnya sudah terkumpul
apa belum?” Tanya Anggi kepada ibunya.
“Maaf nak, uangnya masih belum ada
ibu mohon kamu bersabar, nanti jika uangnya sudah ada ibu pasti langsung kasih ke kamu.”
“Gimana sih bu, Anggi tu malu bu sama
teman – teman.”
“Besok ibu usahakan nak.”
“Ok bu, kalau besok gak ada Anggi
bakalan berhenti kuliah.” Ujar Anggi sambil mengancam ibunya.
Ibu Sumi semakin kebingungan, hingga
akhirnya dia menjual cincin kawinnya beserta perhiasan yang ia miliki, meskipun
sangat berat untuk ibu Sumi menjualnya. Ibu Sumi adalah seorang perempuan yang
hebat. Membesarkan Anggi dengan kasih sayang yang seperti air di laut yang
takkan pernah ada habisnya. Waktu sudah pagi ibu Sumi beranjak dari tempat
tidur dan bergegas mandi. Setelah sarapan ibu Sumi pergi untuk mencari pekerjaan
tambahan lagi untuk mememenuhi keinginan Anggi. Kini ibu Sumi berhasil
mengumpulkan uangnya dan langsung memberikannya kepada Anggi. Anggi sangat
berterima kasih kepada ibunya dan kini Anggi mulai menyadari semua akan
kesalahannnya.
Hari berganti minggu hingga bulan dan
tahun, masa kuliah mulai Anggi lalui. Saat itu Anggi teringat saat dengan sabarnya
ibu Sumi mengantar Anggi ke sekolah dan menjemputnya sepulangnya. Namun
masa-masa indah dan canda tawa sepanjang perjalanan itu kini telah ternodai
oleh sikap Anggi yang kini berubah menjadi anak yang egois dan tidak memikirkan
perasaan ibunya. Tidak hanya itu, Anggi masih ingat masa-masa SMA yang harusnya
aliran prestasi memenuhi perjalanannya di sana. Namun apa daya, Anggi terlalu
pesimis. Hingga akhirnya penyesalan itu datang di penghujung waktu.
”Mengapa aku tidak mencobanya
terlebih dahulu? aku sedih, saat tidak bisa membanggakannya dengan prestasi seperti yang
berhasil diraih oleh teman-temanku yang lain.”
“Entahlah, anak macam apa aku ini?”
Anggi sadar, Anggi hanyalah anak
dari keluarga yang kurang mampu. Namun bagi Anggi hal itu tidaklah mengapa.
Anggi tidak pernah berharap menjadi anak orang yang kaya. Bagi Anggi menjadi
anak dari ibu Sumi adalah sebuah kebahagiaan terbesar dalam hidupnya. Karena
cinta yang tulus dan doa yang selalu ibu Sumi panjatkan disetiap sujudnya.
Namun Anggi berpikir, pada saat
itulah Anggi harus membalas semua kesalahan masa lalunya. Anggi sadar, ada
saatnya Anggi harus berkorban demi melihat ibunya menyunggingkan sebuah senyum
kepuasaan, meski hati ini tidak selaras dengan senyum itu, tapi itu sudah cukup
untuknya. Anggi sangat bangga memiliki ibu seperti ibu Sumi, karena meskipun
ibu Sumi tidak memiliki gelar, dia tetap berusaha dan pantang menyerah demi
membantu anaknya mewujudkan cita – citanya.
Ridho Allah terletak pada Ridho orang
tua. Ternyata perkiraan Anggi salah, Anggi bersyukur berada pada titik ini,
sebuah keadaan dimana Anggi bisa melebur dalam sebuah lingkungan pendidikan
yang sangat luar biasa.
Sampai saat ini pun, ibu Sumi juga
tak berubah. Ibu Sumi tetap menjadi ibu dengan sejuta kasih sayang dan
pengorbanan untuk anaknya. Darinya Anggi belajar banyak hal dan Ibunya lah yang
akan menjadi inspirasi terbesar untuknya, ketika sosok ibu itu akan Anggi
sandang di kemudian hari. Tak peduli apapun keadaan ibu Sumi saat ini, Anggi
akan tetap menyayanginya. Anggi mengucapkan terima kasih kepada ibunya untuk
segalanya. Dan Anggi mengatakan “Ibuku wanita tanpa gelar.”
Ibu adalah wanita perkasa yang telah
melahirkan, mengasuh dan mendidik kita penuh cinta. Kedudukan seorang ibu
amatlah mulia. Tak ada satupun anak di dunia yang tak merindukan hadirnya
seorang ibu. Sekalipun sang anak telah beranjak dewasa dan mungkin terbang
menjauh darinya, kerinduan padanya akan selalu menjadi denyut di nadinya.
Karena cinta, membuat seorang anak selalu terkenang sang ibu sepanjang
hidupnya.
Biodata Narasi:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar