Murid Pindahan
Oleh: Zulfa Ulin Nikmah
Aluna Fayre Davinia
itulah namanya.
Gadis yang baru menginjak 17 tahun itu memiliki paras
cantik nan menawan
dengan model rambut medium-length layered berwarna
hitam mengkilap. Ia terlahir dari keluarga yang berkecukupan dan ia merupakan anak satu satunya dari keluarga
yang bahagia atau bisa disebut
keluarga sakinah hehehe. Tapi sayangnya, ia harus berpindah ke Jakarta karna ayahnya yang sedang kerja di sebuah
perusahaan yang ada di Jakarta dan terpaksa Aluna harus melanjutkan sekolahnya disini.
Hingga suatu
pagi, terlihat Aluna yang sedang
tertidur dengan jendela
yang masih tertutup
dan tidak membiarkan cahaya masuk sedikitpun. Tiba-tiba terdengar suara
langkah kaki seseorang yang sedang berjalan menuju kamarnya.
Tuk Tuk Tuk (suara langkah
kaki)
“Aluna sayang,
ayo bangun sudah
pagi” Ucap mamanya
yang mencoba membangunkan Aluna sambil mengusap
kepalanya
Tanpa ada jawaban, Aluna hanya
membalikkan badan membelakangi mamanya.
“Sayang, cepat bersiap
ini hari pertama mu sekolah kalau tidak kau akan terlambat” lanjut
namanya dengan nada lembut
Aluna yang mendengar itu sontak kaget
karena ia lupa bahwa hari ini adalah
hari pertamanya menjadi
anak baru.
“oh iya ma” jawab
Aluna dengan nada kaget sambil berposisi duduk
“iya makanya mandi sana, selesai
mandi langsung sarapan”
Tanpa basa-basi
mamanya pun pergi meninggalkan Aluna.
Aluna segera
bangun dari tempat
tidurnya dan langsung
menuju kamar mandi
dan bersiap, sementara mamanya sedang menyiapkan
bekal untuk dibawa
ke sekolah.
15 menit berlalu,
Aluna pun tak kunjung keluar
dari kamarnya “sayang, ayo cepat” teriak
mamanya
Tak berselang
lama, gadis dengan
seragam abu-abu nya itu baru selesai bersiap
untuk ke sekolah, ia pun langsung sarapan dan bersiap untuk
berangkat
“Bekalnya juga jangan lupa dimakan” sambil memberikan bekal “Iya ma, aku berangkat dulu” jawab Aluna buru-buru
Aluna pun berangkat menggunakan angkutan umum
(Oh iya, mama Aluna hanya seorang
ibu rumah tangga
sedangkan ayahnya adalah
seorang karyawan di perusahaan
jaya abadi)
Pagi itu adalah hari pertama Aluna masuk SMA Trisatya, baginya semua terasa asing karena
menjadi murid pindahan
memanglah harus bisa beradaptasi dengan lingkungan baru.
Di sekolah
Sesampainya di sekolah Aluna pun langsung mencari ruang guru, saking
sibuknya mondar- mandir
sampai-sampai Aluna tidak sengaja menabrak seseorang yang sedang berjalan didepannya dan alhasil mereka berdua pun terjatuh.
Bruk
Aluna pun langsung berdiri
untuk meminta maaf kepada orang
tersebut
“M-maaf aku tidak sengaja”
ucapnya dengan raut wajah penuh ketakutan
“maaf-maaf,
apa kamu tidak punya mata” ucap laki-laki itu sambil berdiri tepat dihadapan Aluna
“aku benar-benar tidak sengaja, sekali lagi aku minta
maaf”
Belum
selesai ngomong, tiba-tiba ke 2 temannya menghampiri laki-laki tersebut “Gavin”
kata temannya sambil menepuk pundak Gavin
“ini ada apa?” tanya temannya kebingungan
“Gapapa, udah kita cabut aja males gue ketemu
sama cewek ini” ucap Gavin kepada temannya
Mereka pun pergi meninggalkan Aluna sendiri, Aluna hanya bisa menghela nafas lalu melanjutkan untuk mencari ruang
guru
*** Gavin dan ke 2 temannya berjalan
menuju kelas
“dia siapa? Sebelumnya kita tidak bertemu
dia di sekolah ini” tanya temannya “entah
siapa cewek ngeselin
itu dan aku tidak peduli
siapa dia” jawab Gavin
Akhirnya mereka sampai
di kelas.
Aluna yang kebingungan mencari
ruang guru, akhirnya
dibantu oleh anak kelas lain yang kebetulan lewat
Di kelas
Gavin dan ke 2
temannya tengah asik ngobrol dengan posisi temannya duduk di atas bangku, Tanpa di sengaja mereka mendengar bahwa di
kelasnya akan ada murid baru. Waktu terus berjalan,
terdengar suara langkah kaki mereka tau bahwa seseorang sedang menuju ke kelas nya. Tak lama kemudian pak Harto memasuki
kelas bersama seorang gadis. Sontak semua terkejut dengan
kecantikan Aluna tetapi tidak dengan Gavin yang hanya menampakkan wajah
biasa (aslinya sih terpesona juga,
tapi ia adalah
orang yang harus cool di depan temannya)
“Selamat
pagi anak-anak” sapa pak Harto “Pagi pak” jawab semua murid bebarengan “oh ya, anak-anak
kita kedatangan murid baru”
“Oh ternyata dia anak baru itu pantes dia kayak asing di sekolah kita” bisik temannya
kepada Gavin
Tak ada jawaban dari Gavin
“kalau diliat
liat, dia cantik
juga ya gak?”
bisik temannya
Gavin mengangkat satu alis nya dan menatap
Aluna sebentar lalu dia berkata...
“Dia memang cantik, tapi ngeselin” ucapnya dalam hati Gengsi
kepada temannya sudah menjadi kebiasaan
bagi dirinya!
Gavin hanya terdiam dan ia membuang
muka ketika Aluna sekilas melihatnya.
“apa dia masih marah karna kejadian tadi, tapi bukannya
aku sudah minta maaf” batin
Aluna
“Sekarang kamu perkenalkan diri kamu terlebih
dahulu” ujar pak Harto kepada Aluna
“pagi
semua, perkenalkan namaku Aluna Fayre Davinia kalian bisa memanggilku Aluna.
Aku pindahan dari SMA
Wijaya, aku harap kita bisa berteman dekat”
“halo Aluna”
jawab semua murid
“selamat datang
di kelas kami” ucap ketua kelas
“Terimakasih semua” jawabnya
Lalu
pak Harto menyuruh Aluna untuk duduk di bangku kosong yang terletak di paling
belakang, tepat di belakang Gavin.
Usai perkenalan itu, kelas berjalan
seperti biasanya. Sampai pada saat bel istirahat
berbunyi, semua murid
berjalan keluar kelas kecuali Gavin beserta temannya. Mereka menghampiri Aluna yang masih berada di tempat duduknya
tetapi tidak dengan Gavin yang sibuk membaca novel. Dingin, cuek! Itulah sifatnya
“eh, kamu yang tadi pagi bersama
Gavin itu kan? Oh ya siapa namamu tadi?” tanya
rio, teman Gavin
“aluna” jawab singkat
“oh ya gue Rio, ini Adit, dan dia Gavin” sambil menunjuk satu-persatu
Usai perkenalan mereka,
Gavin berdiri dan mengajak ke 2 temannya
ke kantin. Aluna
hanya diam di kelas,
karena ia membawa bekal.
(Skip)
Pukul sudah menunjukkan jam 15.00, sudah waktunya pulang
Aluna
pulang bersama teman barunya, Sasa. Pada saat istirahat tadi, banyak yang menghampiri Aluna untuk mengajak kenalan
termasuk Sasa, mereka saling ngobrol satu sama lain layaknya teman dekat. Ia pun pulang
bersama karena kebetulan mereka satu arah
Di perjalanan pulang
“Waktu
itu aku mengira menjadi murid pindahan
adalah hal yang tidak menyenangkan, aku pikir aku bakal di cuekin ternyata
tidak” batinnya
Meskipun tadi pagi ia melakukan kesalahan
kepada Gavin tapi Aluna sangat
senang bisa mempunyai teman baru
***
Keesokan
harinya, Semua berjalan seperti biasanya. Hari itu adalah pelajaran matematika, pelajaran
yang sangat membosankan. Gavin yang mengantuk
akhirnya terlelap tidur.
Aluna hanya memandanginya dari belakang
“aduh,
ini dia kenapa tidur. Kalau pak Harto sampai liat bisa-bisa dia di hukum” ucapnya
dalam hati
Aluna hanya bingung, harus membangunkannya atau tidak. Jika ia membangunkannya, ia takut Gavin akan
marah kepadanya lagi. Akhirnya Aluna membisikkan kepada Rio untuk segera membangunkannya. Gavin pun
terbangun, ia mencoba untuk menahan kantuknya
sampai bel istirahat
berbunyi.
Setelah
beberapa jam mengisi memori otak, bel istirahat berbunyi. Aluna keluar kelas bersama
Sasa dan beberapa
murid lainnya menuju kantin sekolah.
Hari itu Aluna tidak membawa
bekal karena ia ingin makan
di kantin bersama temannya.
Di kantin
Aluna tengah asik ngobrol dengan Sasa di bangku kantin,
tiba-tiba kelopak matanya tertuju pada
Gavin yang duduk di bangku lainnya, tepat di hadapan bangku Aluna. Entah
mengapa sifat Gavin membuat Aluna semakin ingin
tau tentang dia. Lalu Aluna bertanya...
“apa kau kenal dia” tanya Aluna sambil
menatap gavin yang asik tertawa
dengan temannya
Sasa yang melihat arah mata aluna,
ia pun tau siapa yang dimaksud Aluna.
“Oh Gavin” jawab Sasa
Ia pun menceritakan tentang Gavin
Gavin afranda
itulah namanya, laki-laki yang terkenal badboy di sekolah. Cuek memanglah sifatnya
beda dengan temannya.
Lelaki bertubuh agak kekar itu sering kali memasuki sekolah
tanpa atribut lengkap ditambah selalu mengeluarkan baju seragamnya. Ia
terlahir dalam keluarga kaya raya
yang mempunyai bisnis dimana-mana. Pasalnya dia adalah anak dari pemilik perusahaan terbesar di Jakarta.
Banyak cewek yang mendekatinya tapi tidak ada satu pun yang bisa membuat hatinya
luluh. Seseorang dengan sikap
7 kulkas itu mana bisa cair?
Tentu saja bisa
***
Sepulang sekolah Aluna ada janji dengan Sasa. Dia akan mengajaknya
mengelilingi komplek sebelah menggunakan sepeda. Sungguh tidak menyangka, di tengah perjalanan ke rumah sasa
hujan turun begitu deras, terpaksa Aluna harus memarkirkan sepedanya dan
berteduh di sebuah warung.
Tak
berselang lama hujan mulai reda, Aluna pun kembali melanjutkan perjalanannya.
Hujan turun yang membuat genangan air
di beberapa tempat itu membuat Aluna menerobos sampai- sampai ia tidak melihat ada seseorang yang baru saja keluar
dari sebuah mobil, dan alhasil percikan air itu mengenai baju orang tersebut.
Aluna yang sadar akan ulahnya,
ia pun berhenti dan meminta
maaf. Tak di sangka ternyata... “Lo lagi?” ucap Gavin marah
“gavin?
Maaf aku tidak melihat seseorang makanya tadi aku menerobos air ini” ucap Aluna
“Meskipun tidak ada seseorang, apa kamu tidak liat
ada mobil? Harusnya kamu mikir apa gunanya menerobos genangan air, yang ada itu bisa bikin celaka
tau gak?”
Ucapnya seakan
menceramahi Aluna
“liat
nih gara-gara kamu baju gue jadi basah!” sambil
memperlihatkan bajunya Pada kejadian
itu Aluna benar-benar merasa bersalah karena ia sangat
ceroboh.
(Skip)
Hari kelima,
Aluna berangkat lebih pagi karena hari itu adalah pelajaran
olahraga.
Ditengah lapangan sudah ada Gavin yang sedang bermain basket dengan murid lainnya. Dari kejauhan
terlihat Aluna melambaikan tangan kepada Sasa yang sudah berada di lapangan, ia pun menghampirinya berjalan melewati
pinggiran lapangan. Tak disangka, bola yang dilempar Gavin mengenai kepala Aluna. Ia pun jatuh pingsan
“Aluna” teriak
Sasa dari kejauhan
lalu menghampirinya
Lalu Gavin segera
menggendongnya ala bridal
style, dan membawa
nya ke UKS.
***
Usai diperiksa, Gavin menyuruh Sasa untuk kembali
ke lapangan. Sasa pun langsung
meng iyakan. Kini hanya
tinggal mereka berdua di UKS. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya
Aluna sadar, ia kebingungan melihat sekelilingnya.
“aku dimana?”
tanya Aluna sambil memegang kepala,
merasa kesakitan akibat
benturan tadi
“Kamu sekarang
di UKS, kamu gapapa kan?” tanya balik Gavin gelisah
Aluna
hanya mengangguk, ia pun ingin beranjak dari tempat tidurnya, tetapi di halangi
oleh gavin
“kamu
tidak usah kemana-mana!” ujar Gavin “aku mau nyusul Sasa ke lapangan” ucap Aluna
“tunggu
kamu sembuh, baru kamu boleh ke lapangan” tegas gavin “tapi aku sudah sembuh!” jawab Aluna yang masih menahan sakitnya
Gavin
tidak memperdulikan itu, lalu ia mengambil segelas
air putih yang ada di bangku sebelah
tempat tidur.
“Kenapa kamu mau
membantuku?” tanya aluna
“ini salahku,
jadi tanggung jawabku
untuk membawamu ke UKS” jawab Gavin sambil
memberikan segelas air putih
“ternyata
dibalik sikapnya yang cuek, ia memiliki sifat yang peduli” batin Aluna “apa
kamu sudah tidak marah lagi denganku?” tanya Aluna lagi
“marah?” tegas gavin
“ya karna kejadian kemaren”
jawab Aluna
Aluna pikir sikap Gavin yang cuek itu karna ia
marah kepadanya, ternyata
itu hanya bawaan
dari sifatnya yang dingin
“yang kemarin, tidak usah di bahas lagi. Biarlah itu berlalu” Gavin mempertegas Aluna
sungguh tidak menyangka, Gavin tidak seperti
yang ia pikirkan.
Sejak saat itu Gavin dan Aluna sering ngobrol
bahkan Gavin sering
mengajaknya pulang bareng.
(Skip)
Tak terasa Aluna
sudah hampir 3 bulan, ia pindah di sekolah barunya. Ia dan Gavin sudah semakin
dekat layaknya orang pacaran bahkan temannya Sasa kaget dengan
berita kedekatan Gavin dan Aluna. Bukan hanya Sasa bahkan
satu sekolah nya pun syok dengan sikap Gavin
yang sekarang!
Pagi
nan cerah Gavin mengajak Aluna ke sebuah taman, dengan pemandangan yang indah dikelilingi capung yang berterbangan.
Mereka berdua pun duduk berdampingan di sebuah
kursi panjang berwarna putih. Aluna tidak sadar, Gavin mengeluarkan
sebuah totebag yang katanya berisi
hadiah dan memberikannya kepada Aluna.
“Gavin, kemaren
kamu sudah memberikan ku boneka, sekarang
apa lagi?” ucap Aluna
merasa gak enak
“buka aja” kata Gavin
Lalu
Aluna membuka isi dari totebag itu, yang ternyata terdapat sebuah box kecil. Aluna menatap gavin
seolah kebingungan ditambah
penasaran dengan isi box itu, lalu ia pun
membukanya. Ternyata isinya...
“kalung?!” Aluna
kaget
“gimana kamu suka?” tanya Gavin sambil
menatap Aluna
“nggak-nggak, mending kamu simpan aja ini” aluna memberikan box yang berisikan
kalung itu
“Kenapa Al?” tanya
Gavin
“Ini pasti mahal, mending...” jawab Aluna terpotong
“Shuuttt”
kata Gavin dengan tangannya menutupi mulut Aluna “aku ingin kamu memakai kalung
pemberian dari ku” ucap Gavin
“t-tapi” kata aluna terpotong
lagi
“shuuuttt, gak ada
penolakan”
Aluna tau Gavin
memanglah keras kepala. Ia pun menerima pemberian nya dan Gavin memakaikan kalung tersebut. Kalung berbentuk bulan itu terlihat
begitu indah ketika Aluna memakainya ditambah dengan
kecantikan Aluna.
“Cantik!” kata Gavin sambil
menatap Aluna
Aluna
tersipu malu dengan perkataan Gavin, Aluna hanya tersenyum. “Terimakasih Gavin” ucap Aluna sambil memegang
kalung yang ia pakai
Tak sampai
disitu, mereka lalu pergi mengelilingi kota. Ya bisa dibilang jalan-jalan!
Tak terasa hari sudah sore, Gavin mengantar Aluna pulang ke rumahnya dan Aluna kaget
dengan keadaan mamanya yang sudah tergeletak dibawah lantai.
“Mama” teriak
Aluna
“apa yang terjadi” ucap Gavin
“Gavin,
tolong bawa mana ke rumah sakit” ucap Aluna sambil menangis “iya,
ayahmu dimana?” tanya Gavin
“ayah masih kerja” jawab Aluna
Lalu mereka segera membawanya ke rumah sakit.
Usai
diperiksa, dokter mengatakan bahwa mama Aluna mengalami stroke. Aluna syok mendengar
hal itu, air mata terus membasahi pipi Aluna. Gavin berusaha untuk menenangkan Aluna
tetapi aluna tetap larut dalam kesedihannya.
Sejak saat itu Aluna pikir ia harus bekerja
karena penghasilan ayahnya
saja tidak cukup untuk biaya pengobatan mamanya. Gavin selalu
menemani Aluna dalam keadaan suka maupun duka.
Tidak mempunyai hubungan spesial tapi mereka begitu erat seperti tidak bisa di pisahkan.
Bionarasi
Zulfa ulin nikmah, lahir di
Bangkalan pada 7 April 2004. Saya suka Berhalusinasi dan berimajinasi, maka Kesukaan
itu saya jadikan sebuah
cerita Yang mungkin
bisa jadi hiburan
bagi Orang lain. Jejak bisa di temukan
di ig @zulf4_u
Tidak ada komentar:
Posting Komentar