Sabtu, 10 Juni 2023

CERPEN "MURID PINDAHAN"

 Murid Pindahan 

Oleh: Zulfa Ulin Nikmah

Aluna Fayre Davinia itulah namanya.

 

Gadis yang baru menginjak 17 tahun itu memiliki paras cantik nan menawan dengan model rambut medium-length layered berwarna hitam mengkilap. Ia terlahir dari keluarga yang berkecukupan dan ia merupakan anak satu satunya dari keluarga yang bahagia atau bisa disebut keluarga sakinah hehehe. Tapi sayangnya, ia harus berpindah ke Jakarta karna ayahnya yang sedang kerja di sebuah perusahaan yang ada di Jakarta dan terpaksa Aluna harus melanjutkan sekolahnya disini.

Hingga suatu pagi, terlihat Aluna yang sedang tertidur dengan jendela yang masih tertutup dan tidak membiarkan cahaya masuk sedikitpun. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang yang sedang berjalan menuju kamarnya.

Tuk Tuk Tuk (suara langkah kaki)

 

“Aluna sayang, ayo bangun sudah pagi” Ucap mamanya yang mencoba membangunkan Aluna sambil mengusap kepalanya

Tanpa ada jawaban, Aluna hanya membalikkan badan membelakangi mamanya.

 

“Sayang, cepat bersiap ini hari pertama mu sekolah kalau tidak kau akan terlambat” lanjut namanya dengan nada lembut

Aluna yang mendengar itu sontak kaget karena ia lupa bahwa hari ini adalah hari pertamanya menjadi anak baru.

“oh iya ma” jawab Aluna dengan nada kaget sambil berposisi duduk “iya makanya mandi sana, selesai mandi langsung sarapan”

Tanpa basa-basi mamanya pun pergi meninggalkan Aluna.

 

Aluna segera bangun dari tempat tidurnya dan langsung menuju kamar mandi dan bersiap, sementara mamanya sedang menyiapkan bekal untuk dibawa ke sekolah.


15 menit berlalu, Aluna pun tak kunjung keluar dari kamarnya “sayang, ayo cepat” teriak mamanya

Tak berselang lama, gadis dengan seragam abu-abu nya itu baru selesai bersiap untuk ke sekolah, ia pun langsung sarapan dan bersiap untuk berangkat

“Bekalnya juga jangan lupa dimakan” sambil memberikan bekal “Iya ma, aku berangkat dulu” jawab Aluna buru-buru

Aluna pun berangkat menggunakan angkutan umum

 

(Oh iya, mama Aluna hanya seorang ibu rumah tangga sedangkan ayahnya adalah seorang karyawan di perusahaan jaya abadi)

Pagi itu adalah hari pertama Aluna masuk SMA Trisatya, baginya semua terasa asing karena menjadi murid pindahan memanglah harus bisa beradaptasi dengan lingkungan baru.

 

 

Di sekolah

 

Sesampainya di sekolah Aluna pun langsung mencari ruang guru, saking sibuknya mondar- mandir sampai-sampai Aluna tidak sengaja menabrak seseorang yang sedang berjalan didepannya dan alhasil mereka berdua pun terjatuh.

Bruk

 

Aluna pun langsung berdiri untuk meminta maaf kepada orang tersebut

 

“M-maaf aku tidak sengaja” ucapnya dengan raut wajah penuh ketakutan

 

“maaf-maaf, apa kamu tidak punya mata” ucap laki-laki itu sambil berdiri tepat dihadapan Aluna

“aku benar-benar tidak sengaja, sekali lagi aku minta maaf”

 

Belum selesai ngomong, tiba-tiba ke 2 temannya menghampiri laki-laki tersebut “Gavin” kata temannya sambil menepuk pundak Gavin

“ini ada apa?” tanya temannya kebingungan


“Gapapa, udah kita cabut aja males gue ketemu sama cewek ini” ucap Gavin kepada temannya

Mereka pun pergi meninggalkan Aluna sendiri, Aluna hanya bisa menghela nafas lalu melanjutkan untuk mencari ruang guru

*** Gavin dan ke 2 temannya berjalan menuju kelas

“dia siapa? Sebelumnya kita tidak bertemu dia di sekolah ini” tanya temannya “entah siapa cewek ngeselin itu dan aku tidak peduli siapa dia” jawab Gavin

Akhirnya mereka sampai di kelas.

 

Aluna yang kebingungan mencari ruang guru, akhirnya dibantu oleh anak kelas lain yang kebetulan lewat

 

 Di kelas

 

Gavin dan ke 2 temannya tengah asik ngobrol dengan posisi temannya duduk di atas bangku, Tanpa di sengaja mereka mendengar bahwa di kelasnya akan ada murid baru. Waktu terus berjalan, terdengar suara langkah kaki mereka tau bahwa seseorang sedang menuju ke kelas nya. Tak lama kemudian pak Harto memasuki kelas bersama seorang gadis. Sontak semua terkejut dengan kecantikan Aluna tetapi tidak dengan Gavin yang hanya menampakkan wajah biasa (aslinya sih terpesona juga, tapi ia adalah orang yang harus cool di depan temannya)

“Selamat pagi anak-anak” sapa pak Harto “Pagi pak” jawab semua murid bebarengan “oh ya, anak-anak kita kedatangan murid baru”

“Oh ternyata dia anak baru itu pantes dia kayak asing di sekolah kita” bisik temannya kepada Gavin

Tak ada jawaban dari Gavin

 

“kalau diliat liat, dia cantik juga ya gak?” bisik temannya

 

Gavin mengangkat satu alis nya dan menatap Aluna sebentar lalu dia berkata...


“Dia memang cantik, tapi ngeselin” ucapnya dalam hati Gengsi kepada temannya sudah menjadi kebiasaan bagi dirinya!

Gavin hanya terdiam dan ia membuang muka ketika Aluna sekilas melihatnya.

 

“apa dia masih marah karna kejadian tadi, tapi bukannya aku sudah minta maaf” batin Aluna

“Sekarang kamu perkenalkan diri kamu terlebih dahulu” ujar pak Harto kepada Aluna

 

“pagi semua, perkenalkan namaku Aluna Fayre Davinia kalian bisa memanggilku Aluna. Aku pindahan dari SMA Wijaya, aku harap kita bisa berteman dekat”

“halo Aluna” jawab semua murid

 

“selamat datang di kelas kami” ucap ketua kelas “Terimakasih semua” jawabnya

Lalu pak Harto menyuruh Aluna untuk duduk di bangku kosong yang terletak di paling belakang, tepat di belakang Gavin.

Usai perkenalan itu, kelas berjalan seperti biasanya. Sampai pada saat bel istirahat berbunyi, semua murid berjalan keluar kelas kecuali Gavin beserta temannya. Mereka menghampiri Aluna yang masih berada di tempat duduknya tetapi tidak dengan Gavin yang sibuk membaca novel. Dingin, cuek! Itulah sifatnya

“eh, kamu yang tadi pagi bersama Gavin itu kan? Oh ya siapa namamu tadi?” tanya rio, teman Gavin

“aluna” jawab singkat

 

“oh ya gue Rio, ini Adit, dan dia Gavin” sambil menunjuk satu-persatu

 

Usai perkenalan mereka, Gavin berdiri dan mengajak ke 2 temannya ke kantin. Aluna hanya diam di kelas, karena ia membawa bekal.

(Skip)

 

Pukul sudah menunjukkan jam 15.00, sudah waktunya pulang


Aluna pulang bersama teman barunya, Sasa. Pada saat istirahat tadi, banyak yang menghampiri Aluna untuk mengajak kenalan termasuk Sasa, mereka saling ngobrol satu sama lain layaknya teman dekat. Ia pun pulang bersama karena kebetulan mereka satu arah

 

 

Di perjalanan pulang

 

“Waktu itu aku mengira menjadi murid pindahan adalah hal yang tidak menyenangkan, aku pikir aku bakal di cuekin ternyata tidak” batinnya

Meskipun tadi pagi ia melakukan kesalahan kepada Gavin tapi Aluna sangat senang bisa mempunyai teman baru

***

 

Keesokan harinya, Semua berjalan seperti biasanya. Hari itu adalah pelajaran matematika, pelajaran yang sangat membosankan. Gavin yang mengantuk akhirnya terlelap tidur. Aluna hanya memandanginya dari belakang

“aduh, ini dia kenapa tidur. Kalau pak Harto sampai liat bisa-bisa dia di hukum” ucapnya dalam hati

Aluna hanya bingung, harus membangunkannya atau tidak. Jika ia membangunkannya, ia takut Gavin akan marah kepadanya lagi. Akhirnya Aluna membisikkan kepada Rio untuk segera membangunkannya. Gavin pun terbangun, ia mencoba untuk menahan kantuknya sampai bel istirahat berbunyi.

Setelah beberapa jam mengisi memori otak, bel istirahat berbunyi. Aluna keluar kelas bersama Sasa dan beberapa murid lainnya menuju kantin sekolah. Hari itu Aluna tidak membawa bekal karena ia ingin makan di kantin bersama temannya.

 

 Di kantin

 

Aluna tengah asik ngobrol dengan Sasa di bangku kantin, tiba-tiba kelopak matanya tertuju pada Gavin yang duduk di bangku lainnya, tepat di hadapan bangku Aluna. Entah mengapa sifat Gavin membuat Aluna semakin ingin tau tentang dia. Lalu Aluna bertanya...

“apa kau kenal dia” tanya Aluna sambil menatap gavin yang asik tertawa dengan temannya


Sasa yang melihat arah mata aluna, ia pun tau siapa yang dimaksud Aluna. “Oh Gavin” jawab Sasa

Ia pun menceritakan tentang Gavin

 

Gavin afranda itulah namanya, laki-laki yang terkenal badboy di sekolah. Cuek memanglah sifatnya beda dengan temannya. Lelaki bertubuh agak kekar itu sering kali memasuki sekolah tanpa atribut lengkap ditambah selalu mengeluarkan baju seragamnya. Ia terlahir dalam keluarga kaya raya yang mempunyai bisnis dimana-mana. Pasalnya dia adalah anak dari pemilik perusahaan terbesar di Jakarta. Banyak cewek yang mendekatinya tapi tidak ada satu pun yang bisa membuat hatinya luluh. Seseorang dengan sikap 7 kulkas itu mana bisa cair?

Tentu saja bisa

 

***

 

Sepulang sekolah Aluna ada janji dengan Sasa. Dia akan mengajaknya mengelilingi komplek sebelah menggunakan sepeda. Sungguh tidak menyangka, di tengah perjalanan ke rumah sasa hujan turun begitu deras, terpaksa Aluna harus memarkirkan sepedanya dan berteduh di sebuah warung.

Tak berselang lama hujan mulai reda, Aluna pun kembali melanjutkan perjalanannya. Hujan turun yang membuat genangan air di beberapa tempat itu membuat Aluna menerobos sampai- sampai ia tidak melihat ada seseorang yang baru saja keluar dari sebuah mobil, dan alhasil percikan air itu mengenai baju orang tersebut.

Aluna yang sadar akan ulahnya, ia pun berhenti dan meminta maaf. Tak di sangka ternyata... “Lo lagi?” ucap Gavin marah

“gavin? Maaf aku tidak melihat seseorang makanya tadi aku menerobos air ini” ucap Aluna

“Meskipun tidak ada seseorang, apa kamu tidak liat ada mobil? Harusnya kamu mikir apa gunanya menerobos genangan air, yang ada itu bisa bikin celaka tau gak?”

Ucapnya seakan menceramahi Aluna

 

“liat nih gara-gara kamu baju gue jadi basah!” sambil memperlihatkan bajunya Pada kejadian itu Aluna benar-benar merasa bersalah karena ia sangat ceroboh.

(Skip)


Hari kelima, Aluna berangkat lebih pagi karena hari itu adalah pelajaran olahraga.

 

Ditengah lapangan sudah ada Gavin yang sedang bermain basket dengan murid lainnya. Dari kejauhan terlihat Aluna melambaikan tangan kepada Sasa yang sudah berada di lapangan, ia pun menghampirinya berjalan melewati pinggiran lapangan. Tak disangka, bola yang dilempar Gavin mengenai kepala Aluna. Ia pun jatuh pingsan

“Aluna” teriak Sasa dari kejauhan lalu menghampirinya

 

Lalu Gavin segera menggendongnya ala bridal style, dan membawa nya ke UKS.

 

***

 

Usai diperiksa, Gavin menyuruh Sasa untuk kembali ke lapangan. Sasa pun langsung meng iyakan. Kini hanya tinggal mereka berdua di UKS. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Aluna sadar, ia kebingungan melihat sekelilingnya.

“aku dimana?” tanya Aluna sambil memegang kepala, merasa kesakitan akibat benturan tadi

“Kamu sekarang di UKS, kamu gapapa kan?” tanya balik Gavin gelisah

 

Aluna hanya mengangguk, ia pun ingin beranjak dari tempat tidurnya, tetapi di halangi oleh gavin

“kamu tidak usah kemana-mana!” ujar Gavin “aku mau nyusul Sasa ke lapangan” ucap Aluna

“tunggu kamu sembuh, baru kamu boleh ke lapangan” tegas gavin “tapi aku sudah sembuh!” jawab Aluna yang masih menahan sakitnya

Gavin tidak memperdulikan itu, lalu ia mengambil segelas air putih yang ada di bangku sebelah tempat tidur.

“Kenapa kamu mau membantuku?” tanya aluna

 

“ini salahku, jadi tanggung jawabku untuk membawamu ke UKS” jawab Gavin sambil memberikan segelas air putih

“ternyata dibalik sikapnya yang cuek, ia memiliki sifat yang peduli” batin Aluna “apa kamu sudah tidak marah lagi denganku?” tanya Aluna lagi


“marah?” tegas gavin

 

“ya karna kejadian kemaren” jawab Aluna

 

Aluna pikir sikap Gavin yang cuek itu karna ia marah kepadanya, ternyata itu hanya bawaan dari sifatnya yang dingin

“yang kemarin, tidak usah di bahas lagi. Biarlah itu berlalu” Gavin mempertegas Aluna sungguh tidak menyangka, Gavin tidak seperti yang ia pikirkan.

Sejak saat itu Gavin dan Aluna sering ngobrol bahkan Gavin sering mengajaknya pulang bareng.

 

 

(Skip)

 

Tak terasa Aluna sudah hampir 3 bulan, ia pindah di sekolah barunya. Ia dan Gavin sudah semakin dekat layaknya orang pacaran bahkan temannya Sasa kaget dengan berita kedekatan Gavin dan Aluna. Bukan hanya Sasa bahkan satu sekolah nya pun syok dengan sikap Gavin yang sekarang!

Pagi nan cerah Gavin mengajak Aluna ke sebuah taman, dengan pemandangan yang indah dikelilingi capung yang berterbangan. Mereka berdua pun duduk berdampingan di sebuah kursi panjang berwarna putih. Aluna tidak sadar, Gavin mengeluarkan sebuah totebag yang katanya berisi hadiah dan memberikannya kepada Aluna.

“Gavin, kemaren kamu sudah memberikan ku boneka, sekarang apa lagi?” ucap Aluna merasa gak enak

“buka aja” kata Gavin

 

Lalu Aluna membuka isi dari totebag itu, yang ternyata terdapat sebuah box kecil. Aluna menatap gavin seolah kebingungan ditambah penasaran dengan isi box itu, lalu ia pun membukanya. Ternyata isinya...

“kalung?!” Aluna kaget

 

“gimana kamu suka?” tanya Gavin sambil menatap Aluna

 

“nggak-nggak, mending kamu simpan aja ini” aluna memberikan box yang berisikan kalung itu


“Kenapa Al?” tanya Gavin

 

“Ini pasti mahal, mending...” jawab Aluna terpotong

 

“Shuuttt” kata Gavin dengan tangannya menutupi mulut Aluna “aku ingin kamu memakai kalung pemberian dari ku” ucap Gavin “t-tapi” kata aluna terpotong lagi

“shuuuttt, gak ada penolakan”

 

Aluna tau Gavin memanglah keras kepala. Ia pun menerima pemberian nya dan Gavin memakaikan kalung tersebut. Kalung berbentuk bulan itu terlihat begitu indah ketika Aluna memakainya ditambah dengan kecantikan Aluna.

“Cantik!” kata Gavin sambil menatap Aluna

 

Aluna tersipu malu dengan perkataan Gavin, Aluna hanya tersenyum. “Terimakasih Gavin” ucap Aluna sambil memegang kalung yang ia pakai

Tak sampai disitu, mereka lalu pergi mengelilingi kota. Ya bisa dibilang jalan-jalan!

 

 

 

Tak terasa hari sudah sore, Gavin mengantar Aluna pulang ke rumahnya dan Aluna kaget dengan keadaan mamanya yang sudah tergeletak dibawah lantai.

“Mama” teriak Aluna

 

“apa yang terjadi” ucap Gavin

 

“Gavin, tolong bawa mana ke rumah sakit” ucap Aluna sambil menangis “iya, ayahmu dimana?” tanya Gavin

“ayah masih kerja” jawab Aluna

 

Lalu mereka segera membawanya ke rumah sakit.

 

Usai diperiksa, dokter mengatakan bahwa mama Aluna mengalami stroke. Aluna syok mendengar hal itu, air mata terus membasahi pipi Aluna. Gavin berusaha untuk menenangkan Aluna tetapi aluna tetap larut dalam kesedihannya.


Sejak saat itu Aluna pikir ia harus bekerja karena penghasilan ayahnya saja tidak cukup untuk biaya pengobatan mamanya. Gavin selalu menemani Aluna dalam keadaan suka maupun duka. Tidak mempunyai hubungan spesial tapi mereka begitu erat seperti tidak bisa di pisahkan.

 

 

 

Bionarasi


 

 

Zulfa ulin nikmah, lahir di Bangkalan pada 7 April 2004. Saya suka Berhalusinasi dan berimajinasi, maka Kesukaan itu saya jadikan sebuah cerita Yang mungkin bisa jadi hiburan bagi Orang lain. Jejak bisa di temukan di ig @zulf4_u

 

Pesan: “Teruslah menginspirasi banyak orang, meskipun melalui cerita”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUISI " MENUJU CAHAYA"

  MENUJU CAHAYA Karya ilna lutfiana  Dalam gelap yang pernah datang Aku jatuh,nyaris hilang Namun bara kecil di dada Tak pernah padam,terus ...